Burung Merpati dan Burung Gagak

Kemudian suatu hari ada kiriman daging dan ikan segar yang banyak ke rumah si orang kaya. Si koki pun menggantungkannya pada gantungan di dapur untuk disimpan.

Si gagak melihat ini dan menjadi kegirangan akan makanan yang banyak sekali. Ia menjadi tamak dan mulai berencana mencurinya semua untuk dirinya sendiri. Dia lalu memutuskan untuk berpura-pura sakit. Sepanjang malam ia merintih-rintih dan mengerang.

Pagi harinya, si merpati bersiap-siap pergi mencari makanan seperti biasa. Si gagak mengatakan, “Pergilah tanpa saya, merpati, sepanjang malam saya merasa sakit.”

Merpati menjawab, “Gagak, hal itu terdengar aneh sekali. Saya tidak pernah mendengar ada gagak yang sakit perut. Tapi saya pernah dengar kalau mereka kadang-kadang akan pingsan karena kelaparan. Saya curiga kamu ingin makan sebanyak mungkin daging dan ikan yang ada di dapur. Tapi itu makanan untuk manusia, bukan gagak. Manusia tidak makan makanan merpati. Merpati tidak memakan makanan gagak. Dan sebaiknya kamu tidak memakan makanan manusia. Siapa tahu berbahaya untuk pencernaan! Jadi ikut saya seperti biasa, dan berpuaslah dengan makanan gagak!”

Si gagak berkata, “Saya sakit, merpati. Pergilah tanpa saya.”

“Baiklah,” kata merpati, “tapi tindakan kamu tidak sesuai dengan perkataan. Sudah saya peringatkan, jangan pertaruhkan hidup hanya karena tamak. Bersabarlah sampai saya kembali.” Si merpati pun pergi mencari makan.

Tapi si gagak mengabaikan nasihatnya. Yang ada di pikiran hanyalah sepotong ikan yang besar, dan merasa senang bahwa si merpati sudah pergi. “Biar saja dia makan biji rumput!” pikirnya.

Sementara itu, si koki sedang memasak daging dan ikan di dalam panci yang besar. Agar uapnya bisa keluar, ia membuka tutupnya sedikit. Si gagak pun bisa mencium baunya yang harum dari uap yang mengepul. Dari rumah burung, bisa dilihatnya si koki keluar dari dapur agar tidak kepanasan.

Si gagak pun berpikir inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu. Jadi ia terbang ke dalam dapur dan bertengger di tepi panci. Pertama-tama, dia mencari-cari ikan mana yang paling besar. Kemudian dia masukkan kepalanya ke dalam untuk mengambilnya. Tapi, tak sengaja dia mendorong jatuh tutup panci! Suaranya yang keras pun langsung mendatangkan si koki ke dapur.

Ia pun melihat seekor gagak di pinggir panci dengan ikan yang bahkan lebih besar dari gagaknya! Segera, dia menutup pintu dan jendela dapur. Si koki berpikir, “Makanan ini untuk si orang kaya. Saya bekerja untuk dia, bukan untuk burung gagak sialan! Saya akan memberinya pelajaran yang tak terlupakan!”

Si koki ini tidak pernah belajar Dhamma, sehingga ia tidak akan ragu-ragu bersikap kejam ketika ada kesempatan. Sama sekali tidak ada rasa kasihan pada diri si koki terhadap si gagak.

Ia pun menangkap si gagak, dan mencabut semua bulunya. Si gagak yang malang terlihat sangat konyol tanpa bulu-bulu hitam mengkilatnya. Kemudian si koki yang pendendam membuat pasta pedas dari jahe, garam, dan cabai. Ia lalu menggosok-gosokkan pasta ke seluruh kulit si gagak yang kesakitan. Kemudian si koki melepaskan si gagak ke rumah burung dan menertawainya.

Si gagak berkeringat tak karuan dan menderita rasa sakit membara yang luar biasa. Dia pun menangis kesakitan sepanjang hari.

Pada malam harinya, merpati kembali dari kegiatan mencari makannya. Dia terkejut melihat keadaan temannya si gagak yang buruk sekali. Dia berkata, “Jelas-jelas, kamu tidak mendengarkan saya sama sekali. Itulah akibat ketamakan kamu. Saya menyesal tidak ada lagi yang bisa saya lakukan untuk menolongmu. Dan saya jadi takut tinggal di rumah burung ini dekat dengan koki itu. Saya harus pergi secepatnya!”

Kemudian si merpati pun pergi meninggalkan gagak untuk mencari rumah burung yang lebih aman. Si gagak pun mati kesakitan.

Moral cerita: Hati-hati agar jangan tamak, karena ketamakan bisa membuat Anda celaka.

 

Sumber: terjemahan The Pigeon and the Crow dari www.buddhanet.net