Bahagia Dalam Perubahan

Oleh : Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo

Segala¬†sesuatu di dunia ini pasti selalu berubah. “Semuanya berubah, kecuali perubahan itu sendiri.” Perubahan merupakan kenyataan mutlak kehidupan. Sekalipun manusia yang terlahir dengan dibekali akal pikiran tidak dapat menolak atau menghindari perubahan. Sebagai seorang manusia, kita tidak dapat menolak penglihatan yang mulai kabur, memutihnya rambut di kepala, kulit yang semakin keriput, rapuhnya tulang, ingatan yang semakin kurang dan melemahnya daya tahan tubuh. Kita tidak tahu secara pasti kapan hal itu akan terjadi kepada kita, namun pastinya hal itu akan terjadi, walau ada yang tidak kita rasakan termasuk sakit dan kematian.

Perubahan terjadi sejak lahir, dewasa dan memasuki masa tua, setelah itu meninggal. Perubahan pada hakikatnya akan terus terjadi dan tidak akan pernah berhenti selama kehidupan ini akan berlanjut. Kehidupan merupakan sebuah cerita panjang bentuk perubahan. Namun, waktu memberikan kita kesempatan untuk berubah secara bertahap, perubahan yang mengantarkan kita ke bentuk terbaik seperti saat ini.

Perubahan tidak hanya terjadi pada makhluk hidup, bahkan benda mati pun tidak terlepas dari perubahan. Barang – barang di sekitar kita seperti baju, tas, sepatu dan barang pribadi lainnya semakin aus ataupun rusak ditelan waktu. Kursi sofa, lemari, motor dan mobil atau apa pun yang berada di sekitar kita terus berubah semakin baik ataupun buruk, yang pasti segala sesuatu di alam semesta ini selalu berubah secara bertahap, perlahan-lahan. Bahkan pada beberapa kondisi perubahan itu terjadi secara dramatis, atau revolusioner sehingga lebih sulit diterima. Segala sesuatu di alam semesta ini mengalami proses perubahan, tetapi kita tidak menyadarinya dan enggan menerimanya. Mengapa?

Pemahaman tentang perubahan di dalam ajaran Sang Buddha merupakan bagian penting dalam melatih pengertian benar. Sang Buddha mengenalkan kepada kita tiga corak kehidupan yang pasti terjadi dalam proses kehidupan, yang tak lain adalah perubahan.

Tiga corak kehidupan yakni ketidakpuasan/penderitaan, ketidakkekalan (Anicca), dan tanpa diri (yang selalu tetap)- merupakan satu kesatuan utuh dalam melihat realitas kehidupan dunia ini. Tiga corak kehidupan tersebut saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Segala sesuatu di dunia adalah tidak kekal, sehingga tidak mungkin ada sesuatu/diri (aku) yang selalu tetap, dan pastilah menimbulkan penderitaan/ketidakpuasan. Kita dapat memahami hakikat perubahan jika satu kesatuan corak kehidupan tersebut dapat dimengerti dengan benar.

Perubahan /ketidakkekalan yang lebih kita kenal sebagai Anicca merupakan fakta sejati yang tak terhindarkan serta suatu fakta yang bersifat universal. Hal ini bukan hanya terjadi pada manusia namun juga pada gunung hingga laut, pemikiran dan perasaan, bagi hewan maupun tanaman, atau segala sesuatu yang mungkin bisa kita beri nama. Segala sesuatu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, seperti halnya suatu proses kehidupan, kehamilan berlanjut ke proses kelahiran bayi, bayi tumbuh menjadi anak-anak, anak-anak tumbuh mejadi remaja, remaja tumbuh menjadi dewasa, lalu menjadi sakit, tua dan meninggal.

Pertanyaannya adalah bagaimana menyikapi perubahan tersebut agar kita tetap bisa bahagia? Cara yang baik untuk menyikapi perubahan adalah dengan senantiasa mengontrol pikiran agar selalu sadar, sehingga perubahan yang terjadi tidak menjadikan diri kita menderita. Untuk itulah diperlukan meditasi agar kesadaran kita selalu ada dalam menjaga pikiran tidak tenggelam dalam arus perubahan. Renungkanlah, perubahan adalah kondisi yang bersifat netral, ia merupakan arus kehidupan, manusia selaku individu lah yang perlu memaknai perubahan secara baik, janganlah melihat keadaan dengan bingkai masa lalu, karena pada dasarnya perubahan akan menggiring ke masa depan.

Saat kita sedang mengalami ketidakbahagiaan, kita perlu menyadari bahwa ketidakbahagiaan tersebut akan segera berubah menjadi kebahagiaan. Demikian juga sebaliknya, kebahagiaan dan kedamaian juga akan berubah menjadi ketidakbahagiaan, namun kembali perlu selalu menyadari bahwa ketidakbahagiaan tersebut juga akan berakhir dan menjadi bahagia. Kita akan menjadi damai dan mengalami kebahagiaan sejati dengan menyadari perubahan. Ketidakbahagiaan ibarat seekor ulat yang sedang berjuang dalam kepompong sebelum menjadi kupu-kupu cantik.

(Artikel ini telah diterbitkan di Harian SIB, tanggal 28 Desember 2019)