Seri Tokoh Buddhis #13 – Ashin Jīñārākkhītā Mahasthavira

Ashin Jinarakkhita, seorang rohaniawan Buddhis yang sederhana, dapat menjadi teladan tentang bagaimana kata yang satu dengan tingkah laku, keuletan yang ikhlas, serta kemurahan hati yang penuh kelimpahan. Beliau merupakan pelopor kembalinya ajaran Buddha di Indonesia. Dapat dikatakan berkat jasanyalah agama Buddha saat ini kembali dikenal luas dan dapat ikut berkontribusi di Indonesia.

Ashin Jinarakkhita, atau yang sering dikenal oleh umat Buddha di tanah air sebagai “Biku Ashin” saja, lahir di Bogor pada tahun 1923. Setelah tamat sekolah menengah atas, beliau melanjutkan kuliah di HCS (sekarang ITB) di bidang ilmu pasti alam. Sekembalinya dari Belanda, Ashin Jinarakkhita yang waktu itu masih menggunakan nama Tee Boan An memilih menjadi Anagarika. Anagarika artinya pelayan Buddha yang menyebarkan ajaran Buddha, hidup selibat, namun belum menjadi Biku. Beliau menjadi guru di beberapa sekolah menengah di Jakarta. Di masa-masa itu, beliau aktif sebagai salah seorang pendiri Gabungan Tiga Ajaran, sebuah perkumpulan Tionghoa yang mendalami ajaran Buddha, Kong Hu Cu, dan Tao. Beliau juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pemuda Theosofi.

Pada tahun 1953, beliau menggerakkan simpatisan dan umat Buddha untuk mengadakan perayaan Waisak secara nasional yang pertama kalinya di Borobudur. Tidak berapa lama kemudian beliau ditahbiskan menjadi seorang samanera secara Mahayana oleh Biku Besar Pen Ching, seorang praktisi Zen di Indonesia. Selanjutnya beliau berangkat ke Burma dan diupasampada menjadi seorang Biku pada tahun 1954 menurut tradisi Theravada. Bertindak sebagai guru spiritualnya adalah Biku Mahasi Sayadaw, seorang praktisimeditasi vipassana yang sangat termahsyur di dunia. Beliau diberi nama Jinarakkhita. Di Burma atau sekarang Myanmar, Ashin berarti Biku yang patut dihormati secara khusus. Sedangkan Jinarakkhita artinya orang yang patut diberkahi oleh Buddha.

Ashin Jinarakkhita menunjukkan bakat yang tinggi dalam praktek meditasi. Beliau mencapai kemajuan pesat yang menakjubkan banyak orang di sana hanya dalam tempo tiga bulan. Karena kemajuan luar biasa yang dicapainya, Mahasi Sayadaw kemudian turun tangan sendiri memberikan bimbingan lanjutan. Tidak berada lama di Burma, Ashin Jinarakkhita kembali ke Indonesia pada tahun 1954. Beliau menjadi Biku Indonesia pertama setelah runtuhnya kekaisaran Majapahit.

Begitu menginjakkan kaki kembali ke tanah air, pertama-tama beliau mengunjungi pelosokpelosok Jawa yang memiliki umat Buddha tradisional, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, sampai ke Jawa Timur dan Madura. Kemudian menyeberang ke Bali dan Makassar. Tur Dharma ini beliau lanjutkan sampai ke pulau Sumatera.

ashin jinarakkhita

Penerimaan hangat di mana-mana tidak lepas dari sosok Ashin Jinarakkhita sendiri. Pengetahuan Dharma dan pencapaian meditasinya membuat beliau mampu membantu umat tidak hanya mendalami ajaran Buddha melainkan juga menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari. Energi beliau seolah tiada habis-habisnya, membuat beliau dikenal sebagai “Biku terbang”. Sebutan itu beliau peroleh karena hari ini di sini, besok telah berada di tempat yang berbeda.

Menyaksikan minat masyarakat yang demikian besar, Ashin Jinarakkhita kemudian mulai menahbiskan upasaka-upasika. Upasaka adalah orang yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu Biku dalam memberikan pelayanan kepada para umat. Para upasaka-upasika ini pertama-tama dilatih meditasi untuk mengendalikan pikiran. Di dalam agama Buddha, diajarkan bahwa jika pikiran dapat dikendalikan maka tingkah laku dan ucapan juga akan dapat diarahkan kepada kebajikan. Dari pikiranlah sumber kebahagiaan dan penderitaan.

Upasaka-upasika ini kemudian menjadi pendukung utama Ashin Jinarakkhita dalam mengenalkan kembali agama Buddha di tanah air. Banyak dari para upasaka-upasika ini kemudian menjadi tokoh-tokoh utama organisasi Buddhis di Indonesia. Pada tahun 1955, didirikan juga Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia (PUUI) yang menjadi cikal bakal Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) yang pada hari ini menjadi majelis Buddhis terbesar di Indonesia.

Pada tahun 1959, Ashin Jinarakkhita mengundang Biku-Biku ternama dari luar negeri untuk mengadakan penahbisan Biku untuk pertama kalinya di Indonesia setelah zaman Majapahit. Biku-Biku tersebut datang dari Thailand, Burma, Srilanka, Kamboja, dan Jepang. Penahbisan dilakukan di wihara 2500, Kassap, Jawa Tengah. Pada waktu itu umat Buddha di seluruh dunia tengah memperingati 2500 tahun wafatnya Buddha Gautama. Pada tahun – tahun terakhir, hidupnya sangatsederhana, beliau hanya tinggal di balik bilik bambu di lembah Pacet, daerah Cianjur, Jawa Barat. Keyakinan umat terhadap kemampuan batinnya terus membawa orang ramai mengunjungi tempat itu hingga setelah beliau wafat.

Bhikkhu Ashin hidup sederhana

Kegigihan dan keuletan yang begitu tidak mementingkan diri sendiri barangkali adalah kunci dari keberhasilan Ashin Jinarakkhita. Kepada teman mainnya waktu kecil, beliau pernah mengatakan bahwa kalau ada tekad yang kuat, apa pun yang kita kehendaki pasti bisa tercapai. Soal tercapainya cepat atau lambat, itu soal hoki atau rejeki. Dan rejeki itu bisa ditumbuhkan. Di zaman penjajahan Jepang, beliau menempuh resiko dengan mengorganisir dapur umum untuk rakyat yang kelaparan. Saat sedang belajar di Belanda, setelah Indonesia merdeka, beliau ikut membantu di dalam penanggulangan bencana bocornya dam disana. Ketika telahmenjadi Biku, beliau berkeliling sampai ke pelosok-pelosok dan selalu tidak lupa membawa beras dan makanan sehari-hari untuk penduduk.

Saat ditanya satu kali, apa makna dari pengabdian dia selama ini, Ashin Jinarakkhita menjawab singkat, “Sunya”. Menurut beliau, semua yang dilakukan itu dengan ikhlas, tanpa ada pamrih apa-apa. Kesunyaan itu juga merupakan potensi yang tanpa batas. Gagasan Ashin Jinarakkhita tentang Buddhayana atau Ekayana, sebuah pendekatan yang merangkul semua mahzab besar agama Buddha, baik Theravada, Mahayana, maupun Vajrayana, sebagai bagian dari satu ajaran Buddha yang utuh dan tidak terkotak-kotak, saat ini telah luas diterima di seluruh dunia.

Masa Kecil

The Boan An merupakan anak ketiga dari pasangan The Hong Gie dan Tan Sep Moy. Ayah Boan An, merupakan seorang wykmesster, atau semacam lurah untuk masa kini, sehingga di rumah Boan An sewaktu kecil sering kali didatangi oleh banyak orang untuk mengurusi berbagai surat-surat penting. Namun sayangnya, pada saat ia berumur 2 tahun, ibunya meninggal dunia, dan kemudian ayahnya menikahi adik dari Tan Sep Moy, yaitu Sep Nyie Moy yang menjadi ibu tiri untuk si kecil Boan An.
Pada saat duduk di sekolah dasar di HCS, Boan An tidak mendapatkan uang jajan dari orangtuanya sehingga ia bekerja sambilan untuk memperoleh uang jajan. Ia menjadi tukang tagih utang untuk seorang dokter, dan mendapat persenan dari hasil tagihan tersebut. Meskipun demikian, Boan An bukanlah orang yang kasar, namun pemurah dan berhati lurus. Ia sering membagi-bagikan uang jajannya kepada teman-temannya yang lain dan sangat tidak suka mencuri barang orang lain. Pernah suatu hari, teman dekatnya, Anyi berniat untuk mencuri buah jambu dan dihentikan oleh Boan An dan mengatakan bahwa lebih baik ia memintanya daripada mencuri.
Boan An juga memiliki sifat yang keras, jika ia tidak maka tidak, jika mau maka mau. Akibat sifatnya ini ia pernah bertengkar dengan ayahnya sehingga ia berusaha untuk kabur dari rumahnya untuk pergi ke tempaat neneknya. Setelah seharian berusaha ketempat neneknya, akhirnya ayahnya berusaha mencarinya dan menemukannya di rumah salah seorang yang memberinya tempat menginap untuk sementara.

Ketertarikan pada Spiritualisme

Setelah lulus dari HCS ia ingin melanjutkan pendidikannya di HBS, setara dengan SMA untuk masa itu, namun karena terlambat mendaftar akhirnya ia bersekolah di PHS selama satu tahun pada 1936, dan setelah itu baru ia mendaftar kembali untuk belajar di HBS tahun berikutnya. Pada saat itu, ia sudah mulai tertarik dengan ilmu-ilmu gaib dan yoga. Ia sering bercerita banyak sekali tentang yoga kepada teman-temannya. “Yoga. Yoga itu membela kamu punya jiwa, Kamu gak akan ngaco pikirannya. Kalau lagi banyak pikiran, nolkan lagi, sudah nol boleh mikir lagi.” Pada saat itu juga ia berkenalan dengan seorang Belanda yang katanya dapat melihat makhluk halus bernama Reigh. Oleh Reigh ini, Boan An belajar mengenai magnetism untuk penyembuhan dan juga okultisme. Ketertarikan Boan An mengenai hal-hal spiritual ini membuat ayahnya merasa khawatir akan pendidikan anaknya di sekolah. Akhirnya ayahnya mengajak Boan An ke tempat kakeknya. Ternyata kakek Boan An yang merupakan vegetarian, membuat Boan An ikut menjadi vegetarian yang membuat marah ayahnya.

Akhir Hidup

Ashin Jinarakkhita meninggalkan kita semua pada tahun 2002, dengan meninggalkan relik suci dalam bentuk kristal yang menurut keyakinan ajaran Buddha adalah tanda kesucian seseorang. Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menganugerahkan bintang jasa Mahaputera atas jasa-jasanya. Pada peringatan 100 tahun kebangkitan nasional Indonesia kali ini (Artikel ini diterbitkan pada majalah Lumbini pada tahun 2008), mengingat Ashin Jinarakkhita membuat kita kembali sadar bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar, dengan potensi yang begitu luar biasa.

Abu jenazah Y.M. Ashin Jinarakkhita Mahasthavira dibawa pulang ke tanah Jawa dan disemayamkan di Vihara Sakyawanaram Pacet, Jawa Barat, tempat selama ini Bhante Ashin bermukim. Di sana pula akan dibangun sebuah Aula yang akan diberi nama Ashin Jinarakkhita Graha oleh Majelis Buddhayana Indonesia (MBI).

 

Sumber:

  • Majalah Lumbini No. 1, Tahun 2008
  • https://bodhi-prajna.blogspot.com/2015/10/ya-mahabhikkhu-ashin-jinarakkhita.html