Bersikap Ramah

Oleh : Bhikkhu Santacitto

Pada umumnya, ramah dipahami sebagai sikap positif yang tercermin dalam tutur kata dan perbuatan jasmani yang menyenangkan, manis, lembut serta tidak merugikan orang lain. Oleh karena itu, orang yang ramah biasanya disukai mereka yang berasosiasi dengannya karena orang demikian memberikan kenyamanan, menyenangkan dan mudah sekali bergaul dengan siapapun. Sikap ini sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kedamaian dan keharmonian dalam sebuah masyarakat tertentu dapat tercipta apabila anggota-anggotanya memperlakukan satu sama lainnya dengan sikap yang ramah. Dapat dibayangkan apa yang terjadi jika dalam sebuah masyarakat orang-orangnya dibiarkan berkata kasar antar sesamanya, tidak peduli satu sama lain, egois dan hanya mementingkan keuntungan pribadi. Akibatnya, tentu chaos!

Agama Buddha juga sangat menekankan sikap yang ramah. Dapat dikatakan bahwa sikap ramah dapat dibagi menjadi tiga, yakni ramah terhadap diri sendiri, ramah terhadap makhluk lain dan ramah terhadap alam sekitar. Ramah terhadap diri sendiri merupakan pondasi sebelum seseorang dapat bersikap ramah terhadap makhluk lain maupun lingkungan. Hal ini disebabkan karena bahagia dan tidaknya masing-masing orang tergantung pada masing-masing individu. Demikian pula, seseorang dapat bersikap ramah ataupun sebaliknya, hal itu dimulai dari dalam dirinya.

Sikap ramah terhadap diri sendiri merupakan sikap mencintai diri sendiri. Namun demikian, disebabkan karena sikap ramah adalah sikap positif yang menguntungkan, di sini, sikap ramah terhadap diri sendiri pun harus dimengerti sebagai sikap intern yang membawa manfaat bagi diri sendiri. Agama Buddha mengajarkan bahwa sebab penderitaan adalah pikiran-pikiran negatif. Terkait dengan hal ini, orang yang bersikap ramah dan cinta terhadap dirinya sendiri adalah orang yang hidupnya digunakan untuk mengikis kotoran-kotoran batin, dan di saat yang sama, berusaha mengembangkan kualitas-kualitas batin yang bermanfaat, seperti cinta kasih, welas asih, simpati, kesabaran, disiplin, tanggungjawab, dan lain-lain. Orang seperti ini mengetahui hanya dengan cara inilah ia sesungguhnya telah bersikap sebagai seseorang yang ramah dan cinta terhadap dirinya sendiri.

Seperti halnya seseorang hendaknya bersikap ramah terhadap diri sendiri dengan hanya mengupayakan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri, demikian pula, ia hendaknya mengupayakan hal-hal yang bermanfaat bagi makhluk lain sebagai cerminan sikap ramah terhadap makhluk lain. Sang Buddha mengatakan bahwa di dunia tidak ada satu pun makhluk yang menginginkan penderitaan. Semua makhluk mendambakan kebahagiaan. Oleh sebab itu, sebagai manusia yang berpegang pada Dhamma, seseorang hendaknya mengucap dan berbuat melalui jasmani terhadap makhluk lain, hanya hal-hal yang bermanfaat dan tidak merugikan. Ucapan yang dituturkan hendaknya merupakan ucapan yang bermanfaat, lembut, dan menyenangkan hati, dan prilaku jasmaninya juga prilaku yang mencerminkan orang yang sopan dan berbudi.

Di samping itu, menurut agama Buddha sikap ramah tidak hanya diberikan kepada makhluk hidup, tetapi juga kepada alam sekitar. Sikap ramah terhadap alam sekitar tercermin dari sikap tidak merusak alam. Sikap ini dapat diteladani dari kehidupan Sang Buddha dan para bhikkhu. Dalam beberapa peraturan para bhikkhu yang ditetapkan Sang Buddha, dapat dijumpai bagaimana Sang Buddha menganjurkan para siswa-Nya untuk tidak merusak alam. Sebagai contoh, seorang bhikkhu tidak diperkenankan memotong pohon yang hidup atau buang air kecil di pohon yang hidup. Sikap ramah lingkungan juga diapresiasi oleh Sang Buddha ketika Beliau mengatakan bahwa Sakka, Raja Dewa dari Tavatimsa, dapat terlahir di sana karena kebajikan-kebajikannya yang salah satunya adalah ia senang membuat taman.

Demikianlah, sikap ramah menempati peranan yang penting dalam praktik ajaran Sang Buddha. Ramah terhadap diri sendiri, makhluk lain dan alam sekitar yang menjadi poin penting dalam ajaran Sang Buddha ini, apabila dikembangtumbuhkan oleh masyarakat, sangat dimungkinkan dapat menjadi jawaban dan solusi atas berbagai konflik, pertengkaran dan kerusakan alam yang terjadi pada zaman modern ini.

 

Sumber: Majalah Dhamma Inside Vol. 23 – Oktober 2015