Empat Jenis Kebahagiaan Indria

Oleh : Upa. Madyamiko Gunarko Hartoyo

Banyak orang berpikir bahwa apa pun dapat diselesaikan dengan kekayaan dan akan membuat seseorang bahagia. Namun sebenarnya kehidupan mereka yang memiliki kekayaan banyak terlihat begitu menyenangkan oleh orang-orang lain, namun dalam kenyataannya tidak sedikit di antara mereka hidup dalam tekanan terus menerus disertai kekuatiran akan kegagalan yang mereka pikir bisa terjadi bila mereka sedikit saja tidak hati hati.

Tidak sedikit juga yang tidak mendapat kebahagiaan karena kehilangan kesempatan untuk tetap bisa hidup seimbang dengan tetap memiliki waktu untuk aspek-aspek kehidupan seperti keluarga, spiritual dan sosial. Tentunya ada yang kurang tepat pada saat seseorang yang memiliki kekayaan tapi masih belum bisa mendapatkan kebahagiaan. Sang Buddha dalam perjalanannya membabarkan dharma menguraikan empat kebahagiaan indria yang sepatutnya dipahami manusia.

Pada suatu waktu, seorang saudagar kaya bernama Anathapindika mendatangi Sang Buddha, dan mendapat uraian empat jenis kebahagiaan yang dapat dimiliki oleh seorang umat awam yang masih menikmati kenikmatan indria, tentunya termasuk kekayaan yang dimilikinya. Sang Bhagava dalam sutranya menjelaskan empat kebahagiaan tersebut yakni kebahagiaan memiliki, kebahagiaan menikmati, kebahagiaan bebas dari hutang, dan kebahagiaan tanpa celaan.

Pada saat memiliki kekayaan ataupun kenikmatan indria lainnya yang telah diperoleh melalui cara yang benar, usaha penuh semangat, yang dikumpulkan melalui kekuatan tangannya, yang didapat melalui keringat di alis matanya maka sudah seharusnya seseorang berbahagia. Ini disebut kebahagiaan memiliki. Seseorang itu juga sudah selayaknya menikmati kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa bagi yang lain dalam menikmati kekayaannya. Ini disebut kebahagiaan menikmati.

Kebahagiaan bagi yang menikmati indria berikutnya adalah kebahagiaan bebas dari hutang. Seseorang yang tidak memiliki hutang pada siapa pun yang tidak dibayarkan atas janjinya maka seharusnya ia mendapat kebahagiaan dan kegembiraan. Ini disebut kebahagiaan bebas dari hutang.

Uraian kebahagiaan ini menjelaskan kepada kita berhati -hati untuk tidak berkeinginan mendapatkan kenikmatan indria berlebihan dengan cara berhutang tanpa mengukur kemampuan mengembalikan karena tidak akan memberi kebahagiaan. Sering sekali, karena dibuai kenikmatan duniawi seseorang ingin memiliki sesuatu yang di luar batas kemampuannya dengan cara berutang dan barang yang dimilikinya tidak menambah kemampuan ekonomi karena lebih bersifat konsumtif. Hal ini yang justru akan menjadi kekayaan yang tidak memberikan kebahagiaan.

Demikian juga, seseorang memiliki perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang tanpa cela selayaknya mendapat kebahagiaan dan kegembiraan tanpa cela. Ketika ia berpikir, ‘Aku memiliki perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang tanpa cela,’ ia ini disebut kebahagiaan tanpa celaan. Uraian ini memberikan pemahaman bagi kita bahwa dalam mengejar kenikmatan indria maka kebahagiaan hanya akan dimiliki seseorang jika memiliki perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang tanpa cela.

Kekayaan yang dimiliki melalui perbuatan yang tercela pastinya tidak akan memberikan kebahagiaan. Tidak sedikit yang menimbun kekayaan dari usaha penipuan, mengambil barang milik orang lain ataupun mata pencaharian yang tidak benar. Kekayaan demikian tidak akan memberikan kebahagiaan karena senantiasa dibayangi kekhawatiran akibat perbuatannya.

Dalam menikmati kekayaan dan kenikmatan indria kita akan mendapatkan kebahagiaan hanya dengan memperkuat kebijaksanaan kita. Kebahagiaan tersebut diperoleh dari perbuatan tanpa cela, tanpa keinginan berlebihan hingga berhutang tak terbayarkan dan memiliki serta menikmati dengan cara yang benar.

(Artikel ini telah diterbitkan di Harian SIB, tanggal 14 Desember 2019)