Bhikkhu Jinadhammo Mahathera, Generasi ke-2 Sangha Pertama di Indonesia sejak runtuhnya Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit

Penghargaan-penghargaan yang pernah diperoleh

Pada Oktober 1998, dalam rangka ulang tahun Raja Bhumibol, Kerajaan Thailand memberikan penghargaan kepada para Bhikkhu senior mancanegara, termasuk Bhikkhu Jinadhammo. Kipas Penghargaan dan Kathinadana diserahkan oleh Putri Galyani Vadhana, yaitu kakak dari raja, atas nama Raja Bhumibol.

Pemerintah Thailand, melalui Samangama Mahathera yang merupakan komite Sangha di Thailand, menganugerahkan gelar Phra Khru Buddhadhamprakat kepada Yang Mulia Bhikkhu Jinadhammo Mahathera pada hari Selasa, 8 Januari 2013. Gelar tersebut diterjemahkan sebagai Penyebar Buddha Dharma, diberikan kepada Bhikkhu Jinadhammo Mahathera atas jasa-jasanya dalam mengembangkan agama Buddha di Indonesia. Beliau adalah satu-satunya Bhikkhu Indonesia dari antara 500 bhikkhu sangha dari berbagai wilayah negara yang dinilai memiliki prestasi pengabdian luar biasa dalam mengembangkan ajaran Buddha Dharma di daerahnya masing-masing.

Pada tanggal 5 Desember 2016, Bhikkhu Jinadhammo mendapat anugerah gelar kehormatan dari Kerajaan Thailand sebagai Than Choukun Phra Vithetdhammanyana. Gelar kehormatan ini diberikan kepada Bhante Jinadhammo atas pengabdiannya membabarkan Buddha Dhamma di Indonesia.

Bhante Jinadhammo Mahathera juga mendapatkan piagam dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena telah melakukan pengabdian paling lama di Indonesia. Penghargaan ini diberikan saat Acara Perayaan 45 Tahun Vassa Bhante Jinadhammo pada tahun 2014.

Agama Buddha di Tanah Karo

Tak banyak Umat Buddhis di Sumatera Utara yang mengetahui bahwa jasa Bhikkhu Jinadhammo dalam merintis Agama Buddha di Tanah Karo sangat besar. Sep;erti kita ketahui bersama, banyak pandangan awam yang mengtahui bahwa Agama Buddha hanya milik orang Tionghwa saja. Tentu saja ini salah besar! Selain Tionghwa, Tamil dan Jawa, ternyata Agama Buddha banyak dipeluk oleh masyarakat Batak karo. Tercatat nama-nama tokoh Buddhis yang berasal dari Batak Karo.

Upaya ini telah mulai dirintis oleh Bhikku Jinadhammo sejak tahun 1984. Saat ini, jumlah masyarakat Batak karo yang memeluk Agama Buddha semakin meningkat. Bahkan diantara mereka ada yang telah fasih dalam melafalkan Paritta dan menjadi Tokoh Agama Buddha. Untuk inilah, Bhikkhu Jinadhammo juga merintis vihara-vihara untuk masyarakat Batak karo, antara lain Cetiya Sakya Kirti (Tanah Karo), Vihara Kassapa (Desa Turangi), Vihara Sangha Ramsi (Sibiru-biru) dan Vihara Sriwijaya (desa Parangguam Baru).

Sebagaimana kesederhanaan yang ditunjukkan beliau dalam kehidupan sebagai anggota Sangha, arahan beliau kepada umat Buddha juga sangat sederhana, antara lain :

“Bacalah berulang-ulang Empat Kebenaran Mulia, simak dan praktikkan Jalan Mulia Beruas Delapan. Hadapi dan terima kenyataan hidup yang penuh penderitaan dengan lapang dada. Semua mengalami dukkha. Kembangkan sikap cinta kasih kepada semua makhluk sebagaimana tercantum dalam Karaniya Metta Sutta. Segala sesuatu yang terbentuk dan dibentuk adalah tidak kekal. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh, dengan kamma mendukung, disertai objek meditasi yang tepat, Nibbana dapat tercapai.”

Demikianlah tulisan singkat ini yang disadur dari berbagai sumber. Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta…