Seri Tokoh Buddhis #12 – Bodhisattva Samantabhadra

Kemudian keagungan lain dari praktik Samantabhadra juga terlihat dalam Sutra Da Fang Guang Puxian Suoshuo Jing (Sutra Besar Lurus Luas yang Dibabarkan Samantabhadra). Pada suatu ketika, para Bodhisattva berkumpul dalam satu pesamuan Buddha Sakyamuni, tiba-tiba muncul beratus ribu koti Bodhisattva Agung lain yang jumlahnya tak terbatas, yang mana mereka telah merealisasikan Praktik Samantabhadra. Pada saat itu, Samantabhadra meminta Bodhisattva yang hadir untuk menyelidiki dari mana para Bodhisattva yang baru muncul itu berasal, namun tidak ada satupun Bodhisattva yang sanggup walaupun telah menggunakan beratus ribu koti jenis samadhi. Akhirnya Bodhisattva Samantabhadra dengan kekuatan batin berhasil mengetahui dan memperlihatkan tempat para Bodhisattva Agung itu berasal, serta menjelaskan bahwa kemampuan mengagumkan ini merupakan hasil dari Praktik Samantabhadra.

Pusat pembabaran Dharma Samantabhadra konon diyakini terletak di Gunung Emei, Propinsi Sichuan, bagian barat daya Tiongkok. Selain berpedoman pada catatan dalam Sutra, keyakinan ini juga tidak terlepas dari kisah nyata mengenai penampakan Samantabhadra di gunung tersebut. Kisah pertama muncul pada masa dinasti Jin.

Saat itu hiduplah seorang praktisi penyepian bernama Puwen. Ketika mencari obat-obatan di gunung Emei, beliau melihat seekor rusa dan kemudian berusaha mengejarnya. Saat rusa tersebut lari hingga ke atas puncak gunung yang tidak memiliki jalan keluar, sang rusa tiba-tiba menghilang dan muncul berkas cahaya yang aneh. Melihat kejadian ini, Puwen merasa heran. Beliau lalu bertanya pada Baozhang, seorang bhiksu asal India yang kebetulan sedang berkunjung ke Tiongkok. Bhiksu Baozhang lalu menjelaskan bahwa apa yang dilihat Puwen itu merupakan makhluk jelmaan Bodhisattva Samantabhadra. Menurut Bhiksu Baozhang, Samantabhadra berdiam di gunung tersebut untuk mengajarkan Dharma. Selain itu, pemandangan yang unik di gunung Emei terletak pada kemunculan cahaya aneh di malam hari. Ciri-ciri inilah yang menjadi pedoman atas keyakinan bahwa gunung ini sesuai dengan gambaran catatan Sutra.

Bagi pemeluk agama Buddha di Tiongkok, Gunung Emei disebut juga sebagai Guangming Shan (Gunung Cahaya Gemilang). Menurut Sutra Avatamsaka bagian Kediaman Para Bodhisattva disebutkan, “Di wilayah barat daya terdapat wilayah yang bernama Gunung Cahaya Gemilang. Semenjak lama gunung ini menjadi tempat kediaman para Bodhisattva, dan sekarang ini Bodhisattva Samantabhadra bersama sekelompok Bodhisattva lain sejumlah 3.000 orang menetap di gunung ini untuk membabarkan Dharma.” Apakah benar Gunung Cahaya Gemillang yang digambarkan dalam Sutra menunjuk pada gunung Emei? Yang jelas Gunung Emei telah menjadi gunung yang memiliki jodoh karma yang tak terpisahkan dengan nama Bodhisattva Samantabhadra. Semenjak dikenal sebagai pusat pembabaran Dharma Bodhisattva Samantabhadra, berdirilah puluhan vihara di seantero Gunung Emei yang merupakan salah satu Empat Gunung Buddha di Tiongkok.

Emei shan di Provinsi Sichuan, China
Salah satu vihara di Emei shan, Baoguo Temple

Pada prinsipnya, semua Bodhisattva menapak jalan yang setara serta melalui berbagai upaya kausalya (metode praktis – bijaksana), salah satunya dalam bentuk wujud jelmaan untuk membimbing makhluk hidup agar berkenan memasuki pemahaman Dharma. Demikian juga dengan Samantabhadra yang menekankan upaya kausalya segi praktik dan perilaku dalam menempuh Jalan Bodhisattva untuk membahagiakan semua makhluk. Tidak hanya berada di Gunung Emei saja, Samantabhadra sesungguhnya menjelma dalam wujud yang tak terhitung di seluruh alam semesta ini sebagai manifestasi pelaksanaan Praktik Samantabhadra. Lebih jelasnya, saat praktik Dharma muncul dalam pikiran, ucapan dan tindakan jasmani setiap makhluk hidup, maka di situlah tempat persemayaman yang sebenarnya dari Bodhisattva Samantabhadra.

 

Sumber: Majalah Sinar Dharma Vol. 5 No. 1, Maret – Mei 2007