Fang Sheng – Apa Artinya?

Saat kita melihat orang-orang berkumpul di pinggir sungai, hal pertama yang muncul di benak pastinya bahwa mereka sedang memancing atau menangkap ikan. Bahkan mungkin tak akan ada orang yang mengira bahwa mereka sebenarnya sedang melakukan hal yang sebaliknya, yaitu melepaskan ikan ke sungai. Lagipula, siapa sih yang mau susah-susah melepaskan ikan yang sebelumnya ditangkap balik ke sungai?

Tetapi, nyatanya ada juga orang yang dengan sengaja melepaskan ikan atau makhluk hidup lainnya kembali ke habitatnya masing-masing. Hal ini disebut Fang Sheng dalam agama Buddha. Kata Fang Sheng berasal dari bahasa Mandarin – “Fang” artinya melepas dan “Sheng” artinya makhluk hidup. Jadi, secara literal Fang Sheng artinya melepaskan makhluk hidup ke tempat tinggalnya masing-masing agar mereka dapat hidup bebas dan bahagia.

Intinya, ajaran Fang Sheng dalam Buddha Dhamma menekankan untuk menghargai setiap kehidupan – setiap makhluk hidup, tak peduli sekecil apapun, sama berharganya dengan diri kita. Dalam agama Buddha, kehidupan seorang atau seekor makhluk hidup tidak berhak diakhiri oleh makhluk hidup lainnya dengan alasan apapun.

Prinsip ini dapat kita telusuri dari Kitab Suci Tripitaka, bagian Anguttara Nikaya III:203. Di dalamnya dikatakan kita sebagai umat Buddha harus menaati lima aturan moral (sila) yang disebut Pancasila Buddhis, terdiri dari:

  1. Tidak membunuh
  2. Tidak mencuri
  3. Tidak berbuat asusila
  4. Tidak berbohong
  5. Tidak minum minuman yang menyebabkan berkurangnya kesadaran

Akan tetapi, sila di atas bukanlah larangan maupun perintah, sebab dasar ajaran Buddha adalah kebijaksanaan. Kita sendiri lah yang merenungkan dan membuktikan apakah menaati sila di atas akan membawa keuntungan bagi kita. Dalam agama Buddha, tidak pernah ada perintah atau larangan tentang apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Buddha selalu memberi contoh baik dan mengajarkan Dhamma tentang apa yang baik dilakukan dan tidak baik dilakukan, tanpa ada paksaan. Oleh karena itu, Sila merupakan tekad yang muncul dan berkembang dari diri kita sendiri, tanpa dipaksa siapapun.

Apapun bentuknya, pembunuhan tidak baik dilakukan, sebab membunuh artinya mengambil hidup makhluk lain. Kita sendiri saja tidak ingin hidup kita diakhiri, begitu juga yang dirasakan oleh makhluk lain.

Seperti syair yang menggambarkan ajaran Buddha berikut ini,

Sabba pappasa akaranam,
Kusala uppasampada,
Sacitta pariyodapanam,
Etam Buddhanam sasanam

Janganlah melakukan perbuatan jahat,
Perbanyaklah berbuat kebajikan,
Sucikan hati dan pikiran,
Inilah inti ajaran Buddha.

(Dhammapada XIV, 183)

Fang Sheng pada dasarnya mencakup semua yang dikatakan dalam syair di atas. Tidak membunuh sudah berarti kita tidak berbuat jahat, dan membebaskan makhluk hidup yang menderita kembali ke rumahnya berarti kita sudah berbuat kebaikan. Dengan berniat berbuat baik dan berharap agar semua makhluk berbahagia serta terbebas dari penderitaan, hal ini menunjukkan bahwa kita sudah mulai menyucikan hati dan pikiran. Dalam hati dan pikiran yang suci, tidak akan muncul niat-niat jahat dalam batin kita.

Ajaran cinta kasih tanpa batas (yang tidak hanya terbatas untuk manusia, serta tanpa syarat maupun kondisi apapun) secara sadar atau tidak juga merupakan ajaran yang ramah lingkungan. Dengan melepaskan hewan-hewan lokal, misalnya ikan yang langka karena pemancingan berlebihan, akan membantu melestarikan spesies tersebut.

Fang Sheng – Apa Artinya?
Fang Sheng – Apa Artinya?

Akan tetapi, perlu diperhatikan juga kondisi serta jenis hewan yang akan dilepaskan. Hewan yang dilepaskan mesti sehat serta merupakan spesies lokal tempat tersebut. Sebab, jika kita melepaskan hewan yang sakit, bukannya memberikan kebahagiaan, hewan tersebut malah akan mati tak lama setelah dilepas karena sakit serta terlalu lemah untuk melindungi diri dan mencari makan sendiri. Selain itu, melepaskan spesies invasif malah akan menghancurkan ekosistem lokal dan membawa penderitaan untuk makhluk lokal, karena tempat tinggalnya dikuasai oleh spesies asing yang lebih kuat dan lebih cepat reproduksinya. Oleh karena itu, meskipun berbuat baik itu bagus, kita juga mesti memikirkan konsekuensi perbuatan kita nantinya. Ada pepatah bahasa Inggris yang mengatakan, “the road to hell is paved with good intention.” Artinya, jalan menuju neraka diaspal dengan niat baik.

Akhir kata, Fang Sheng merupakan perluasan dari sila pertama, yaitu tidak membunuh. Fang Sheng sangat baik untuk kita laksanakan, sebab merupakan esensi dari ajaran Buddha. Selain dapat memberikan karma baik, kita juga bisa melestarikan lingkungan karena Fang Sheng dapat mencegah punahnya hewan tertentu. Akan tetapi, dalam melakukan Fang Sheng, kita juga perlu berpikir baik-baik agar dapat memastikan hewan yang kita lepaskan nantinya dapat benar-benar berbahagia, bukannya malah menambah penderitaannya.