Seri Tokoh Buddhis #8 – Devadatta, Siswa yang mengkhianati Sang Buddha

Menurut kisah-kisah dalam agama Buddha, Devadatta merupakan sepupu Pangeran Sidharta serta juga saudara laki-laki istrinya, Putri Yasodhara. Dikatakan Devadatta yang menyebabkan perpecahan dalam Sangha dengan mempengaruhi 500 orang bhikkhu untuk mengikutinya, bukan Sang Buddha.

Kisah Dendam Devadatta telah dimulai saat mereka masih usia kanak-kanak. Ketika pangeran Siddharta sedang beristirahat di bawah pohon, tiba-tiba ia melihat seekor angsa jatuh dari angkasa. Ia tahu bahwa Pangeran Devadatta telah memanah angsa tersebut. Dengan segera Pangeran Siddhattha menolong si angsa. Pangeran Devadatta juga mengejar angsa itu, namun Pangeran Siddhattha berhasil terlebih dulu menyelamatkan angsa itu dan dengan lembut Ia menarik anak panah itu keluar dari sayapnya, lalu memetik beberapa tanaman obat dan meneteskan getahnya pada luka si angsa. Ia juga mengelus angsa tersebut dengan lembut dan menenangkannya. Angsa itu didekap di dadanya supaya merasa hangat dan nyaman.

Pangeran Devadatta yang baru saja tiba menuntut agar angsa itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddharta menolaknya. Dengan marah Devadatta maju dan mencoba merebut angsa itu sambil berteriak “Angsa itu milikku, akulah yang memanahnya. Kembalikan ia padaku!”. Namun pangeran Siddharta menjauh dan menjawawb “Tak akan kuberikan kepadamu. Tidak akan pernah. Kalau angsa ini mati karena kamu panah tadi barulah ia menjadi milikmu. Namun dia hanya terluka dan masih hidup. Aku telah menyelamatkan hidupnya. Karena itu angsa ini menjadi milikku”.

Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran Devadatta berpendapat bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddharta mengatakan bahwa Ia yang berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya. Akhirnya Pangeran Siddharta mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke pengadilan para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa tersebut.

Setelah diajukan ke pengadilan para bijak, akhirnya salah satu dari para bijak tersebut berseru, “Semua makhluk patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup. Kehidupan tak pantas dimiliki oleh orang yang berusaha menghancurkannya. Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran Siddharta. Karenanya, angsa ini mesti dimiliki oleh penyelamatnya, yaitu Pangeran Siddharta!”

Pangeran Siddharta menyelamatkan seekor angsa yang dipanah Devadatta

Cerita mengenai Devadatta dapat kita baca di Pali Kanon. Dalam kisah ini, Devadatta memasuki Sangha pada waktu yang sama dengan Ananda beserta bangsawan-bangsawan muda lainnya dari klan Sakya, yaitu klan asal Pangeran Sidharta.

Setelah menjadi bhikkhu, Devadatta selanjutnya pun bekerja keras melatih diri. Akan tetapi, lama-kelamaan ia merasa frustrasi karena gagal menjadi Arahat. Jadi, sebagai gantinya, ia malah fokus bermeditasi untuk mengembangkan kekuatan batin daripada berusaha mencapai penerangan.

Dendam Devadatta

Dikatakan bahwa ia menjadi cemburu dengan kerabat satu klannya, yaitu Sang Buddha. Devadatta percaya bahwa ialah yang seharusnya menjadi pemimpin Sangha.

Suatu hari, ia menemui Sang Buddha dan mengatakan bahwa Sang Buddha sudah semakin menua. Ia menyarankan bahwa Sang Buddha mengangkatnya untuk menjadi pemimpin Sangha agar beban Beliau terkurangi. Akan tetapi, Sang Buddha menolak dengan keras dan mengatakan bahwa Devadatta tidak pantas memimpin Sangha. Oleh karena itu, dimulailah rasa permusuhan Devadatta terhadap Sang Buddha.

Kelak, Sang Buddha akan ditanyakan bagaimana respon keras terhadap Devadatta bisa dikatakan sebagai Ucapan Benar. Hal ini akan kami jelaskan di akhir artikel.

Pada saat yang sama, Devadatta juga bertekad untuk membunuh Sang Buddha agar ia dapat mengambil alih Sangha. Agar pembunuhan ini tidak bisa ditelusuri balik ke Devadatta, rencananya adalah mengirim kelompok kedua pembunuh bayaran untuk membunuh kelompok yang pertama dikirim, lalu kemudian kelompok ketiga akan muncul untuk membunuh kelompok kedua, dan seterusnya sampai beberapa kali. Akan tetapi, ketika para pembunuh bayaran tersebut mendekati Sang Buddha, mereka tidak sanggup menjalankan perintah mereka.

Kemudian, setelah rencana mengirimkan pembunuh bayaran gagal, Devadatta mencoba membunuh Sang Buddha sendiri, dengan menjatuhkan batu di atas Beliau. Namun, batunya malah mengenai sisi gunung dan pecah berkeping-keping. Percobaan pembunuhan berikutnya melibatkan seekor gajah besar yang sudah diberi obat agar mengamuk, tetapi gajah tersebut langsung tenang di hadapan Sang Buddha.

Sang Buddha menenangkan gajah yang mengamuk

Akhirnya, Devadatta mencoba memecah belah Sangha dengan mengklaim kejujuran moral yang lebih unggul. Ia mengajukan sebuah daftar aturan yang menurutnya harus dijalankan semua bhikkhu dan bhikkhuni, yaitu:

  1. Para bhikkhu harus tinggal di hutan.
  2. Para bhikkhu harus hidup hanya dengan makanan yang didapat saat pindapata, dan tidak boleh menerima undangan makan dengan orang lain.
  3. Para bhikkhu harus mengenakan jubah yang hanya terbuat dari kain-kain sisa yang dikumpulkan dari tumpukan sampah dan tempat kremasi. Mereka tidak boleh menerima dana kain.
  4. Para bhikkhu harus tidur di bawah pohon dan tidak di bawah naungan atap.
  5. Para bhikkhu tidak boleh makan ikan atau daging seumur hidup mereka.

Sang Buddha merespon persis seperti yang Devadatta perkirakan. Beliau mengatakan bahwa para bhikkhu boleh mengikuti keempat aturan pertama jika mereka mau, tapi Sang Buddha menolak mewajibkan peraturan-peraturan ini diikuti oleh para bhikkhu. Sedangkan peraturan kelima ditolak sepenuhnya oleh Sang Buddha.

Devadatta lalu mempengaruhi 500 orang bhikkhu bahwa aturan yang dibuatnya adalah jalan yang lebih benar untuk mencapai penerangan, dibandingkan dengan ajaran Buddha. Akibatnya, 500 bhikkhu ini pun mengikuti Devadatta dan menjadi pengikutnya. Selanjutnya, Sang Buddha mengirimkan dua siswanya, Sariputta dan Mahamoggallana, untuk mengajarkan Dhamma kepada bhikkhu-bhikkhu tersebut. Setelah mendengarkan Dhamma yang benar, ke-50 orang bhikkhu itu pun kembali kepada Sang Buddha.

Setelah semua rencananya gagal, Devadatta kemudian sakit parah. Saat menjelang ajalnya, ia bertobat menyadari segala kesalahannya, serta ingin menemui Sang Buddha sekali lagi saja.

Para pengikutnya lalu membawanya dengan tandu untuk pergi ke Vihara Jetavana, tempat Sang Buddha sedang berdiam. Akan tetapi, sebelum mencapai Sang Buddha, Devadatta bangkit dari tempat berbaringnya untuk menjejakkan kaki di tanah. Tiba-tiba, saat itu juga kakinya masuk ke dalam tanah dan sedikit demi sedikit, Devadatta ditelan bumi. Demikianlah Devadatta tidak sempat menjumpai Sang Buddha sebelum kematiannya, dan dilahirkan kembali di alam neraka Avici karena karma buruknya yang berat.

Kehidupan Devadatta versi lain

Kehidupan Sang Buddha dan para siswanya dilestarikan melalui mulut ke mulut sebelum akhirnya kisah-kisah tersebut ditulis. Versi Pali, yang merupakan pondasi dari Buddhisme Theravada, adalah yang paling terkenal. Sementara itu, ada juga versi lain yang dilestarikan oleh aliran Mahasangika, yang terbentuk sekitar tahun 320 SM. Mahasangika merupakan cikal bakal Mahayana.

Mahasangika mengingat Devadatta sebagai bhikkhu yang taat dan suci. Tidak ada satu pun cerita tentang “Devadatta yang jahat” dalam versi kanon milik mereka. Hal ini membuat beberapa cendekiawan berspekulasi bahwa kisah tentang pengkhianatan Devadatta diciptakan relatif baru.

Bahkan dikatakan bahwa sebelum Devadatta ditelan bumi, ia sempat berseru menyatakan bahwa ia berlindung kepada Triratna. Menurut sumber naskah Mahayana, dikatakan setelah Devadatta keluar dari neraka, ia akan menjadi Paccekabuddha berkat kebajikan yang telah dilakukannya.

Abhaya Sutta, tentang Ucapan Benar

Jika kita menganggap bahwa versi Pali dari kisah Devadatta adalah yang lebih benar, maka kita akan menemukan catatan kaki yang menarik dalam Abhaya Sutta dalam Tipitaki Pali (Majjhima Nikaya 58). Singkatnya, Sang Buddha ditanyakan mengenai penolakan keras kepada Devadatta yang membuatnya memberontak terhadap Sang Buddha.

Sang Buddha membenarkan kritiknya terhadap Devadatta dengan membandingkannya sebagai seorang anak kecil yang memasukkan batu kerikil ke dalam mulut dan hendak menelannya. Orang dewasa tentu akan melakukan apapun untuk mengambil batu dari anak tersebut. Meskipun mengeluarkan batu itu menyebabkan pendarahan, tetap saja hal ini harus dilakukan. Moralnya, lebih baik menyakiti perasaan seseorang daripada membiarkan mereka tetap berada dalam kebohongan.