Buddhisme dan Euthanasia

Euthanasia, berasal dari bahasa Yunani yang artinya kematian yang baik, merupakan praktik mengakhiri hidup dengan sengaja agar penderitaan dan rasa sakit hilang. Terdapat dua jenis euthanasia, yaitu yang disadari maupun tak disadari. Euthanasia sadar adalah saat kematian dipercepat dengan izin orang yang sudah mendekati ajal, dan yang tidak sadar adalah ketika euthanasia dilakukan tanpa izin orang yang bersangkutan, sebab orang tersebut sudah mati otak atau sudah lama berada dalam keadaan koma. Selain itu, euthanasia juga bisa dibagi lagi menjadi euthanasia aktif dan pasif. Yang aktif adalah ketika sesuatu dilakukan untuk mengakhiri hidup, misalnya dengan cara suntik mati. Sedangkan euthanasia pasif adalah ketika pengobatan dihentikan dan membiarkan seseorang meninggal secara alami. Hukum mengenai euthanasia berbeda-beda untuk setiap negara, oleh karena itu di sini kita hanya akan membahas euthanasia dari sisi moral, bukan dari sisi hukum apakah melanggar undang-undang atau tidak.

Agama Buddha mengajarkan kita untuk tidak membunuh makhluk lain, seperti yang dikatakan dalam Pancasila Buddhis. Jadi, kalau dipandang sekilas, memang kelihatannya euthanasia tidak diperbolehkan dalam Buddhisme. Akan tetapi, perlu diingat juga bahwa Pancasila Buddhis bukanlah peraturan absolut dan mesti dipatuhi apapun keadaannya, melainkan merupakan panduan melatih diri dan bukan perintah. Selain itu, dalam agama Buddha juga ditekankan bahwa kita harus bertindak dengan belas kasih. Oleh karena itu, jika seseorang sedang dalam penderitaan akibat sudah mendekati ajal, bukankah kita berbuat baik dengan cara mempercepat kematian mereka, baik dengan izin orang yang bersangkutan maupun setelah berkonsultasi dengan dokter?

Sama halnya dengan isu-isu bermasalah lainnya, terdapat beberapa pandangan mengenai hal ini. Pertama-tama, Dalai Lama pernah mengatakan bahwa semua kehidupan itu berharga, sehingga lebih baik menghindari euthanasia. Akan tetapi, beliau kemudian mengatakan bahwa pasti ada kasus khusus, oleh karena itu, setiap situasi harus dipertimbangkan sendiri. Dari sini, bisa kita simpulkan bahwa euthanasia diperbolehkan dalam keadaan-keadaan tertentu.

Kemudian, Bhikkhu Thanssaro menyatakan bahwa Buddha Gautama tidak pernah mencoba mempermudah transisi orang yang sakit ke kematian, tapi melainkan berkonsentrasi pada wawasan mengenai penderitaan dan berakhirnya penderitaan. Jadi, dari sudut pandang Buddha Gautama, mendorong orang yang sakit untuk menyerah dalam memperjuangkan mereka bukanlah perbuatan yang baik.

Sedangkan Lama Zopa Rinpoche mengatakan bahwa ia lebih khawatir tentang di mana orang tersebut akan dilahirkan selanjutnya. Orang-orang bisa saja menganggap bahwa melakukan euthanasia adalah tindakan belas kasihan, tapi beliau mengatakan hal ini juga harus dilakukan secara bijaksana. Apabila orang yang bersangkutan nantinya akan mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan dalam kehidupan selanjutnya, maka euthanasia adalah tindakan yang benar. Akan tetapi, jika hal ini malah menyebabkan orang tersebut akan terlahir di alam lebih rendah, maka penderitaan mereka akan bertambah jutaan kali.

Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa jika seseorang akan berada dalam koma selama bertahun-tahun, daripada menghabiskan banyak uang menjaganya tetap hidup, lebih baik mesin penyokong hidup dicabut dan uangnya digunakan untuk mengurangi karma buruk mereka, yang dapat membuat mereka menderita di kehidupan berikutnya.

Jadi, kesimpulannya, euthanasia dalam agama Buddha semuanya bergantung pada tiga faktor ini; tidak membunuh, belas kasih, dan kebijaksanaan.

Buddha Gautama mengajarkan Dharma agar kita tidak membawa penderitaan bagi orang lain maupun diri kita sendiri. Dharma merupakan pedoman, dan jika kita mengubahnya menjadi peraturan absolut yang kaku, kita bisa berisiko mengambil keputusan yang salah dan menyebabkan penderitaan pada orang lain atas nama agama Buddha. Belas kasih harus datang dari pengalaman dan pengertian kita sendiri terhadap dunia ini. Tindakan yang baik tidak seharusnya dilakukan dalam simpati, melainkan dalam empati. Jika kita sudah melakukannya seperti itu, maka itu berarti perbuatan sudah dilakukan dengan bijaksana.

Oleh karena itu, euthanasia hendaknya ditindaki berdasarkan kasus-kasus individual. Jika mungkin, euthanasia harus diputuskan tiga arah, yaitu di antara pasien, keluarga, serta tim medis. Apabila pasien tidak bisa dilibatkan, maka kedua pihak lainnya harus melakukan apa yang mereka yakini benar dan yang terbaik untuk pasien. Tentu saja semua kehidupan itu berharga, tetapi jika seseorang telah kehilangan semua kualitas kehidupannya dan tidak akan pernah sembuh dari penyakit mereka, memang kelihatannya euthanasia adalah pendekatan yang terbaik.

Bayangkan orang tercinta Anda terbaring kesakitan akibat penyakit parah yang mematikan. Apakah yang Anda anggap tindakan yang benar dan bijak untuk dilakukan? Membiarkan mereka menderita dalam kehidupan ini, berharap bahwa kehidupan selanjutnya akan lebih baik, atau bebaskan mereka dari penderitaan sekarang juga? Ini bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab, dan tentunya tidak ada orang yang ingin menghadapi situasi ini. Akan tetapi, seandainya Anda menghadapi hal ini, semoga Anda dapat bertindak dengan belas kasih dan bijaksana, daripada bersembunyi di balik teks-teks kuno atau apa yang seseorang pikir Buddha Gautama katakan atau tidak katakan. Lagipula, agama Buddha mendorong kita untuk berpikir untuk kita sendiri dan tidak dengan buta mengikuti apa yang dikatakan orang lain.

Akhir kata, semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Apabila hal ini terjadi pada Anda, semoga Anda dapat menyelesaikan dilema ini dengan bijak dan penuh belas kasih. Sadhu.