Candi Bahal – Peninggalan Kerajaan Buddhis Sriwijaya di Sumatera

Apabila Anda sedang berada di Tapanuli, Sumatera Utara, tepatnya di Padang Lawas, singgahlah ke candi kuno bersejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini, yang jaraknya sekitar 8 jam perjalanan dengan kereta api dari Medan ditambah dengan perjalanan darat dari Kota Portibi, Padang Lawas.

Candi ini disebut Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi. Dinamakan demikian berkat lokasinya, bangunan ini diperkirakan telah ada selama ribuan tahun dan dibangun pada abad ke-11. Sebenarnya, masih belum jelas apakah candi ini dibangun oleh Raja Hindu Shiva dari Tamil di India Selatan atau oleh Kerajaan Pannai yang merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya.

Candi Bahal – Peninggalan Kerajaan Buddhis Sriwijaya di Sumatera
Candi Bahal – Peninggalan Kerajaan Buddhis Sriwijaya di Sumatera

Menurut para peneliti, tiga bangunan candi yang terdapat di Bahal adalah bagian dari 26 candi yang tersebar di seluruh Padang Lawas Utara. Ketiga bangunan – Candi Bahal I, II, dan III – berjarak kira-kira 500 meter. Di dekat sana, sekitar beberapa kilometer jauhnya, juga terdapat candi lainnya yang disebut Kompleks Candi Pulo. Candi Bahal ini terletak di tepi Sungai Batang Pane, yang dikatakan pernah menjadi jalur transportasi yang penuh aktivitas ekonomi. Sayangnya, sekarang ini sungai tersebut tidak lagi bisa dilewati kapal dagang karena sudah tertimbun lumpur.

Kompleks Candi Bahal juga terkenal sebagai kompleks candi terbesar di Sumatera Utara. Ketiga candi dibangun dari batu bata merah; seperti candi-candi di Jawa Timur, sementara patung-patung di dalamnya diukir dari batu pasir. Masing-masing candi dikelilingi tembok bata tebal setinggi 1 meter, dengan pintu gerbang di bagian timur dan memanjang ke luar dengan tinggi dinding 60 cm di kedua sisi. Di tengahnya, terdapat candi utama dengan pintu masuk yang menghadap gerbang.

Candi Bahal – Peninggalan Kerajaan Buddhis Sriwijaya di Sumatera
Candi Bahal – Peninggalan Kerajaan Buddhis Sriwijaya di Sumatera

Pusat kompleks candi ini yaitu Candi Bahal I, yang merupakan candi utama dan berukuran lebih besar daripada kedua candi lainnya. Arsitektur candi ini mirip dengan Candi Jabung di Probolinggo, Jawa Timur, dengan pondasi, kaki, badan, dan atap yang semuanya terletak di atas dasar persegi panjang berukuran kira-kira 7 meter. Masing-masing candi berbeda-beda dan dihiasi dengan berbagai arca Hindu dan Buddha. Setiap hari Waisak, banyak umat Buddha yang datang ke candi ini untuk beribadah.

Beberapa ahli yang sudah melakukan riset penting di Candi Bahal antara lain Franz Junghun (1846), Von Rosenberg (1854), Kerkhoff (1887), Stein Callenfels (1920 dan 1925), De Haan (1926), Krom (1923), dan F.M. Schinitger yang dikenal berjasa mengungkap sejarah kepurbakalaan di Sumatera.

Arkeolog Jerman F.M. Schinitger tahun 1935 meneliti candi ini berdasarkan prasasti Tanjore yang berbahasa Tamil dan dibuat oleh  Raja Coladewa dari India Selatan tahun 1030. Raja ini menaklukkan Pannai merujuk catatan I-tsing. Schinitger menyimpulkan candi ini berkaitan dengan agama Budha aliran Wajrayana yang berbeda dengan ajaran Budha sekarang. Hal ini yaitu berciri bengis melihat pada arca berwajah raksasa dengan raut muka  menyeramkan. Begitu pula relief pada dinding candi yang menggambarkan raksasa yang sedang menari dengan tarian tandawa. Ciri-cirinya beringas, bengis, dan cenderung dekat pada upacara-upacara yang sadis. Hal ini diperkuat pula dengan informasi dari beberapa tulisan pada lempengan emas maupun batu yang ditemukan.

Arca Heruka

Di runtuhan Candi Bahal II ditemukan Arca Heruka, satu-satunya jenis arca sejenis di Indonesia. Penggambarannya sangat sadis dengan setumpuk tengkorak dan raksasa yang sedang menari-nari di atas mayat. Bambang Budi Utomo, seorang peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menuliskan di Harian Kompas, Jumat, 23 September 2005,  “Tangan kanan (raksasa itu) diangkat ke atas sambil memegang vajra sedangkan tangan kiri berada di depan dada sambil memegang sebuah mangkuk tempurung kepala manusia”.

Dalam aliran Budha Wajrayana ada upacara tantrayana yang digambarkan sebagai tindakan sadis dimana tidak lepas dari mayat dan minuman keras. Ada juga upacara bhairawa yang dilakukan di atas ksetra, lapangan tempat menimbun mayat sebelum dibakar. Di tempat ini mereka bersemedi, menari-nari, meramalkan mantra, membakar mayat, minum darah, dan tertawa-tawa sambil mengeluarkan dengus seperti kerbau. Tujuannya agar bisa kaya, panjang umur, perkasa, kebal, dapat menghilang, dan menyembuhkan orang sakit. Agar lebih sakti, mereka berulang-ulang merapal nama Buddha atau Bodhisattwa. Ini dipercaya orang Wajrayana di Padang Lawas untuk membuat perasaan tenang atau mendapat mukjizat dilahirkan kembali atas kekuasaan Dewa yang dipuja (konsep reinkarnasi).

Pada dinding candi, dapat kita temukan relief-relief yang menggambarkan penari dan raksasa, serta kisah Sang Buddha. Akan tetapi, terdapat juga Arca Gayatri di candi ini yang jelas mewakili umat Hindu. Di sini kita bisa merasakan harmoni dan pengaruh Buddha dan Hindu yang berpadu sempurna. Jika masyarakat zaman dulu bisa rukun dalam kehidupan beragama, sampai-sampai berbagi tempat beribadah, kenapa kita tidak? Yuk, mari lestarikan tempat-tempat bersejarah seperti Candi Bahal ini agar generasi selanjutnya dapat belajar dari sejarah.

Meski merupakan kawasan wisata sejarah, tidak terlihat jejeran kios penjual makanan atau souvenir di sekitarnya. Masyarakat sekitar, mengetahui ada komplek percandian namun tiap harinya bisa dikatakan tidak ada pengunjung. Bisa dimaklumi sebab angkutan umum ke komplek candi ini relatif jarang dan memakan waktu.

Candi Bahal sendiri sudah resmi dijadikan sebagai objek wisata oleh pemerintah. Tempat ini  hanya ramai pada saat-saat tertentu seperti hari libur, Lebaran, atau Tahun Baru. Pengunjungnya adalah masyarakat desa sekitar Padang Bolak dan Barumun. Kondisi terakhir Jalan menuju candi ini berlumpur dan tidak terawat.

Bhikkhu Jinadhammo Mahatera sedang memimpin kebaktian bersama Umat di Candi Bahal baru-baru ini. Anumodana