Bhikkhu Jinadhammo Mahathera, Generasi ke-2 Sangha Pertama di Indonesia sejak runtuhnya Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit

Masa Remaja Mulai Mengenal Buddha Dhamma

Pada masa remaja Sunardi bersama teman-temannya sering mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan yang tidak jauh dari rumahnya. Di candi-candi tersebut banyak sekali gambar relief dan patung yang sangat indah di sepanjang dinding candi. Setelah melihat semua keindahan yang ada di candi tersebut, sejumlah pertanyaan terasa mengelitik di dada. Siapakah yang membuatnya? Untuk apa bangunan tua itu dan apa manfaatnya ? Pertanyaaan demi pertanyaan senantiasa menimbulkan keinginan untuk mengetahuinya. Mungkin karena karma Sunardi telah berbuah, melalui seorang rekannya dari Bandung ia mendapat kiriman majalah Lembaran Mutiara Minggu (LMM) yang isinya memuat 4 agama besar di Indonesia yakni Islam, Kristen, Hindu dan Buddha.

Setelah membaca majalah tersebut barulah Sunardi mengenal apa yang disebut agama Buddha. Akhirnya jawaban dari setiap pertanyaan yang timbul tentang relief-relief dan patung-patung tersebut menggambarkan kebesaran agama Buddha di Indonesia pada zaman dahulu kala yakni zaman Sriwijaya dan Majapahit.

Ternyata Sunardi tidak puas dengan jawaban tersebut, Sunardi terus mempelajari agama Buddha melalui majalah LMM yang selalu dikirim kepadanya. Semakin banyak yang dibaca dan dihayati maka akhirnya Sunardi mengambil kesimpulan bahwa dari ke-4 agama yang ada, agama Buddhalah yang menjadi pilihan keyakinannya. Sunardi merasa Buddha Dharma semakin menarik dan semakin terasa begitu menentramkan, membahagiakan.

Satu kesempatan yang membawa langkahnya ke kota Kembang (Bandung), mempertemukan Sunardi dengan Y.A. Maha Anayaka Sthavira Ashin Jinarakkhita Maha Thera. Dari Beliaulah Sunardi mulai mempelajari paritta-paritta suci dan Dharma. Sejak saat itulah Sunardi lebih aktif mempelajari Buddha Dharma. Berkat kemauan dan ketekunan hati yang kuat terhadap agama Buddha, maka dalam waktu singkat Sunardi telah menguasai paritta-paritta suci dan kemudian Sunardi ditunjuk sebagai pemimpin kebaktian mahasiswa-mahasiswi serta pemuda-pemudi di Vihara Vimala Dharma Bandung.

Pada tahun 1962, Sunardi mulai memasuki organisasi agama Buddha di Bandung. Oleh Bhante Ashin, Sunardi ditunjuk mendampingi beliau dalam mengembangkan agama Buddha baik dari pulau Jawa maupun di luar Jawa yaitu di Sumatera.

Setelah satu tahun di Bandung, Sunardi ditugaskan oleh Bhante Ashin untuk mengabdi di Sumatera, Padang dan Pekan Baru. Selah mengabdi selama 3 tahun, Sunardi pun menerima Visudhi Trisarana dan tak lama kemudian dilantik menjadi upasaka di Pekan Baru. Berlatih Vippassana-Bhavana Di bawah bimbingan langsung Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, Sunardi beserta puluhan peserta lainnya mengikuti suatu pelatihan Vipassana Bhavana secara intensif.

Pelatihan berlangsung dengan disiplin yang ketat dan keras. Ada peserta yang setelah berlatih lebih kurang 2 minggu mengalami kejadian lucu dan unik. Ketika mendengar ada suara penjual ice cream lewat di depan vihara, tiba-tiba saja ia berlari ke depan vihara. Ia membeli ice cream kemudian sambil bernyanyi-nyanyi dan menari, ia mengajak peserta pelatihan untuk menikmati ice cream juga. Tentu saja ia dianggap gagal dalam pelatihan.

Sunardi sendiri punya pengalaman yang sangat berkesan dalam pelatihan tersebut. Ia sehari-harinya pembersih dan paling tidak suka melihat tempat yang kotor dan tidak dibersihkan. Dalam pelatihan ini, ia terusik dengan keberadaan sarang laba-laba di tempatnya berlatih. Seperti biasanya, ia segera tergerak untuk membersihkan sabut. Tetapi belum sempat kejadian, tiba-tiba suara Bhikkhu Ashin telah menggeledek: Pergunakan waktumu sebaik-baiknya, goblok… Bentakan itu meninggalkan kesan yang kuat bagi Sunardi. Dan ternyata, setelah pelatihan berakhir, hanya Sunardi bersama 4 orang lainnya yang dinyatakan lulus di antara sekian puluh orang peserta.

Ketika masih menjadi seorang Upasaka, Sunardi sering mendampingi Bhikkhu Ashin Jinarakkhita berkeliling Sumatera sebagai Upasaka dan orang yang bisa menjadi Upasaka Bhante Ashin pada waktu itu (1960 s/d 1970an) sudah dianggap hebat oleh umat Buddha Indonesia.

Pada masa 1960 sampai 1970-an, Bhikkhu Indonesia masih sangat sedikit. Bisa dihitung dengan jari tangan. Tidak heran jika Bhikkhu Ashin Jinarakkhita sebagai putra Indonesia pertama yang menjadi Bhikkhu sejak 500 tahun terakhir setelah runtuhnya keprabuan Majapahit sering memberi motivasi kepada murid-murid beliau agar mau menjadi anggota Sangha. Beliau benar-benar serius untuk membangkitkan kembali agama Buddha yang tertidur selama 5 abad.

Upasampada Sunardi kemudian ditabhiskan menjadi samanera oleh Bhante Ashin dengan nama Samanera Dhammasushiyo. Pada saat menjadi seorang Samanera, Bhante Ashin pernah mengatakan kepada Beliau, “Kamu sebenarnya sudah terpilih menjadi seorang Bhikkhu yang mengemban tugas untuk perkembangan Buddha Dhamma.

Akhirnya Samanera Dhammasushiyo mengambil keputusan untuk menjadi seorang Bhikkhu. Dia diupasampada tradisi Theravaa dengan nama Bhikkhu Jinadhammo, bersama dengan empat orang samanera lain. Upacara upasampada dilakukan di stupa induk Candi Borobudur, bertepatan dengan hari Vesakha Puja, tanggal 08 Mei 1970.

Tak lama setelah diupasampada, dengan berbekal kemampuan berbahasa Inggris hasil belajar dari mengikuti kursus serta tekad yang bulat, Bhikkhu Jinadhammo berangkat ke Negeri Gajah Putih, Thailand. Dia berdiam sekitar 2 tahun di Wat Bowonniwet Vihara Rajavaravihara, yang merupakan pusat pembelajaran Dhamma tradisi Thammayut Nikaya, untuk belajar Dhamma di bawah bimbingan guru-guru yang ada di sana.

Dia mengkhususkan diri pada pelajaran Vinaya dan berlatih meditasi di bawah bimbingan guru yang keras. Setelah itu, Dia mulai mengunjungi beberapa tempat meditasi yang terkenal ketat di Thailand. Dia berlatih meditasi di Wat Pa Baan Taad, Udon Thani, Timur Laut Kota Bangkok, yang merupakan tempat meditasi hutan yang didirikan oleh Ajahn Maha Boowa Nanasampanno.

Setelah sekitar tiga tahun, Bhikkhu Jinadhammo kembali ke Indonesia dan bertugas untuk membina Umat Buddha di Pulau Sumatra. Ia bermukim di Vihara Borobudur, Medan.

Sewaktu baru pulang ke Indonesia, Bhante Jin pernah diajak seorang umat Buddha dari Tulung Agung, Jawa Timur ke Gunung Willis. Orang tersebut dipanggil Om Yan oleh Bhante Jin. Ia mempunyai tanah perkebunan di lereng Gunung Willis. Bhante Jin diajak menginap di kebunnya Om Yan tersebut. Tinggal di pondok sendirian. Malam tidak ada lampu. Gelap gulita. Suara satwa malam pun mendirikan bulu roma.

Tengah malam Om Yan mengintip ke dalam gubuk Bhante Jin. Bhante Jin belum tidur waktu itu. Ada apa Om Yan? Tengah malam kok ngintip-ngintip? tegur Bhante Jin tiba-tiba. Om Yan ketawa terbahak-bahak.
Saya cuma ingin tahu apa Bhante berani enggak ditinggal sendirian di gubuk.

Om Yan yang waktu itu berumur 60-an, kemudian mengajak Bhante Jin tinggal di sebuah vihara yang dikelolanya di daerah Tulung Agung. Bhante Jin diberi sebuah kamar aneh untuk kuti. Lantai kamar itu tidak rata. Banyak batu-batu persegi dan bulat yang timbul di atas permukaannya. Bhante Jin menginap di kamar tersebut beberapa malam dengan tenang.

Suatu siang Om Yan datang bersama keluarganya. Apakah Bhante merasa tenang tinggal di vihara ini ? tanya Om Yan. Tenang. Tenang sekali. Jawab Bhante Jin. Bhante bisa tidur nyenyak ? tanya Om Yan dengan mimik wajah yang ganjil. Oh … bisa… bisa. Jawab Bhante Jin. Kenapa rupanya tanya Bhante Jin kembali. Ah, tidak ada apa-apa koq. Cuma nanya saja. Jawab Om Yan senyum-senyum mencurigakan. Di vihara tersebut memang suasananya sangat sepi dan sunyi di hari biasa. Kecuali pada hari kebaktian umum. Jika malam hari, suasananya benar-benar senyap.

Bhante Jin tinggal di vihara tersebut dengan seorang penjaga vihara yang rada-rada aneh. Tetap penjaga vihara tersebut tidak pernah mau jika diajak tidur di kamar berlantai aneh tempat Bhante Jin. Saya tak berani tidur di situ. Katanya polos. Kenapa rupanya ? Kamarnya kan luas. Kata Bhante Jin. Penjaga vihara tersebut diam saja. Tidak berani berbicara. Setelah cukup waktunya, Om Yan datang kembali untuk menjemput Bhante Jin.

Om Yan bertanya tentang kesehatan Bhante. Apa Bhante sehat-sehat saja ? tanya Om Yan sambil tersenyum. Sehat jawab Bhante Jin singkat. Selama tidur di kamar tersebut apa ada kejadian aneh ? tanya Om Yan dengan nada menyelidiki. Tidak ada. Sepertinya biasa-biasa saja koq. Wah ! Bhante ini hebat ya. Biasanya enggak ada yang berani tidur di kamar itu. Lho, ada apa dengan kamar itu ? Apa Bhante belum tahu ? Di situ kan ada batu-batu menonjol di lantai. Bhante tahu batu apa itu ? tanya Om Yan serius. Wah, mana saya tahu. Saya hanya heran untuk apa batu-batu itu dibuat? Begini Bhante, tapi ini sebenarnya rahasia. Kamar itu sebenarnya lokasi kuburan. Batu-batu itu sebagai tandanya. Jawab Om Yan. Oh ! Begitu rupanya. Kok saya tidak diberitahu dulu ? Ha… ha … ha… Itu kan untuk menguji Bhante. Jadi, ya, tidak diberitahu. Jawab Om Yan gembira.

>>> Baca Selanjutnya : Penghargaan-penghargaan yang pernah diperoleh