Apa Itu Tripitaka?

Dalam Buddhisme, kata Tripitaka (bahasa Sansekerta yang artinya “tiga keranjang”; “Tipitaka” dalam bahasa Pali) merupakan koleksi naskah dan kitab Buddhis yang paling awal. Kitab ini mengandung teks yang paling dekat dan akurat dengan kata-kata yang diucapkan Sang Buddha dulu.

Teks dalam Tripitaka dibagi menjadi tiga bagian utama – Vinaya Pitaka, yang berisi aturan-aturan untuk bhiksu dan bhiksuni; Sutra Pitaka (bahasa Pali Sutta Pitaka), kumpulan ceramah Buddha dan pengikut-pengikut seniornya; serta Abhidhamma Pitaka, yang berisi interpretasi dan analisi konsep-konsep Buddhis.

Asal-usul Tripitaka

Setelah Sang Buddha Parinibbana (abad ke-4 SM), para murid utamanya berkumpul di Konsili Pertama untuk mendiskusikan masa depan Sangha dan Dhamma, dalam hal ini, ajaran Sang Buddha. Seorang bhiksu bernama Upali membabarkan kembali peraturan-peraturan untuk Sangha luar kepala, sedangkan sepupu sekaligus pelayan Sang Buddha, Ananda, mengulang semua yang pernah dibabarkan Sang Buddha. Konsili menerima pembabaran ulang ini sebagai ajaran Buddha yang akurat, dan akhirnya dikenal sebagai Sutra Pitaka dan Vinaya Pitaka.

Sedangkan Abhidharma adalah pitaka, atau “keranjang” ketiga yang dikatakan ditambahkan saat Konsili Ketiga, pada tahun 250 SM. Meskipun Abhidharma kemungkinan sudah dijalankan sejak saat kehidupan Sang Buddha, kitabnya sendiri ditulis setelah Buddha Parinibbana oleh penulis tak dikenal.

Variasi-variasi Tripitaka

Pada awalnya, kitab-kitab ini dilestarikan dengan cara dihapal dan diulang-ulang, dan saat Buddhisme tersebar ke seluruh Asia, kitab pun diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa berbeda, sehingga terdapat banyak variasi. Akan tetapi, sampai hari ini ada dua versi Tripitaka yang paling terkenal.

Pertama adalah Pali Kanon, yang merupakan Tripitaka dalam bahasa Pali. Kanon ini ditulis pada abad ke-1 SM di Sri Lanka. Sampai masa sekarang, Pali Kanon adalah kitab utama dalam Buddhisme Theravada.

Sedangkan untuk kitab berbahasa Sansekerta, sampai hari ini hanya ada beberapa bagian yang selamat. Tripitaka Sansekerta sekarang ini kebanyakan disusun dari terjemahan awal dalam bahasa Mandarin, sehingga disebut juga sebagai Tripitaka China.

Versi Sansekerta/China dari Sutra Pitaka dikenal juga dengan sebutan Agama. Terdapat dua versi Sansekerta dari Vinaya; satu disebut Mulasarvastivada Vinaya (yang diikuti oleh Buddhisme Tibet ) dan satu lagi yaitu Dharmaguptaka Vinaya (yang diikuti oleh aliran-aliran dalam Buddhisme Mahayana). Kedua versi ini dinamakan berdasarkan aliran-aliran Buddhisme awal yang melestarikannya.

Apakah Kitab-kitab ini Sama Isinya dengan Versi Original?

Jujur saja, kita tidak tahu jawaban pertanyaan ini. Saat dibandingkan Tripitaka Pali dengan China, rupanya ditemukan banyak perbedaan. Beberapa teks memang hampir mirip isinya, tapi ada juga yang malah jauh berbeda. Pali Kanon mengandung beberapa sutra yang tidak ditemukan mana pun. Dan kita juga tidak tahu seberapa banyak Pali Kanon sekarang yang sesuai dengan versi aslinya yang ditulis lebih dari 2000 tahun yang lalu, sebab sudah hilang dimakan waktu. Para ahli sampai sekarang masih memperdebatkan asal-usul dari banyaknya naskah dan kitab dalam agama Buddha.

Oleh karena itu, hal ini mengingatkan kita bahwa agama Buddha bukanlah agama yang “mengungkapkan” – artinya kitab bukanlah segalanya dan tidak dianggap sebagai kebijakan Tuhan. Sebagai umat Buddha, kita tidak boleh menerima setiap kata sebagai kebenaran mutlak. Sebaliknya, kita perlu mengandalkan pengertian dan wawasan kita sendiri serta guru kita untuk mengartikan kitab-kitab ini. Masih ingat Ehipassiko? Jangan hanya percaya bulat-bulat. Kita harus membuktikan kebenaran Dharma sendiri.