Angsa Emas

Suatu hari, terdapat seekor angsa yang memiliki bulu emas berkilau yang tinggal di suatu kolam. Terdapat sebuah rumah dekat kolam ini, yang ditinggali oleh seorang wanita miskin bersama dua putrinya. Saat itu rakyat sangat miskin dan hidup susah. Si angsa pun menemukan bahwa ibu ini dan kedua anaknya kesulitan mencari nafkah untuk hidup.

Ia berpikir, “Jika aku berikan salah satu bulu emasku, si ibu bisa menjualnya. Dia dan putrinya akan dapat hidup nyaman dengan uang hasil jualan.” Setelah itu, si angsa pun terbang ke rumah wanita miskin tersebut. Saat melihat angsa tersebut, si wanita berkata, “Kenapa kamu datang kemari? Kami tidak punya apapun untuk diberikan.”

Si angsa menjawab, “Aku datang bukan untuk mengambil, tapi untuk memberi. Aku tahu tentang keadaanmu. Oleh karena itu, aku akan berikan satu per satu bulu emasku dan kamu bisa menjualnya. Dengan uang hasil menjual bulu emas, kalian akan dapat hidup nyaman.” Setelah mengatakan hal ini, si angsa memberikan satu bulunya dan lalu terbang keluar. Hal ini berulang-ulang terus, dengan si angsa memberikan satu bulu setiap kalinya.

Dengan demikian, si ibu dan kedua putrinya bisa hidup senang dengan menjual bulu-bulu emas si angsa. Setiap bulu sudah cukup untuk menghidupi mereka bertiga. Akan tetapi, si ibu menjadi tamak dan ingin mendapat semua bulunya sekaligus. Suatu hari, dia berkata kepada kedua putrinya, “Kita tidak bisa memercayai angsa ini, karena kemungkinan suatu hari dia bisa saja tidak datang lagi. Kalau hal ini terjadi, kita akan jadi miskin kembali. Jadi lain kali saat angsa itu datang, kita akan ambil semua bulunya.”

Kedua putrinya yang polos menjawab, “Ibu, kalau kita berbuat begitu, si angsa akan merasa kesakitan. Kita tidak boleh menyakitinya”. Tapi si ibu bertekad untuk menangkap angsa tersebut saat dia datang berikutnya. Saat si angsa datang, ibu tersebut langsung menangkap dan mencabut semua bulunya. Tetapi tiba-tiba bulu-bulu emas si angsa semuanya berubah menjadi aneh. Si ibu pun terkejut melihatnya.

Si angsa emas pun berkata, “Ibu yang malang, aku ingin membantumu, tapi kau malah hendak membunuhku. Atas dasar kemauanku sendiri, aku memberimu bulu emas. Sekarang, aku rasa kamu tidak perlu bantuanku lagi. Oleh karena itu, bulu-buluku sekarang menjadi tidak lebih dari bulu ayam biasa. Aku akan pergi dari sini dan tidak pernah kembali lagi.” Si ibu merasa sangat menyesal dan memohon maaf atas perbuatannya. Si angsa emas hanya menjawab, “Janganlah tamak” dan terbang pergi.

Moral: Tidak ada gunanya terlalu tamak.

 

Sumber: terjemahan The Golden Swan dari www.culturalindia.net