Adakah Tujuan Setelah Kehidupan Ini?

Oleh : Bhikkhu Thitavamso Thera ,

SekWil SAGIN Sumatera Utara dan Aceh


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

MUNGKIN sebagian orang berpikir ber­buat baik demi terlahir dialam surga, dan bagi orang yang selalu berbuat tidak baik akan terlahir dialam neraka. Lalu apa­kah benar setelah berakhirnya kihi­dupan kita ini hanya ada dua pilihan aja yang akan ditempati setelah kehidupan ini?

Di dalam penjelasan Agama Buddha kita tidak hanya mengenal surga dan ne­raka saja, akan tetapi kita mengenal 31 alam kehidupan dan Nibbanna yang mut­lak kekal abadi, didalam 31 alam kehi­du­pan dibagi menjadi tiga, yaitu; 4 ARUPA LOKA (Alam Tanpa Bentuk), 16 RUPALOKA (Alam Bentuk), 11­ KÃMALOKA (Alam Nafsu)

Ketiga bagian alam ini siapapun bisa me­nempati sesuai dengan benih yang di­tanamnya, tetapi ini semua tidaklah kekal adanya, suatu saat juga akan mengalami kematian. Anggapan bahwa alam setelah manusia mati nanti baik menuju ke alam menyedihkan maupun membahagiakan adalah kekal-abadi, ini tidaklah tepat. Ka­rena, masing-masing alam tersebut mem­punyai masa / waktu hidup sendiri-sendi­ri, dan setelah masa waktu untuk hidup di salah satu alam tersebut habis, maka semua makhluk yang belum mencapai “Ke­bebasan-Sempurna” (Nibbana) akan melanjutkan hidupnya di alam-alam yang lain.

Akan tetapi bagi seseorang yang terla­hir kembali di alam antara Arupaloka dan Rupaloka harus memenuhi syarat dalam pelatihan-pelatihan yang lebih baik dalam menjaga agar tidak berbuat jahat, menam­bah kebajikan, membersihkan hati dan pikirannya, karena bagi seseorang bisa ter­lahir di alam terrendah dibagian ini ha­ruslah meninggalnya dalam keadaan mi­miliki tingkatan batin masuk arus “Jana”, oleh karena itu ini sangatlah jarang dimi­liki seseorang tanpa melatih ketiga hal ter­sebut.

Bukan berati seseorang tanpa memiliki tingkatan “jana” tidak bisa terlahir dialam bahagia, asalkan dengan berbuat baik saja maka kita juga bisa terlahir dialam yang lebih bahagia tetapi sebatas dibagian alam “kamaloka” alam yang masih memiliki nafsu keinginan. “Kamaloka” dibagi menjadi dua. “Sugati” alam bahagia. Dan “Dugati” alam kurang bahagia.

Dugati terdiri dari empat alam yang kesemuanya merupakan tempat hidup yang menyedihkan. Alam ini disebut juga Empat Alam Kemerosotan ”Apâyabhû­mi” adalah suatu alam kehidupan yang tidak begitu ada kesempatan untuk ber­buat kebajikan. Delapan jenis suciwan tidak akan terlahirkan di alam ini, dan ti­dak ada satu makhluk pun dalam alam ini yang mampu meraih kesucian dalam kehi­dupan sekarang. Alam ini juga sering disebut sebagai ‘dugga-tibhûmi‘.

Yang menyebabkan suatu makhluk terlahir di alam “Dugati” / empat alam me­nyedihkan ( disebut juga “apaya-bhu­mi” ) adalah karena : Tidak pernah Ber­dana “bersedekah”. tidak pernah menjaga moralitas. Tidak memiliki rasa hormat kepada siapapun. Maka ia akan terlahir di salah satu dari 4 alam ini “Dugati”, ya­itu. “Niraya” tanpa kebahagiaan/Neraka, “Tiracchanayoni” alam binatang, “peta­yoni” alam peta/makhluk halus, “Asura­yoni” alam raksasa.

Sedangkan manusia “manussabhumi” merupakan salah satu alam dalam kea­daan bahagia “Sugati”, karena mengenali adanya kebahagiaan tetapi juga mengenal adanya kesedihan, dimana semua yang di­alam “sugati” ini memiliki tuju tingkatan selain alam manusia masih ada enam lagi yang mengondisikan lebih banyak keba­hagiaannya, yaitu. Cãtummahãrãjika, Tã­vatimsa, Yãma, Tusita, Nimmãnarati, Paranimmitavasavatti. Ini bisa diraih apabila kita berusaha selalu berbuat baik, maka dari itu perbuatan baik yang pernah dilakukan dipertahankan agar kita dapat merasakan alam sugati pada saat ini mau­pun dikemudian hari setelah kematian   nanti.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.

Sadhu Sadhu Sadhu