Aku Bosan Dengan Dhamma (Mengerti Apa Yang Dilakukan)

Judul di atas mungkin bisa menggusarkan sebagian orang, tetapi juga akan membuat sebagian lagi tersenyum simpul karena pernah atau bahkan sedang mengalami kebosanan itu. Kebosanan ini sebenarnya merupakan bagian dari tahapan-tahapan dalam mempelajari sesuatu. Bila terjadi kebosanan maka ini adalah sesuatu yang sangat wajar bagi seorang manusia.

Ini adalah salah satu jenis dukkha, yaitu suatu manifestasi dari nafsu keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang seharusnya didapatkan saat itu, tetapi tak sadar bahwa kemampuan yang dimiliki tidak menunjang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Ketidaksadaran ini menimbulkan pandangan salah yang beranggapan bahwa apa yang diinginkannya itu ternyata begitubegitu saja setiap harinya. Dia akhirnya merasa sudah memiliki dan mengetahui semuanya, menganggap sudah tidak ada lagi peningkatan yang bisa diraih. Sehingga tak heran bila kemudian timbul kebosanan terhadap hal yang semula diinginkannya itu.

Ini sering terjadi pada semua orang, demikian pula yang terjadi pada umat atau simpatisan Buddhis. Ketika pertama kali mengenal ajaran Buddha, akan sangat antusias dan bersemangat karena merasa mendapat sesuatu yang baru dan menarik. Dia menjadi bersemangat karena melihat ada hal baru yang dipandang bermanfaat dan dapat meningkatkan pengetahuannya.

Tetapi dengan berjalannya waktu dari hari ke hari, khususnya setelah merasa bahwa materi yang didengar dan dipelajari setiap harinya adalah sama, maka mulai timbul kebosanan. Dia menganggap sudah mengerti Buddha Dhamma, dan akhirnya mulai timbul kemalasan dalam dirinya untuk mendengarkan Dhammadesana. Pikirnya, “Ah, paling-paling juga begitu yang dibicarakan. Bosan aku.” Patah semangatlah dia. Apabila hal ini diteruskan dengan tanpa menyadarinya sebagai sebuah kondisi, maka patah semangat ini akan membuat seseorang menjadi meremehkan Dhamma. Ini berarti pula bahwa dia melepaskan kesempatan yang telah ditawarkan untuk menjadi bahagia dalam pelaksanaan Dhamma.

Mengapa ini bisa terjadi? Apakah memang benar Dhamma itu membosankan? Sebelum membahasnya, coba kita sebaiknya mulai mengerti dahulu apa yang disebut Dhamma, juga apa yang disebut Buddha Dhamma. Dhamma itu bukan persis sama seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha dalam sutta-sutta Tipitaka, tetapi adalah nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan kita. Dan nilai kebenaran ini diakui oleh Sang Buddha sebagai sangat buanyak sekali sampai-sampai kemampuan manusia awam tidak akan bisa mencapai semuanya.

Apabila mengerti bahwa Dhamma adalah nilai kebenaran dalam kehidupan kita, apakah Anda masih bisa merasa bosan ? Apakah Anda merasa setiap harinya tetap sama saja dan tidak ada perubahan atau perkembangan baru? Bukankah kehidupan di sekitar Anda adalah sebuah lahan belajar yang sangat luas dan selalu aktif, yang menunjukkan bahwa upaya melakukan eksplorasi tentang nilai-nilai kebenaran juga sangat luas sekali dan tidak terbatas? Karena setiap hari berinteraksi dengan lingkungan, maka di situlah terdapat Dhamma yang bisa dipelajari. Dan di sana pulalah kita bisa mempraktikkan apa yang telah ditunjukkan oleh Sang Buddha kepada kita semua, yakni Buddha Dhamma. Buddha Dhamma adalah sebuah nilai kebenaran tentang keberadaan diri manusia yang tidak menyadari akan perbuatannya yang bodoh dan menyeret dirinya sendiri ke dalam penderitaan. Inilah sebenarnya yang ingin ditunjukkan oleh Buddha untuk kita pelajari.

Juga sudah dikatakan pula oleh Sang Buddha bahwa Beliau hanya bisa menunjukkan jalan, kita sendirilah yang harus menjalaninya. Memang yang diajarkan hanya itu-itu saja kalau kita tidak mau mengeksplorasi ajaran dan arahan ini dalam praktik kehidupan kita sehari-hari. Tetapi apabila kita mampu menerapkannya dan memperhatikan apa yang terjadi baik dalam lingkungan maupun dalam diri kita sendiri, maka semangat dalam diri kita akan muncul kembali karena kita menemukan hal-hal sederhana yang menarik yang sebelumnya tidak kita ketahui bahwa inilah penyebab kita menderita.

Kalau mulai merasa bosan terhadap Dhamma, cobalah dengan mulai mengamati kebosanan itu sendiri. Apa yang bisa Anda terapkan dalam mengamati dukkha ini? Kalau memang merasa sudah mengetahui semua ajaran Dhamma maka Anda juga seharusnya juga mengetahui apa yang sedang terjadi dengan diri Anda sendiri. Inilah yang disebut kebodohan yang membuat seseorang merasa bahwa dia mengetahui segala sesuatunya tetapi pada kenyataannya dia sendiri tidak mengetahui apa yang sedang dia lakukan saat itu, bahkan tidak bisa menjawab kenapa dia bosan?

Padahal dalam Buddha Dhamma sudah dijelaskan dasar-dasar seseorang melakukan ini dan itulah yang menyebabkannya menderita. Tetapi hanya karena tidak memiliki kemampuan mengalami pencerahan dan menemukan jawaban seperti yang diucapkan oleh Sang Buddha maka semua itu dianggapnya tidak ada hubungan dan tidak ada manfaat. Sebenarnya, baik sadar atau tidak sadar, setiap hari kita menjalankan Dhamma tetapi terkadang kita tidak mau memperhatikannya, sehingga tak heran terkadang kita bahagia terkadang kita menderita. Dan masih banyak orang secara tidak sadar cenderung membuat dirinya sendiri menderita.

Jadi apabila Anda sekarang merasa bosan, ini adalah pertanda bagus karena Anda telah mulai menyadari kondisi tidak baik ini. Ini adalah langkah awal bagi seorang Buddhis untuk bangkit menuju tahap pencerahan selanjutnya, yakni kebangkitan untuk terlepas dari situasi tersebut. Cobalah cari alasan-alasan Anda menjadi bosan dan terapkan apapun yang bisa Anda mengerti dari teori-teori Dhamma yang sudah sering Anda dengarkan. Tapi ingat, jangan merasa sudah tahu jawabannya, tetapi bersikaplah jujur dan terbuka pada diri Anda sendiri.

Lalu cobalah mengeksplorasi semua pengetahuan Dhamma yang telah Anda dapatkan dengan mengamati apa yang terjadi tanpa harus dipengaruhi pemikiran-pemikiran awal. Bila tidak menemukan jawaban pada satu permasalahan, cobalah mencari titik perhatian yang lain yang mungkin ada pada permasalahan yang lain. Dengan demikian Anda akan menemukan ternyata bukan hanya ada satu Dhamma yang membuat Anda bosan, tetapi juga akan mendapatkan Dhamma-Dhamma lainnya yang akan membuat Anda terkejut dan tertawa dalam hati, “Mengapa ini tidak aku ketahui sebelumnya?”

Muatan pengetahuan Dhamma dalam pikiran sudah saatnya Anda tuangkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian bila timbul kebosanan maka ini justru menunjukkan indikasi kerinduan kepada Dhamma yang lebih tinggi, yaitu penerapan Dhamma pada diri sendiri yang akan membawa Anda menuju pembebasan yang sebenarnya. Inilah sebuah pencerahan terhadap situasi dan kondisi kehidupan yang dilakukan dan dialami oleh diri sendiri.

Demikianlah semoga dengan pengetahuan ini kita semua bisa lebih maju dalam Buddha Dhamma. Semoga kita semua berbahagia dalam “kebosanan” penerapan Dhamma di setiap relung kehidupan sehari-hari.

 

Sumber: Majalah Sinar Dharma Vol. 5 No. 1, Maret – Mei 2007