Apannaka Jataka: Melintasi Gurun

Ketika Sang Buddha sedang menetap di Vihara Jetavana dekat Savatthi, Anathapindika suatu hari mengunjungi Sang Buddha untuk memberi hormat. Para pelayannya membawa banyak sekali bunga-bunga, wewangian, mentega, minyak, madu, gula, kain, dan jubah. Kemudian, Anathapindika mempersembahkan semua barang-barang tersebut dan duduk dengan hormat. Pada saat itu, Anathapindika juga ditemani oleh lima ratus orang teman yang semuanya adalah pengikut ajaran sesat. Teman-temannya juga memberi hormat kepada Sang Buddha dan duduk dekat Anathapindika. Wajah Sang Buddha bersinar bagaikan bulan purnama, dengan tubuh-Nya dikelilingi oleh aura yang terang. Duduk di atas tempat duduk batu berwarna merah, Beliau bagaikan singa muda yang mengaum, dengan suara jernih dan mulia Beliau membabarkan Dhamma dengan sangat merdu dan enak didengar di telinga.

Setelah mendengarkan Dhamma yang dibabarkan Sang Buddha, lima ratus orang tersebut pun meninggalkan ajaran sesat mereka dan memohon perlindungan kepada Tiga Permata: Buddha, Dhamma, dan Sangha. Setelah itu, mereka secara rutin mengikuti Anathapindika mempersembahkan bunga-bunga dan dupa dan mendengarkan pembabaran Dhamma. Mereka berlatih kemurahan hati, melaksanakan sila, serta dengan setia menjalankan Hari Uposatha. Akan tetapi, segera setelah Sang Buddha meninggalkan Savatthi untuk kembali ke Rajagaha, orang-orang ini meninggalkan keyakinan baru mereka dan kembali ke ajaran mereka sebelumnya.

Tujuh atau delapan bulan kemudian, Sang Buddha pun kembali ke Jetavana. Sekali lagi, Anathapindika membawa teman-temannya untuk mengunjungi Sang Buddha. Mereka memberi hormat, tapi Anathapindika menjelaskan bahwa mereka telah meninggalkan perlindungan mereka dan kembali menganut kepercayaan lama mereka.

Sang Buddha lalu bertanya, “Apakah benar kalian telah meninggalkan perlindungan Tiga Permata untuk berlindung pada ajaran yang lain?” Suara Sang Buddha terdengar sangat jernih sebab selama berkalpa-kalpa, Beliau selalu berkata yang sebenarnya.

Saat orang-orang ini mendengar pertanyaan tersebut, mereka tidak mampu menutup-nutupi kebenarannya. “Benar, Bhagava, itu benar.” kata mereka.

“Para siswa,” kata Sang Budda “tidak ada di neraka terdalam dan surga tertinggi, tidak ada di ujung kanan dan kiri dunia yang tak terbatas ini, ada makhluk yang setara, apalagi lebih tinggi, daripada seorang Buddha. Keunggulan tak terhingga akan diperoleh mereka yang melaksanakan sila serta berbuat baik.”

Kemudian, Beliau menjelaskan keunggulan Tiga Permata. “Dengan berlindung pada Tiga Permata,” kata-Nya, “seseorang dapat melepaskan diri dari lingkaran kelahiran yang penuh derita.” Beliau lalu menjelaskan lebih lanjut bahwa meditasi dengan objek perenungan Tiga Permata dapat menuntun kita melalui empat tahap menuju Penerangan.

“Dengan meninggalkan perlindungan ini,” Beliau berkata, “kalian tentunya telah bertindak salah. Pada zaman dahulu, manusia yang salah menganggap apa yang bukanlah perlindungan sebagai perlindungan sesungguhnya, mereka ditimpa musibah. Mereka dimangsa oleh yakkha –siluman jahat – di gurun dan dibinasakan sepenuhnya. Sebaliknya, manusia yang berpegang teguh pada kebenaran, tidak hanya selamat, tapi juga berjaya di gurun yang sama.”

Anathapindika pun merangkupkan kedua tangan di depan dahi, mengutarakan pujian, dan memohon Sang Buddha untuk menceritakan kejadian tersebut.

“Untuk menghapus kebodohan di dunia ini dan mengatasi penderitaan,” seru Sang Buddha, “dengan melaksanakan Sepuluh Kesempurnaan selama berkalpa-kalpa, segala pengetahuan menjadi jelas bagi-Ku. Simak dan cermatilah.”

Setelah mendapatkan perhatian penuh dari semua orang, Sang Buddha pun membuat jelas apa yang selama ini tak mereka ketahui sebagai akibat dari kelahiran kembali, bak menguak cahaya bulan purnama dari balik awan.

lanjut —–>