Buddhisme dan Tradisi

Di Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia, banyak terdapat umat Buddha yang khususnya remaja yang tidak memiliki pemahaman jelas akan hal tersebut. Banyak dari mereka yang mengira tradisi sebagai Ajaran Buddha. Untuk itu pada tulisan kali ini akan dibahas mengenai hal tersebut.

Sedikit melihat sejarah sebagai suatu contoh, Agama Buddha memang bukan berasal dari Tiongkok, namun perkembangannya di Negeri Tiongkok amatlah pesat. Agama Buddha pertama kali masuk pada jaman Dinasti Han, tepatnya pada masa kekuasaan Kaisar Han Ming Di dan terus mengalami perkembangan selama berabad-abad hingga ke dinasti-dinasti berikutnya. Sampai hari ini pun apabila kita pergi ke Negeri Tiongkok (Republik Rakyat Cina) masih sangat banyak peninggalan baik dalam bentuk benda maupun juga tempat bersejarah yang berhubungan dengan agama Buddha. (Keterangan: Bagi yang mengetahui Revolusi Kebudayaan di Negeri Tiongkok pada tahun 1959; selama masa revolusi ini memang banyak, tempat bersejarah Agama Buddha yang dilenyapkan, namun pemusnahan tersebut tidak menjangkau semuanya dan sangat banyak yang masih ada hingga hari ini)

Selama jangka waktu yang panjang itu Buddhisme telah cukup banyak mempengaruhi Budaya Tionghoa dan kepercayaan masyarakat setempat di sana. Seiring dengan banyaknya penduduk di Tiongkok Daratan yang bermigrasi ke negara-negara di Asia Tenggara, yang mana mereka juga membawa serta budaya dan kepercayaannya, maka dapat dilihat di seluruh wilayah Nusantara ini, mayoritas orang Tionghoa apabila ditanyakan mengenai apakah agama orang tua atau kakek nenek atau leluhurnya, mereka akan menjawab agama Buddha. Namun apakah benar beragama Buddha? Mungkin saja benar beragama Buddha, tetapi agama Buddha menurut versi mereka masing-masing.

Saat ini di Indonesia, khususnya di kota besar yang beragama Buddha merupakan warga keturunan Tionghoa. Walaupun di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur dan beberapa wilayah lain masih cukup banyak warga setempat yang beragama Buddha, namun ini hanya di daerah tersebut saja. Di banyak kota besar biasanya yang beragama Buddha adalah warga keturunan Tionghoa, bahkan ada sebagian orang yang beranggapan bahwa “Agama Buddha adalah Agama orang Tionghoa”.

Sampai di sini, secara umum dilihat warga keturunan Tionghoa biasanya pasti pernah melihat atau membakar kertas emas (jin zhi), kertas perak (yin zhi), dan berbagai jenis kertas-kertas sembahyang lainnya dalam upacara persembahyangan. Pada umumnya orang tua mereka mengajarkan untuk melakukan hal itu.

Buddhisme dan Tradisi
Buddhisme dan Tradisi

Selain itu, mulai dikenal istilah chong / ciong dan bermacam-macam tabu. Kemudian apabila kita bertanya sebagai umat Buddha apa yang dilakukan? Banyak warga keturunan Tionghoa  akan menjawab, “Tiap hari membakar dupa menghadap ke Angkasa sembahyang Ti Kong, kalau ce it cap go ke vihara pasang dupa (kalau dupa semakin besar dan diangkat semakin tinggi maka akan semakin “cun” atau doanya makin cepat terkabul), membakar berbagai jenis kertas dalam upacara persembahyangan, kalau sembahyang leluhur, dan sejenisnya. Melihat hal ini sangat banyak anak-anak maupun cucu mereka yang merasa hidup di jaman modern, menanggapi hal tersebut sebagai sesuatu yang “kuno” kemudian beranggapan Agama Buddha sebagai “Agama Kuno” atau “Agama Tahayul”.

Semua ini terjadi karena kurangnya pemahaman mengenai Buddhisme dan Tradisi. Buddhisme adalah ajaran yang sangat fleksibel, sampai di mana penyebarannya maka Buddhisme akan berakulturasi dengan budaya setempat sebagai bentuk penyesuaian dan juga agar dapat diterima oleh masyarakat setempat.

lanjut —>