Bodh Gaya – Place of Enlightment

Bodh Gaya adalah sebuah desa besar yang terletak di Bihar, provinsi selatan India. Nama Bodh Gaya dieja dalam berbagai macam kata seperti Buddha Gaya, Buddh Gya, Bauddha Gyah, dan Bodhi Gaya. Nama Bodh Gaya sendiri bukanlah nama asli, namun pertama kali ditemukan pada kitab Amaradeva, sebuah kitab yang tidak diketahui asal-usulnya. Pada zaman Sang Buddha, desa ini dikenal dengan nama Uruvela. Menurut Dharmapala pada abad ke-5, nama ini diberikan karena banyaknya pasir (vela) yang ada di tempat tersebut. Dharmapala menceritakan sebuah kisah yang menarik tentang keberadaan pasir itu. Jauh sebelum zaman Sang Buddha Gotama, ada sekelompok pertapa tinggal di tempat itu. Para pertapa ini mampu mengetahui siapa saja dari mereka yang memiliki fisik dan tindakan yang tidak benar/tidak sehat. Namun tidak seorangpun dari mereka yang dapat mengetahui siapa dari mereka yang mempunyai pikiran yang tidak baik. Maka mereka pun membuat kesepakatan bahwa jika ada di antara mereka yang berpikiran tidak benar/tidak baik, maka pertapa itu harus membawa pasir di dalam sebuah keranjang daun. Dengan segera tempat itu penuh tertutup oleh pasir.

Tempat persis di mana pertapa Gotama mencapai penerangan sempurna bernama Vajrasana (yang berarti tahta berlian). Menurut kepercayaan, ketika dunia ini akhirnya sudah hancur total, tempat ini akan menjadi tempat terakhir yang lenyap, dan tempat ini juga yang akan menjadi tempat pertama yang muncul ketika semesta ini kembali terbentuk. Bodh Gaya juga populer dengan nama Maha Bodhi yang berarti Penerangan Agung. Nama Bodh Gaya sendiri mulai muncul pada saat pencapaian penerangan sempurna Sang Buddha, dan nama ini masih bertahan hingga kini, menandakan bahwa tempat ini telah menjadi pusat perhatian dari jutaan peziarah dari seluruh dunia selama dua milenium. Bodh Gaya telah menjadi tempat ziarah paling penting bagi umat Buddhis hingga kini. Fenomena ini adalah sesuai dengan apa yang telah dikatakan Sang Buddha sendiri sebelum parinibbana.

Bodh Gaya merupakan tempat di mana Buddha Gotama memperoleh pencapaian tiada banding, Penerangan Sempurna yang Agung. Siddharta Gautama telah menetap di tepi Sungai Nairanjana bersama dengan lima orang pertapa melatih diri dengan sangat keras dan disiplin. Menyadari bahwa latihan yang dilakukan tidak dapat menuntun ke arah pencerahan, maka Beliau memutuskan untuk meninggalkan latihan tersebut. Para pertapa pengikut Beliau yang putus asa meninggalkan Beliau sendirian menuju ke Sarnath.

Kemudian pertapa Gotama menuju ke desa Senani di mana Beliau menerima tawaran makanan dari Sujata, seorang gadis Brahmana. Setelah mendapat tatakan dari rumput, Beliau mengambil posisi duduk di bawah pohon pipal (Bodhi) menghadap ke timur. Di sini Beliau berikrar untuk tidak berdiri sebelum mencapai penerangan.

The Maha Bodhi Temple

Tempat bersejarah di mana pertapa Gotama mencapai penerangan sempurna dan kini telah menjadi tempat ziarah Buddhis. Meski tidak disebutkan dalam literatur Buddhis, Sang Buddha pernah mengunjungi Bodh Gaya lagi selama kurun waktu Beliau membabarkan Dhamma. Sekitar 250 tahun setelah pencapaian penerangan sempurna, Raja Ashoka mengunjungi tempat ini dan diduga adalah orang yang mendirikan Maha Bodhi Temple. Sesuai dengan tradisi, pada saat mendirikan sebuah Vihara, Raja Ashoka menanam sebuah singgasana yang terbuat dari berlian tepat pada tempat di pertapa Gotama mencapai penerangan sempurna, dan dilengkapi dengan empat pilar dari batu, menandakan Vajrasana, Singgasana Penerangan Sempurna.

Maha Bodhi Temple

Arsitektur stupa ini sangat mengagumkan, namun sejarahnya penuh ketidakjelasan. Stupa ini dibangun dengan maksud utama untuk dijadikan monumen, bukan sebagai tempat penyimpanan relik Sang Buddha. Beberapa tempat dibuat dengan gambar-gambar yang diabadikan sebagai tempat untuk melakukan pemujaan. Stupa sekarang memiliki ruang bawah tanah dengan panjang 15 meter dan lebar 15 meter, serta memiliki tinggi 52 meter yang menyerupai piramid dengan dasar persegi. Pada tiap sudutnya, terdapat pilar-pilar yang menjulang berjumlah 4 buah. Di dalam stupa terdapat gambar kolosal Sang Buddha dalam posisi sedang menyentuh tanah (bhumisparsha mudra). Gambar ini dipercaya telah berumur lebih dari 1700 tahun dan menghadap ke arah timur tepat di mana pertapa Gotama bermeditasi dengan punggung menghadap ke pohon Bodhi dan mencapai penerangan sempurna.

Pohon Bodhi

Selama tujuh hari setelah penerangan sempurna, Sang Buddha melanjutkan bermeditasi di bawah pohon Bodhi tanpa berpindah dari tempat duduk-Nya. Selama minggu kedua, Beliau melatih meditasi jalan. Jalan yang digunakan itu, dinamakan jalan permata Chankramanar, dibangun dengan sebuah platform rendah yang dihiasi oleh 19 bunga teratai yang disambung paralel dengan stupa Maha Bodhi pada bagian utaranya. Di sebelah utara Chankramanar juga dibangun sebuah stupa yang bernama Animeschalochana.

Pohon Bodhi atau pohon pipal (Ficus religiosa) tempat di mana Sang Buddha duduk di bawahnya ketika mencapai penerangan sempurna, terletak di bagian belakang dari stupa utama. Pohon yang ada sekarang diperkirakan hanyalah keturunan dari pohon yang asli. Ada cerita yang mengatakan bahwa istri Raja Asoka telah memotong pohon itu secara diam-diam karena merasa cemburu kepada Raja Asoka yang menghabiskan sepanjang waktunya di pohon itu. Namun pohon Bodhi tumbuh lagi dan sejak saat itu dibangunlah dinding pelindung di sekitarnya.

Pohon Bodhi di Bodh Gaya

“Ananda, ada empat tempat yang patut dilihat yang akan menguatkan keyakinan mereka dalam Dhamma. Apa empat tempat itu? Tempat di mana Tathagata dilahirkan, ini adalah tempat pertama. Tempat di mana Tathagata mencapai penerangan, ini adalah tempat kedua. Tempat di mana Tathagata memutar roda Dhamma untuk pertama kali, ini adalah tempat ketiga. Tempat di mana Tathagata parinibbana tanpa sisa, ini adalah tempat keempat. Para pertapa atau para perumah tangga, yang memiliki keyakinan, harus mengunjungi tempat-tempat ini. Dan barangsiapa yang meninggal ketika melakukan perjalanan ziarah ke tempat-tempat ini dengan kesungguhan hati, akan terlahir di alam bahagia”.

Di sekitar stupa Maha Bodhi dan pohon Bodhi terdapat tangga batu bersegi empat setinggi 0.2 m dengan empat bar termasuk bagian puncaknya. Ada dua macam tangga dan masingmasing dapat dibedakan dari material dan gaya pembuatannya. Tangga yang lebih tua dibangun sekitar 150 SM, terbuat dari batu pasir, dan tangga lainnya dibuat pada periode Gupta (300- 600 M), terbuat dari batu granit. Pada kedua jenis tangga ini, banyak dijumpai motif bunga teratai, selain ukiran dan relief-relief indah yang merepresentasikan budaya pada zamannya.

Sejak 1953, Bodh Gaya telah dikembangkan menjadi tempat tujuan ziarah internasional. Umat Buddha dari Srilanka, Thailand, Burma, Tibet, Bhutan, dan Jepang telah mendirikan monastri dan candi-candi di dalam lingkungan sekitar stupa Mahabodhi. Kini, situs penerangan sempurna ini telah menarik perhatian umat Buddha dan turis dari seluruh dunia.

Pada saat musim dingin antara bulan Desember hingga Maret, para pengunjung Bodh Gaya dapat mengamati arus para peziarah dari India dan belahan dunia lainnya dan belahan dunia lainnya menyusuri jalan-jalan atau naik bus, mengelilingi stupa, melakukan sujud, dan pemanjatan doa dalam berbagai macam bahasa. Bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin melatih kesadarannya secara penuh, Bodh Gaya saat ini benar-benar merupakan tempat yang menjadi sumber semangat pencerahan yang sangat potensial. Dengan semangat Buddhis yang kuat dari berbagai tradisi, situs suci ini telah muncul sebagai sumber inspirasi yang kuat bagi dunia modern, menyadarkan semua manusia akan kebenaran penerangan sempurna.

 

Sumber: Majalah Dawai No. 43, Edisi Vesakh 2006