Berkat Pindapata

Oleh Bhikkhu Khantipalo

disadur dari Buku Berjudul “Pindapata”

Penerjemah : Upa. Saddhamitto Freddy Suhendra
Editor terjemahan : Upa. Sasanasena Seng Hansen

diterbitkan oleh Vidyāsenā Production

==============================

Bagi mereka yang hidup di negara dimana ajaran Buddha telah lama ada, pemandangan seorang bhikkhu mengumpulkan sedekah makanan di pagi hari adalah hal yang lumrah. Tapi tempat dimana ajaran itu baru diperkenalkan, atau tempat dimana jumlah bhikkhu sedikit, praktek memberikan makanan untuk para bhikkhu yang berkelana hanya diketahui dari gambar atau sumber-sumber yang tertulis.

Tidak ada dari hal-hal tersebut yang dapat menggambarkan suasana yang sebenarnya dari praktek memberi dan menerima bagi yang tertarik dengan Jalan Buddhis namun hidup di negara-negara dimana ajaran tidak dalam bentuk tradisionalnya. Bahkan banyak umat Buddha yang hidup di negara-negara buddhis bagian utara tidak banyak tahu tentang Pindapata[1] karena praktek mengumpulkan sedekah oleh para bhikkhu, untuk berbagai alasan yang tidak perlu kita selidiki disini, secara umum telah tidak dilanjutkan dan praktek tradisional yang sekarang masih bertahan hanya di Asia Tenggara yang menjalankan tradisi Theravada.

Meskipun tulisan ini juga merupakan sebuah catatan tertulis tentang pindapata, tulisan ini berdasarkan pengalaman dan mencoba untuk menggugah atmosfer pindapata semirip mungkin, dan sebagaimana banyak faktor dasar mengenai jalan hidup Buddhis yang terlibat dalam perbuatan sederhana ini, diharapkan tulisan ini dapat berguna untuk seluruh umat Buddha yang jauh terpisah dari tanah-tanah Buddhis ini.

Selain dari tiga jubahnya, harta paling berharga seorang Bhikkhu (dan dia hanya memiliki 8 harta[2]) adalah mangkuknya (patta). Seorang bhikkhu menjaga mangkuknya sebaik mungkin sehingga dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama: setelah makan, ia membersihkannya secara hati-hati setiap hari untuk mencegahnya dari karat; selalu meletakkannya di atas sebuah alas sehingga tidak jatuh dan pecah, dan sering membawanya dengan kain gendongan karena mangkuk itu menjadi berat ketika dipenuhi oleh makanan dan dapat terjatuh akibat tangan yang lelah. Dalam melakukannya, ia menjalankan perintah Sang Buddha untuk melatih kesadaran sehubungan dengan mangkuknya, yang telah diberikan kepadanya oleh orang lain dan yang tanpanya ia tidak akan dapat mengumpulkan makanan.

Praktek ini bervariasi di berbagai negara dan vihara. Pada vihara dimana meditasi dipraktekkan, para bhikkhu bangun lebih awal, duduk lama di dalam kegelapan yang dingin di aula meditasi. Di negara tersebut, satu-satunya suara pada waktu-waktu ini adalah serangga malam, satu atau dua kodok, mungkin juga ayam jantan yang mengantisipasi fajar dan angin dingin di pepohonan yang dapat menghembus pergi nyamuk-nyamuk yang hampir selamanya ada disana. Kesunyian akhirnya berakhir dimana semua bhikkhu berkumpul dan bersujud di hadapan gambar Sang Buddha dan lantunan jernih keluar sebagai bentuk penghormatan kepada Yang Tercerahkan.

Dua jam atau lebih terlewat sebelum cukup terang untuk mengumpulkan makanan. Tidak hanya karena para bhikkhu harus memberikan umat wanita (upasika) waktu untuk memasak, mereka juga harus mempertimbangkan bahaya-bahaya saat keluar pada waktu hari masih gelap. Di negara dimana ular, kelabang, dan kalajengking berlimpah, adalah hal yang bijaksana untuk dapat melihat tanah di bawah kaki seseorang; dan terlepas dari fakta yang cukup penting ini terdapat ketakutan dan kecurigaan satu sama lain yang perlu dipertimbangkan, sebagaimana salah satu insiden agak lucu dalam Majjhima Nikaya ceritakan. Seorang bhikkhu sedang mengumpulkan makanan pada saat masih gelap, menakuti seorang wanita yang melihatnya dalam sorotan lampu. Wanita itu mengiranya setan dan berteriak “Mengerikan! Ada setan mengejarku!” (baca Majjhima Nikaya No. 66).

Hanya setelah mengenakan jubahnya dengan benar, bhikkhu mulai mengumpulkan makanan dengan berkeliling. Kedua bahu ditutupi karena ia akan berjalan dari rumah ke rumah dan harus menutupi tubuhnya dari leher sampai ke bawah lutut. Ia boleh pergi dengan seorang bhikkhu senior, yang berjalan di depan dan ia mengikutinya, atau seorang pemula (samanera) dapat menemaninya. Kadang-kadang samanera atau anak muda yang mengikutinya mengumpulkan kuah kari, sup dan lain-lain ke dalam sebuah rantang.

Jadi ia menanamkan, mengamati perilaku yang baik dalam berbagai cara. Barangkali ia mengingat perintah tulus dari Dhammapada:

“Lebih baik menelan bola besi panas,

merah menyala seperti bara api,

daripada menerima persembahan makanan

jika berkelakuan buruk serta tidak terkendali.”

-Dhammapada 308

Terkadang orang melihat para bhikkhu berjalan mengikuti dengan perlahan dan diam seorang bhikkhu sesepuh (thera), mungkin membawa mangkuknya sampai mencapai rumah pertama dalam lingkungan sedekah. Bhikkhu itu tidak berbicara kecuali diajak bicara, kesunyian dianggap sebagai latihan selama berkeliling. Tatapannya juga tidak pernah kesana kemari, matanya diarahkan ke tanah di depannya; dengan demikian ia berlatih menahan diri atas mata (cakkhusamvara).

Terakhir, entah 10 menit atau 2 jam waktu yang dihabiskan untuk mengumpulkan makanan, dia tidak terburu-buru seolah ingin mendapatkan lebih dan menyelesaikannya lebih cepat dari seharusnya. Seorang bhikkhu yang terlatih berjalan penuh dengan kesadaran, perlahan dan bermartabat.

Kita ingat teladan mulia dan pengendalian diri YA Assaji, salah satu dari lima murid Buddha yang pertama, yang sangat mengesankan Upatissa, yang tak lama kemudian dikenal sebagai YA Sariputta, yang terkemuka diantara murid-murid Sang Buddha.

Jika seorang bhikkhu berlatih meditasi, ia akan berusaha untuk menjaga objek meditasi dalam pikiran ketika objek itu muncul dan lenyap. Hal ini berkaitan dengan YA Sariputta yang mengembangkan konsentrasi terhadap cinta kasih (metta bhavana) ketika berjalan saat mengumpulkan makanan. Seperti beberapa bhikkhu yang terlibat dalam praktek dari Ajaran (gantha dhura), daripada meditasi, mereka sering mengutip bagian dari kitab suci Pali yang ditulis pada sepotong kertas kecil dan dalam hati melafalkannya sambil berjalan.

>> Klik Untuk Baca Selanjutnya <<