Di manakah Tingkat Motivasi Kita dalam Buddhisme?

Kita meyakini bahwa setiap tindakan apapun yang kita lakukan akan menghasilkan akibat yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan bagi hidup kita. Kesemuanya tindakan tersebut dilandasi oleh pikiran atau niat dalam batin kita sehingga faktor pikiran ini sangat menentukan perbuatan apapun yang kita lakukan. Ini juga menjadi salah satu alasan kita kenapa kita mendorong atau memotivasi batin terutama untuk hal yang baik karena kita memiliki kecenderungan untuk mendapatkan kebahagiaan dan menghindari penderitaan.

Ajaran Sang Buddha merupakan ajaran yang menyangkut tentang batin atau pikiran. Kita juga mengetahui bahwa setiap makhluk memiliki kemampuan batin yang berbeda-beda. Hal inilah yang menyebabkan Sang Buddha memberikan ajaran yang disesuaikan dengan kemampuan batin tiap individu. Oleh karena itulah, dikenallah pembagian tingkatan dari tiap individu yang didasarkan atas kapasitas batin mereka. Atas dasar inilah, para makhluk dibagi kedalam tiga tingkatan motivasi sesuai dengan kemampuan mereka untuk berkembang dalam yang menyangkut tentang batin. Ketiga tingkatan motivasi adalah:

  • Makhluk-makhluk dengan tingkat motivasi awal
  • Makhluk-makhluk dengan tingkat motivasi menengah
  • Makhluk-makhluk dengan tingkat motivasi agung

Bagaimana kita bisa menggambarkan perilaku untuk membangkitkan motivasi yang sesuai dengan makhluk dengan tingkat motivasi awal? Secara umum kita dapat menggambarkannya dengan mengembangkan ketertarikan pada kelahiran kembali yang jauh lebih bahagia. Hal ini dimulai dengan perlunya menyadari bahwa kita memiliki kelahiran yang sangat berharga sebagai seorang manusia. Namun, hidup ini singkat dan jangka waktu kehidupan kita tidak diketahui. Kita tidak tahu kapan kita akan mati tapi pada saat mati, kita akan harus lahir kembali. Hanya ada dua kemungkinan, yaitu kelahiran lebih rendah atau lebih tinggi. Bila kita mati dan terlahir di alam rendah, sudah pasti kita akan mengalami penderitaan yang luar biasa yang sulit untuk dibayangkan. Melihat bahwa batin kita memiliki banyak sekali penyebab untuk terlahir kembali di alam rendah, maka kita menyadari bahaya ini dan berlindung pada Triratna serta berperilaku sesuai dengan hukum karma dan akibat-akibatnya. Dengan adanya niat yang seperti ini dalam pikiran, batin kita akan sesuai dengan makhluk bermotivasi awal.

Namun apabila kita bertanya lagi kepada diri sendiri, “Apakah cukup hanya memastikan diri akan kelahiran kembali yang lebih bahagia di kehidupan mendatang atau bahkan beberapa kehidupan mendatang?” jawabannya, “tidak”, karena hal ini tidak selamanya dapat melindungi kita dari semua jenis penderitaan. Mampu menyadari bahwa kita akana tetap harus mengalami penderitaan ini selama masih berada dalam alam samsara, lebih baik apabila kita bisa membebaskan diri dari penderitaan ini selamanya. Dengan adanya perbuatan seperti ini, batin kita akan sesuai dengan makhluk dengan tingkat motivasi menengah.

Akan tetapi, mungkin sebagian dari kita akan bertanya lagi, “Cukupkah itu?”, jawabannya adalah “tidak”, karena kita belum melakukan apapun untuk memenuhi harapan makhluk-makhluk lain. Lebih lanjut, kita harus menyadari bahwa tidak hanya diri kita sendiri yang ingin bebas dari semua penderitaan, namun ibu kita, ayah kita, dan semua makhluk juga ingin bebas dari penderitaan sama seperti diri kita. Oleh karena itu, kita membangkitkan suatu motivasi unggul, suatu keputusan untuk mengambil tanggung jawab dan melakukan apapun yang diperlukan untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan mereka dan menempatkan mereka dalam suatu kebahagiaan yang stabil. Kemudian timbullah pertanyaan dalam batin kita, “Apakah saya mampu mencapai tujuan tersebut?” Melihat situasi kita sekarang ini, hal ini sangat sulit dicapai. Oleh karena itu, kita memutuskan bahwa kita harus melakukan apapun yang diperlukan untuk meningkatkan potensi kita untuk menolong makhluk lain. Melihat bahwa satu-satunya cara yang paling efektif untuk mencapai ini adalah dengan menjadi makhluk yang sepenuhnya cerah, seorang Buddha, kita akan beraspirasi pada tingkatan ini dan bekerja menuju pencapaiannya demi kepentingan semua makhluk. Inilah cara untuk membangkitkan motivasi yang sesuai dengan makhluk dengan tingkat motivasi agung.

Sekali lagi pembagian ini didasarkan pada kapasitas batin seseorang sehingga kita sama sekali tidak boleh meremehkan orang lain yang kapasitas batinnya lebih kecil dari kita maupun sebaliknya. Misalnya, ada orang pertama yang merasa dirinya sudah memiliki kapasitas agung lantas meremehkan orang kedua yang merasa memiliki kapasitas menengah. Hal ini justru menunjukkan bahwa orang pertama tidak memiliki kapasitas agung. Hal ini dikarenakan kapasitas agung tidak akan mampu dicapai tanpa tercapainya kapasitas menengah dan kapasitas menengah tidak akan mampu tercapai tanpa tercapainya kapasitas kecil. Susunan seperti ini akan menunjukkan suatu hierarki/tahapan/tingkatan yang tidak dapat dipisahkan dan saling berhubungan.

Demikian pula halnya apabila orang kedua yang merasa memiliki kapasitas menengah meremehkan orang pertama yang merasa memiliki kapasitas agung. Dikarenakan orang kedua kapasitas batinnya belum mencapai tingkatan yang lebih tinggi, dia tidak bisa memberikan penilaian tidak baik terhadap kapasitas/motivasi agung. Hal ini akan membuat kita secara otomatis terhindar dari tindakan meremehkan/menyangkal ajaran dari Sang Buddha.

Tingkatan motivasi dalam Buddhisme ini merupakan tingkatan motivasi yang disesuaikan dengan kapasitas batin setiap individu sehingga seharusnya akan membuat kita terhindar dari meremehkan satu sama lain. Sebaliknya, kita seharusnya senantiasa berusaha semaksimal mungkin mengembangkan kapasitas batin kita seluas mungkin. Akhirnya akan timbul pertanyaan bagi diri kita masing-masing, “Sudah sampai manakah tingkatan motivasi kita?”

 

Sumber: Majalah Paramita 30, Mei 2009