Happy Dongzhi : Tradisi Perayaan Dongzhi Dan Pilar Budaya Tionghoa

Dongzhi Festival

邯郸驿里逢冬至,

抱膝灯前影伴身。

想得家中夜深坐,

还应说着远行人。

Saat perayaan Dongzhi di tengah wisma di kota Handan,
di depan lentera memeluk lutut bayangan menemani badan.
membayangkan  larut malam yang berjaga di dalam rumah,
kiranya sedang membicarakan insan yang jauh bepergian.

(Zhou Fuyuan)

Setiap tahun, masyarakat Tionghoa akan memperingati Festival Dongzhi atau Festival Titik Balik Matahari Musim Dingin. Biasanya, festival ini jatuh pada hari paling pendek dalam setahun atau sekitar tanggal 22 Desember.

Peringatan ini dirayakan dengan menyantap Tangyuan, ronde berwarna putih dan merah muda yang dipadukan dengan kuah gula serta jahe. Selain menikmati Tang Yuan, masyarakat Tionghoa juga melakukan sembahyang leluhur.

Festival Dongzhi sendiri sudah dimulai pada masa dinasti Han atau 206 Sebelum Masehi. Kala itu, masyarakat memperingati awal musim dingin sebagai Festival Musim Dingin dengan berbagai perayaan meriah.

Seluruh instansi pemerintahan diharuskan untuk libur. Gerbang perbatasan pun ditutup dan aktivitas perdagangan dihentikan. Tujuannya agar masyarakat turut merayakan festival dan melakukan silaturahmi dengan sesama.

Pada masa Dinasti Tang dan Dinasti Song, festival Dongzhi diperingati dengan berdoa kepada Tuhan dan melakukan ritual sembahyang kepada leluhur yang telah meninggal dunia.

Di sisi lain, festival ini juga didasari oleh filosifi Yin dan Yang atau kesimbangan kosmos dan alam semesta. Perayaan ini dipercaya membuat keseimbangan dunia kembali.

Ini karena setelah festival Dongzhi digelar, matahari akan bersinar lebih lama dan mendatangkan energi positif di bumi.

Seiring berjalannya waktu, festival Dongzhi mulai bertransformasi menjadi momen berkumpul dengan anggota keluarga. Sehari sebelum perayaan, ibu dan anak-anak akan menyiapkan Tangyuan untuk anggota keluarga. Beberapa ronde disajikan dengan isian kacang, namun ada juga ronde yang dibuat tanpa isi.

Tangyuan dibentuk seperti bola dan dibuat dengan aneka warna yang cerah. Mulai dari putih, merah muda, hijau, kuning, dan merah. Makanan manis ini menjadi lambang kebersamaan dan rezeki untuk keluarga di rumah.

Setiap anggota keluarga harus memakan satu bola ronde ukuran besar dan ronde lain dengan ukuran kecil. Namun, ada juga masyarakat Tionghoa yang memakan ronde sesuai dengan jumlah usia untuk mengharapkan umur panjang.

Hari wedang ronde di Indonesia Warga Indonesia keturunan China merayakan Festival Dongzhi dengan kumpul keluarga, sembahyang, membuat ronde, dan menikmatinya. Ronde terbuat dari tepung ketan yang punya tekstur lengket ini melambangkan kekerabatan dan mempererat tali kekeluargaan.

Terdapat dua versi ronde yang tanpa isi dan berisi berbagai bahan seperti kacang tanah cincang, kacang hitam, dan wijen. Ronde yang sudah matang kemudian disajikan dalam kuah jahe dan gula. Berbeda dengan di China yang menyajikan ronde dalam kuah manis atau kaldu daging.

Kaiatannya dengan Buddhisme

Kebiasaan makan bubur ini diyakini ada kaitannya dengan kisah Buddhism. Ketika Sakyamuni Buddha dalam pencarian kebebasan tersebut mengalami kelaparan yang luar biasa sehingga pingsan. Ketika itulah ada wanita penggembala yang memberi-Nya bubur dan isinya adalah buah-buahan dan biji-bijian dan menyuapi.

Sejak itu hari ini dianggap hari penting bahwa hari inilah yang mengantar Sakyamuni Buddha mencapai pencerahan sempurna. Semua vihara di Tiongkok sana pada hari ini membacakan sutra-sutra serta membuat bubur utk dipersembahkan kepada Sakyamuni Buddha.