Seri Tokoh Buddhis #12 – Bodhisattva Samantabhadra

Dalam Buddhisme Tiongkok, Bodhisattva Samantabhadra disebut sebagai Puxian (baca: Bu-sien), yang mengandung makna “Kemuliaan Universal” atau juga “Kebajikan Universal”. Sutra Avatamsaka menyebutnya sebagai salah satu dari Tiga Makhluk Suci Avatamsaka, yakni: Bodhisattva Manjusri (kiri), Buddha Sakyamuni (tengah) dan Bodhisattva Samantabhadra (kanan). Secara simbolis, Bodhisattva Samantabhadra digambarkan dalam wujud mengendarai gajah putih bergading enam (gajah putih melambangkan keluasan dan kedalaman praktik, sedang enam gading melambangkan 6 Kesempurnaan).

Bodhisattva Samantabhadra telah mempraktikkan Jalan Bodhisattva sejak kalpa lampau yang tak terhitung lamanya. Ketika Buddha Amitabha masih terlahir sebagai seorang raja Cakravartin, Bodhisattva Samantabhadra merupakan putra mahkota ke-8 yang bernama Amiga. Ketika itu, Pangeran Amiga membangkitkan ikrar anuttara-samyaksambodhi di hadapan Buddha Ratna-garbha. Pangeran Amiga mengutarakan tekad untuk menguasai berbagai jenis samadhi guna membimbing semua makhluk hidup di sepuluh penjuru semesta. Buddha Ratna-garbha kemudian memberi nama Samantabhadra bagi Pangeran Amiga dan menyatakan bahwa sang pangeran akan menjadi Buddha di masa mendatang dengan nama Tathagata Jnanavajravijrmbhitesvaraketu (Karuna Pundarika Sutra, Bab 4). Keagungan praktik Jalan Bodhisattva yang dicanangkan Samantabhadra tercermin dari Sepuluh Ikrar Agung (Sutra Avatamsaka Bagian Samantabhadra Carya-pranidhana varga) sehingga menempatkannya dalam posisi yang sejajar dengan para Bodhisattva Agung seperti Manjusri, Avalokitesvara, dan Ksitigarbha. Keagungan praktik dan perilaku ini jugalah yang membuat Samantabhadra dijuluki sebagai Arya Bhadra Carya Pranidhanam Raja (Yang Suci Raja Ikrar dan Praktik Kebajikan Agung).

10 Ikrar Agung Samantabhadra adalah sebagai berikut:

  1. Menghormati para Buddha
  2. Memuji Tathagata
  3. Memberi persembahan yang luas
  4. Menyesal dan bertobat atas perbuatan yang buruk
  5. Bersuka cita atas pahala kebajikan
  6. Memohon pemutaran roda Dharma
  7. Memohon Buddha menetap di dunia
  8. Selalu menyertai dan belajar dari Buddha
  9. Selalu selaras dengan semua makhluk hidup
  10. Melimpahkan semua pahala kebajikan secara universal.

Keistimewaan dari Sepuluh Ikrar Samantabhadra ini terletak pada kemuliaannya yang meliputi dimensi ruang (luas, universal, menyebar ke sepuluh penjuru semesta), dimensi waktu (menembus tiga masa – lampau, kini dan akan datang), serta mengutamakan kebahagiaan semua makhluk. Samantabhadra menjelaskan bahwa sejauh alam semesta masih berlangsung, sejauh para makhluk hidup masih muncul, maka sepuluh ikrar dan perilaku ini tidak akan pernah berakhir. Dengan demikian maka sifat universal dari praktik dan perilaku Samantabhadra sungguh mencengangkan, tak terbayangkan, dan di luar jangkauan makhluk awam.

Karena itu, Samantabhadra dikenal sebagai Bodhisattva Manifestasi Keagungan Tekad, Praktik dan Perilaku. Keagungan perilaku yang dicanangkan dalam 10 Ikrar Agung melahirkan suatu terminologi Dharma yang disebut Praktik Samantabhadra. Praktik Samantabhadra kemudian menjadi suatu praktik yang mutlak bagi setiap orang yang menapaki Jalan Bodhisattva. Dalam berbagai Sutra Mahayana, para Bodhisattva Agung disebutkan telah berdiam di dalam Praktik Samantabhadra.

Samantabhadra merupakan salah satu siswa mulia yang selalu hadir dalam berbagai pesamuan agung pembabaran Dharma oleh Buddha Sakyamuni. Dalam Sutra Saddharmapundarika dinyatakan bahwa Samantabhadra menjadi pelindung bagi mereka yang mendalami Sutra ini. Sedang dalam Sutra Avatamsaka, Putra Sudhana – pemuda yang menapak Jalan Bodhisattva dan berguru kepada 53 Bodhisattva Agung – saat menghadap Bodhisattva ke-53 yakni Samantabhadra, ia diajarkan untuk menempuh Praktik Samantabhadra. Melaksanakan praktik Samantabhadra sama dengan telah mengaplikasikan seluruh rangkaian praktik Dharma. Oleh karena itu, Praktik Samantabhadra adalah metode yang secara umum telah dilaksanakan oleh para Bodhisattva tingkat tinggi. Meski makhluk biasa sulit untuk menjalankan praktik ini dengan sempurna, namun membangkitkan ikrar seperti ini adalah suatu tapak yang sangat dianjurkan karena merupakan bagian dari Jalan Bodhisattva. Untuk itu, bagi praktisi yang ingin menapak Jalan Bodhisattva dan menjalin ikatan jodoh karma dengan Samantabhadra, Buddha Bodhisattva Sakyamuni dalam Sutra Guan Puxian Pusa Xingfa Jing (Sutra Mengamati Bodhisattva Samantabhadra Mempraktikkan Dharma) telah memaparkan lebih jauh tentang metode Praktik Samantabhadra, penyesalan dan pertobatan akan kekotoran enam landasan indera, dan pahala kebajikan akan penyesalan dan pertobatan.

Klik untuk baca selanjutnya –>