Bagaimana Mengendalikan Emosi

Disadur dari Zhengmian Kan Shenghuo (Memandang Kehidupan Secara Positif) – Master Sheng Yen Dharma Drum Mountain (Taiwan) http://www.ddm.org.tw


Tanya: Bila dilihat dari sudut pandang ilmu kedokteran dan psikologi, emosi itu adalah reaksi yang normal. Bagaimana kalau dilihat dari sudut pandang Buddhisme?

Jawab: Emosi itu bisa dibagi menjadi emosi yang sehat dan tidak sehat. Yang disebut emosi sehat itu adalah menikmati, mengagumi dan gembira. Sebuah perasaan yang menyenangkan, juga sebuah hal yang menggembirakan. Sering ada orang yang mengatakan, “Kamu punya emosi!” Ini umumnya menunjuk pada emosi yang tidak sehat, termasuk marah, mengeluh, membenci, sebal, capek dan lain sebagainya. Karena tidak sehat maka bisa merugikan jiwa dan raga kita. Jiwa dan raga yang terpengaruh olehnya akan berdampak terhadap rumah tangga, pekerjaan, bahkan hubungan antar teman. Segala sesuatu yang berangkat dari egosentris disebut emosi. Mengapa kita harus melakukan perbuatan bajik? Semua berharap berbuat bajik akan mendatangkan buah karma bajik, berbuat buruk akan memanen buah karma buruk, berharap ada pamrih, bisa naik ke Surga, bisa menikmati kebahagiaan duniawi di alam manusia, ini semua tergolong sebagai emosi manusia. Dari sudut pandang Buddhisme, ada emosi karma buruk, juga ada emosi pelatihan kebajikan. Cara dan pandangan di atas, bagi orang awam adalah baik, tetapi dari sudut pandang Buddhisme, setelah buah karma baik habis dinikmati, kita tetap akan menerima buah penderitaan, jadi bukan pembebasan yang sejati. Yang terbaik adalah pembebasan egosentris kita, sehingga setelah terbebas tidak akan ada lagi emosi, yang ada hanya kebijaksanaan dan welas asih.

Tanya: Emosi mempunyai enerji, bisakah mengubah enerji emosi negatif menjadi posiif?

Jawab: Enerji emosi itu bisa diubah. Dalam Buddha Dharma dikenal adanya istilah “Semangat (Viriya)”, selain itu para praktisi Chan juga ada istilah “Da Fen Xin” yaitu Perjuangan Besar. Perjuangan besar di sini berarti tekad ingin menjadi kuat, yang juga berarti semangat. Bertekad bahwa diri sendiri bisa mencapai tujuan kita. Ini juga semacam emosi, hanya saja ini adalah emosi yang positif, yang berkembang ke arah yang baik. Jika seseorang tidak memiliki kegigihan “ingin menjadi kuat” sebagai penopangnya, maka segala sesuatu yang dilakukannya bisa saja berhenti di tengah jalan. Hanya sekedar mencicipi, sehingga tidak mungkin bisa menyelesaikan sebuah tugas akbar, sebab itu perlu adanya emosi yang positif. Lantas, emosi positif berasal dari egosentris, tetap berangkat dari “aku” ingin menyelesaikan suatu tugas. Sedang kalau ingin menjadi Buddha, juga harus punya semangat. Sebenarnya, semangat adalah emosi penjernih, ia tidak mencelakakan orang lain maupun diri sendiri, yang diperlukan hanya terus maju dalam jalan pelatihan diri, bagaikan sebuah enerji. Bila tidak ada enerji ini maka pelatihan diri akan gagal. Sebab itu kenapa Buddha juga disebut Maha Perkasa, Maha Kuat dan Maha Welas Asih, dapat mencapai pembebasan sempurna. Pembebasan sempurna adalah Maha Prajna (Kebijaksanaan Besar). Makna “besar” di sini muncul dari semangat.

Tanya: Shifu mengatakan kita ada emosi karma buruk, juga ada emosi pelatihan kebajikan, lantas apakah “semangat” itu adalah emosi pelatihan kebajikan?

Jawab: Kebajikan dalam pelatihan kebajikan ada dua macam. Yang satu adalah pelatihan kebajikan diri sendiri, yang satu lagi adalah pelatihan kebajikan demi semua makhluk. Demi semua makhluk adalah cinta kasih dan welas asih, demi diri sendiri adalah pelatihan kebajikan yang berlandaskan rasa ego. Jika mengharapkan pamrih di kemudian hari, tanam semangka panen semangka, tanam kacang panen kacang, ini adalah kebajikan egosentris, berharap mendapat keuntungan. Namun ini tergolong kebajikan, biasanya kita juga menganjurkannya. Kebajikan yang satu lagi adalah kebajikan yang mutlak, ia melampaui kebajikan egosentris. Dalam hati hanya ada makhluk hidup, tidak ada aku, bersedia menderita demi makhluk hidup. Ini adalah kebajikan yang murni, kita menyebutnya ‘cinta kasih dan welas asih’, atau ‘bodhicitta’.

Tanya: Ketika emosi itu baru terbentuk dan belum berkembang, apa ada cara untuk mendeteksinya, bahkan melenyapkannya?

Jawab: Ini sangat tidak mudah! Orang yang berlatih diri baru ada kemungkinan bisa melakukannya. Sebab itu, harus sering-sering praktik meditasi. Dengan pelatihan seperti ini, akan dapat mendeteksi reaksi perasaan diri sendiri. Umumnya orang tidak bisa mendeteksi reaksi perasaannya, sehingga kala batin ini bergolak, masih tidak tahu kalau itu adalah emosi. Ada juga yang perasaannya sudah tak nyaman, meski tak diucapkan, tapi (tetap) tampak (jelas) dari ekspresi wajahnya! Emosi-emosi ini bisa kita bisa cegah agar tidak meledak. Menghadapi situasi seperti ini, cara paling baik adalah meresapi proses pernafasan. Rasakan udara pernafasan yang keluar masuk melalui lubang hidung. Atau gunakan cara melafalkan nama Buddha. Mendengar satu ucapan yang membuat kita tidak senang, menghadapi satu hal yang tidak menggembirakan, atau mengalami kejadian malang, segera lafalkan “Amituofo”. Jangan hanya melafalkan satu kali saja, tapi terus lafalkan tanpa henti, dengan begitu emosi itu akan lenyap. Kala merasa perasaan ini tidak nyaman, lenyapkan dengan pelafalan “Amituofo” atau “Guanyin Pusa” tanpa henti, ini akan sangat menolong. Mendengar diri sendiri melafalkan Amituofo dan membayangkan Amituofo berada di hadapan kita, emosi itu akan mereda dengan sendirinya. Sedang agama lain, seperti agama Kristen, bisa mengucapkan “Halleluya”. Ketika masalah itu datang, jangan gunakan emosi, tapi selesaikan secara rasional. Gunakan cara ini untuk berlatih dan membantu diri sendiri, agar cool down, sehingga segala permasalahan dapat terselesaikan dengan lebih baik.

 

Sumber: Majalah Sinar Dharma Vol. 7 No. 1, Februari 2009 – April 2009