Buddhisme Tanah Murni – Buddha Amitabha

Salah satu aliran agama Buddha yang paling banyak penganutnya di Asia Timur adalah Buddhisme Tanah Murni, yang dipercaya merupakan cabang dari agama Buddha Mahayana. Kebanyakan ajaran dalam aliran ini didasarkan pada Buddha Amitabha atau Buddha Amida. Tanah Murni dikenal dengan berbagai sebutan sesuai dengan budaya dan kepercayaan masing-masing negara, tapi secara mendunia dikenal dengan nama Amidisme. Tanah Murni adalah aliran agama Buddha terbesar yang ditemukan di Tiongkok dan Asia Timur.

Sejarah Buddhisme Tanah Murni

Diyakini bahwa Buddhisme Tanah Murni berasal dari India, dan beberapa orang percaya bahwa Tanah Murni berasal dari Kashmir dan Asia Tengah. Sutra-sutra awal Buddhisme Tanah Suci ditulis dalam bahasa Gandhara yang ada hubungannya dengan Sansekerta. Terdapat beberapa gambar yang menunjukkan Buddha Amitavha dengan Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahasthaprapta, yang termasuk dalam 8 Bodhisattva teratas. Pada awalnya, teks dan praktik Buddhisme Tanah Murni disebarkan oleh ajaran agama Buddha Mahayana yang juga termasuk Nagarjuna dan Vasuvandu.

Buddhisme Tanah Murni pertama kali dikenalkan di Tiongkok pada tahun 147 M awal ketika seorang bhiksu Kushan bernama Lokaksema mulai menerjemahkan sutra Buddhisme Tanah Murni ke dalam bahasa Mandarin. Akan tetapi, aliran ini baru terkemuka 3 abad kemudian setelah dibangunnya Kuil Donglin di Gunung Lu pada tahun 402 M. Ajaran dan praktik Tanah Murni dengan cepat menyebar ke seluruh Tiongkok dan disistemasi oleh beberapa pemikir monastik elit, seperti Huiyuan, Tanluan, Daochuo, dan Shandao, serta banyak pemikir dan bhiksu Buddhis elit lainnya. Sekitar abad ke-10, seorang bhiksu bernama Honen Shonin memperkenalkan Buddhisme Tanah Murni di Jepang dan pelan-pelan menjadi terkemuka di Genshin dan Fujiwara no Michinaga serta kota-kota Jepang lainnya. Buddhisme Tanah Murni pun mendirikan suatu sekte dan dikenal dengan nama Judo Shu di Jepang dan menjadi aliran agama Buddha terkemuka di China, Jepang, Korea, Taiwan dan Vietnam.

Buddha Amitabha dalam Buddhisme Tanah Murni

Buddhisme Tanah Murni – Buddha Amitabha
Buddhisme Tanah Murni – Buddha Amitabha

“Namo Amitabha Buddha”

Namo Amitabha Buddha adalah salah satu mantra yang paling sering diujarkan dalam Buddhisme Tanah Murni dan bahkan juga terkenal bagi orang non Buddhis dan penganut aliran lain. Telah banyak Buddha yang ada dalam sejarah manusia, sehingga banyak orang tidak tahu siapa itu Buddha Amitabha. Menurut Tanah Murni,

  1. Buddha Amitabha adalah seseorang yang telah memenuhi Sumpah Mendasar.
  2. Buddha Amitabha bersumpah untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaa.
  3. Buddha Amitabha memberkati orang yang menyebutkan namaNya dengan sinarNya.
  4. Buddha Amitabha akan menerima orang yang menyebutkan namaNya setelah ia meninggal dunia.

Salah satu alasan yang membuat Amitabha “Namo Amitabha Buddha” adalah karena Ia telah memenuhi sumpah mendasarnya. Meskipun semua Buddha yang telah ada punya sumpah mendasar mereka sendiri, sumpah yang diambil Buddha Amitabha berbeda. Dipercaya bahwa setiap Buddha (yang lalu maupun yang akan datang) harus mengambil Empat Sumpah Besar untuk mencapai keBuddhaan.

“Sumpah Buddha Amitabha melebihi semua” – kata Buddha Sakyamuni.

Dalam Buddhisme Tanah Murni, dikatakan bahwa setelah mengucapkan mantra Buddha Amitabha, Buddha Amitabha akan melindungi pembaca mantra sepanjang hari dan malam serta tidak akan membiarkan musuh mendekatinya. Setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir di Tanah Murni. Tak peduli apakah pembaca mantra adalah orang yang luar biasa baik atau hanya biasa-biasa saja, apakah mereka tahu atau tidak tahu cara mempraktikkan Dharma, selama mereka mengucapkan nama Buddha Amitabha dengan tekad kuat, mereka akan terlahir di Tanah Murni.

“Tanpa diundang, Dia menjadi teman semua makhluk dan memikul beban karma mereka yang berat”- dikatakan dalam Amitabha Sutra.

Ini artinya Buddha Amitabha tidak perlu diundang atau diminta selama pembaca mantra mengucapkan namaNya, Ia akan menebus segala hambatan karma.