Angulimala – Pembunuh 999 Orang Manusia yang Berhasil Jadi Arahat

Angulimala, bernama asli Ahimsaka, merupakan anak kepala pendeta di Kosala. Dia kemudian dikirim ke Taxila untuk belajar. Di sana dia sangat populer dan disenangi semua orang karena patuh dan pandai. Akan tetapi, banyak juga murid lain yang iri hati sehingga mulai memfitnah Ahimsaka bahwa dia berbuat asusila dengan istri gurunya.

Oleh karena itu, tak heran gurunya jadi marah besar dan akhirnya ingin mencelakakan Ahimsaka. Suatu hari si guru memanggil Ahimsaka dan mengatakan, “Ahimsaka, jika kamu membunuh 1000 orang, baik laki-laki maupun perempuan, akan saya ajarkan suatu ilmu yang tak ternilai kepada kamu.” Karena Ahimsaka seorang murid yang patuh, dia pun langsung melaksanakan perintah gurunya. Agar dia tidak lupa sudah berapa orang yang dibunuhnya, dia memotong satu jari dari tiap korbannya dan menggantungkannya di tali yang mengelilingi lehernya seperti kalung. Oleh karena itu, dia pun dipanggil Angulimala, yang memiliki arti “orang yang memakai kalung jari”.

Mendengar perbuatan Angulimala, Raja Pasenadi pun segera memerintahkan prajuritnya untuk menangkap dan menghukum pembunuh ini. Akan tetapi, setelah mengetahui ini, ibu Angulimala yang sangat menyayangi anaknya segera pergi menuju hutan tempat Angulimala biasanya terlihat untuk memperingatinya. Akan tetapi, sayangnya Angulimala saat itu sudah membunuh 999 orang dan tinggal satu lagi orang yang perlu dibunuhnya untuk menyelesaikan tugasnya. Sudah dipastikan kalau Angulimala bertemu ibunya, dia akan membunuhnya.

Untungnya, pagi itu Sang Buddha sedang melihat dengan mata batin (Dibbacakkhu). Saat dilihatNya kejadian ini, Sang Buddha pun langsung pergi ke hutan untuk mencegah Angulimala membunuh ibunya, karena jika kita membunuh orang tua kita sendiri, sudah pasti akan masuk ke neraka Avici.

Karena orang yang dilihat Angulimala duluan adalah Sang Buddha, dia pun segera mengejarnya dengan pedang di tangan, alih-alih ibunya sendiri. Akan tetapi, tak peduli seberapa cepat Angulimala berlari, dia tetap tidak bisa mengejar Sang Buddha. Sedangkan Sang Buddha terlihat dengan tenang berjalan santai.

Karena frustrasi, Angulimala pun berseru, “Berhenti!!!”. Sang Buddha pun balas berkata, “Aku sudah berhenti. Sekarang pun Aku berhenti. Kamu yang belum berhenti, Angulimala.”

“Jangan berbohong! Aku bisa melihat kamu belum berhenti berjalan!” kata Angulimala.

Sang Buddha membalas, “Aku sudah berhenti menyakiti dan menyiksa semua makhluk. Aku juga sudah mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk, kesabaran, dan pengetahuan sempurna dalam diriku. Sedangkan kamu belum berhenti menyakiti dan menyiksa semua makhluk. Kamu juga belum mengembangkan cinta kasih dalam dirimu. Oleh karena itu, kamulah yang sebenarnya belum berhenti.”

Segera setelah mendengar perkataan tersebut, Angulimala menjadi sadar dan langsung membuang pedangnya. Kemudian dia memohon agar dapat diterima sebagai bhikkhu kepada Sang Buddha. Akhirnya, dia ditahbiskan di tempat itu juga menjadi seorang bhikkhu.

Raja Pasenadi dan rombongannya yang sedang mencari Angulimala mendengar bahwa Angulimala sudah bertobat dan sekarang sudah menjadi bhikkhu. Mereka pun kembali pulang. Dengan demikian, Angulimala dengan giat dan tekun melatih diri dalam meditasi sehingga akhirnya dia berhasil menjadi Arahat.

Para bhikkhu yang lain bertanya kepada Sang Buddha, di manakah Angulimala akan terlahir selanjutnya karena karma buruknya yang begitu besar membunuh banyak orang. Akan tetapi, Sang Buddha menjawab karena Angulimala sudah mencapai Arahat, dia tidak akan terlahir di mana pun. Karena dia tidak memiliki teman yang baik, maka dia dulunya berbuat jahat. Setelah dia memiliki teman yang baik, dia pun dengan penuh perhatian dan mantap melaksanakan Dhamma, sehingga perbuatan jahatnya telah disingkirkan oleh kebaikan (Arahatta Magga).