Doa Yang Baik

Oleh: Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya

Setiap usai melakukan puja bakti di depan altar, seringkali saya duduk merenung, apakah doa yang telah saya lakukan sudah benar dan tepat?

Sebab seringkali dalam berdoa, terutama di depan rupang Buddha, saya mengucapkan banyak sekali permintaan, atau mungkin semacam tuntutan: Lindungilah saya, lancarkanlah rezeki penghidupan saya, terangilah pikiran saya, dan lain sebagainya.

Saya berpikir, dengan permohonan atau tuntutan semacam ini, saya seolah telah meng-klaim Buddha layaknya seorang pesuruh untuk bersedia melakukan apa yang kita harapkan. Buddha kita jadikan seolah milik kita sendiri, lalu kita memperlakukannya seenak kita sendiri. Dengan kata lain, Buddha telah kita monopoli seenak hati kita sendiri.

Buddha adalah sosok yang tercerahkan. Kehadirannya saat ini bukan lagi sebagai guru langsung kepada kita di dunia ini. Melalui Dharma yang diwariskan-Nya tanpa menunjuk pemegang otoritas penggantinya, Dharma menjadi pengganti dari Buddha itu sendiri.

Dengan Dharma kita masih bisa bersentuhan dengan Guru Buddha. Kita masih berkesempatan untuk merasakan pemikiran-Nya, kebajikan-kebajikan-Nya, suara-Nya, tentunya melalui syair, dan lain sebagainya. Sepatutnya kita bukan melulu meminta, tapi lebih kepada melaksanakannya.

Lantas salahkah kita untuk membuat harapan di depan Buddha? Tentu tidak. Saat kita kecil, kita juga sering membuat pengharapan-pengharapan di depan orangtua kita. Ibu, Bapak, aku ingin menjadi dokter, aku ingin menjadi guru, aku ingin menjadi orang kaya, dan sebagainya. Tapi harapan itu tentunya bukan hanya sekedar khayalan semata tapi harus disertai ikhtiar atau upaya yang baik. Jika cuma mengharapkan tanpa bekerja, maka kita tak ubahnya seperti seorang pengkhayal belaka.

Satu kali Guru Buddha pernah berbincang dengan Anathapindika, siswa-Nya dari golongan perumah tangga. Buddha memaparkan bahwa begitu banyak orang berdoa demi mengharapkan usia panjang, kehormatan, kebahagiaan, fisik yang rupawan dan alam surga. Buddha mengingatkan bahwa hal-hal tersebut tidak dapat diperoleh hanya dengan berdoa, tapi kita harus berusaha menempuh untuk mencapai hal-hal tersebut. Intinya, tak ada yang bisa berubah sendiri dalam hidup ini tanpa ada kemauan dari kita sendiri.

Jadi doa yang berisikan pengharapan belaka tidak sesuai dengan spirit ajaran Buddha itu sendiri. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Cendekiawan Buddhis Indonesia, Krishnanda Wijaya-mukti, bahwa doa itu sendiri merupakan refleksi pikiran kita. Bila pikiran benar, maka doa yang diucapkan akan benar. Sebaliknya jika pikiran kita dibaluti ketidakbijaksanaan, maka doa yang terucap menjadi “kurang berkualitas”.

Lantas bagaimana doa yang baik dan berkualitas?

Ada dua hal sebagai indikator dari doa yang baik. Pertama, tidak berlandaskan dorongan nafsu rendah, seperti kebencian, keserakahan, atau kebodohan. Seorang rekan pernah berdoa agar saingannya dalam bisnis mengalami kebangkrutan. Tentu doa seperti ini bukan doa yang baik karena didasari dengan rasa benci yang mengharapkan orang lain celaka. Doa seperti ini bukannya mendorong kemajuan bathin, malah merusak spiritual kita. Lama-kelamaan, hati akan penuh racun dan ini membahayakan.

Kedua, doa harus mengandung unsur welas asih dan jauh dari niat jahat. Jadi doa yang baik justru untuk mengembangkan hati yang penuh welas asih. Misalnya, memohon keselamatan semua makhluk, itu sangat baik, dan jauh dari sikap egois. Maka dalam ajaran Buddha, kita mengenal kalimat singkat namun begitu mendalam maknanya: “semoga semua makhluk berbahagia”.

Dengan pikiran yang baik, maka doa yang kita sampaikan juga akan memancarkan energi yang baik. Energi yang baik akan meminimalkan kekuatan karma buruk yang berpotensi menghambat kehidupan kita. Apalagi ditambah dengan unsur keyakinan, maka doa yang kita panjatkan akan menjadi berkekuatan.

Jika sudah demikian, maka tak usah heran, jika doa kita bukan lagi kata-kata indah, tapi menjadi sumber kebahagiaan buat kita yang menyampaikannya, dan juga semua makhluk yang mendengarkannya. Semoga.

(Artikel ini telah diterbitkan di Harian SIB, tanggal 07 Desember 2019)