Burung Gagak yang Termakan Rayuan

Suatu ketika, Bodhisatta terlahir sebagai roh pohon yang tinggal di pohon apel. Pada suatu hari seekor burung gagak hinggap di pohon apel itu dan mulai memakan apel yang telah matang. Kemudian seekor serigala yang licik mendatangi pohon apel yang sama, ia juga ingin memakan apel.

Serigala mulai memuji burung gagak, “Siapakah yang menyanyi di atas pohon apel dengan suara yang merdu? Siapakah yang hinggap dengan elok seperti burung merak?” Ketika burung gagak mendengar pujian tersebut, ia mengepakkan sayapnya. Kemudian ia membalas, “Hanya yang terlahir di lingkungan elit yang mengetahui bagaimana cara memuji.” Dengan pujian tersebut, burung gagak memberikan apel kepada serigala untuk dimakan.

Burung Gagak yang Termakan Rayuan
Burung Gagak yang Termakan Rayuan

Roh pohon mendengar burung gagak dan serigala saling memuji hanya untuk tujuan memakan buah apel. Kemudian roh pohon mengucapkan kata-kata bijaksana, “Hanya pembohong seperti burung gagak yang memakan bangkai dan serigala kekanak-kanakan yang suka berbohong dapat berkumpul bersama untuk saling memuji tanpa arti.”

Akhirnya, Bodhisatta mengubah dirinya menjadi makhluk mengerikan untuk menakuti burung gagak dan serigala agar segera pergi dari pohon apel.

“Janganlah berpura-pura memuji orang lain karena menginginkan sesuatu”

 

Sumber: Majalah Swara Dhammasena Edisi Pertama