Hargai Proses Sebelum Menikmati Hasil

Oleh Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya

Maha Biksu Sheng-yen (1931-2009) saat membahas karya klasik “Senandung Pencerahan” yang merupakan maha karya seorang biksu besar zaman Tang, Yung-chia Hsuan-chueh, pernah menyampaikan sebuah kisah yang amat bagus.

Diceritakan ada seorang wanita miskin yang selama ini dikenal baik hati. Atas sikap mulianya ini, seorang dewa berniat untuk menolong wanita itu. Maka dalam sebuah kesempatan, Dewa menampakkan diri pada wanita tersebut.

“Ajukanlah permintaan, maka akan saya kabulkan,” demikian Dewa menyampaikan kepada wanita itu.

Maka tanpa pikir panjang, wanita itu meminta sebongkah emas. Dalam waktu singkat, hanya dengan menunjuk sebuah batu besar, maka seketika itu berubah menjadi emas. Melihat kejadian ini, timbullah pikiran serakah sang wanita.

“Dewa, kalau begitu, bolehkah aku mengajukan satu permintaan lagi?” tanya wanita itu. Dewa pun mengiyakan.

“Aku ingin jari telunjukmu, karena aku melihat jari telunjukmu mampu mengubah apa yang kuminta,” jawab wanita tanpa rasa malu.

Begitu mendengar perkataan wanita miskin tersebut, Dewa merasa kecewa, seketika itu ia menghilang dan sesaat itu pula, emas tadi kembali menjadi batu. Tinggallah si wanita yang meratapi sifat buruknya dengan penyesalan yang tiada berguna.

Pesan dari kisah singkat di atas adalah bukan hanya soal keserakahan. Tapi juga kebodohan. Bahwa wanita itu merasa bahwa hanya dengan berbekal jari sang Dewa yang dilihatnya mampu merubah batu menjadi emas, maka ia akan dapat melakukan apa saja.

Wanita itu hanya melihat ujung jari itu. Tapi ia lupa bahwa kekuatan Dewa bukan semata dari sepotong jari itu saja, tapi juga hasil latihan dewa tersebut selama sekian lama. Dan jari tersebut hanya sebuah puncak dari proses latihan yang dilakukannya sekian lama.

Dalam praktik keseharian sebagai umat Buddha, kita seringkali mengalami hal yang sama dengan kisah di atas. Kita lebih mengharap hasil yang instan ketimbang menghargai proses kerja keras.

Ada seorang teman, tiba-tiba menjadi khusyuk bersembahyang kepada Buddha, hanya karena ia melihat seorang pengusaha sukses ternyata rutin memberikan penghormatan kepada Buddha.

Memang benar, memberi penghormatan kepada Buddha adalah sikap terpuji dan dianjurkan. Namun kita juga harus sadar bahwa untuk menjadi sukses, juga dibutuhkan kerja keras, bukan semata hanya duduk diam bersembahyang. Ibarat kata-kata motivasi, kekayaan yang dimiliki pengusaha itu hanya sebuah puncak gunung dari sebuah gunung besar yang terjal dan penuh liku. Dan kita sering hanya melihat puncaknya ketimbang memikirkan bagaimana cara mencapai puncak tersebut.

Banyak kita mengetahui Jalan Buddha adalah jalan yang terbaik, tapi seberapa banyak yang bersedia menapaki jalan tersebut?

Banyak dari kita lebih memilih jalan lain, yang sarat penyimpangan dari apa yang diajarkan oleh Buddha. Mengapa? Karena sebagian besar ingin jalan pintas.

Bahwa pencapaian menjadi Buddha bukan kisah sehari semalam, tapi proses panjang berkalpa-kalpa kehidupan. Tapi apakah kita mau memulai satu langkah dari proses panjang itu, atau malah lari terbirit ketakutan karena tak sanggup melakukan sebagaimana Buddha? Inilah yang harus kita renungkan setiap saat.

Wanita dalam kisah itu telah mewujud dalam realita kehidupan saat ini. Instanisasi menjadi harapan banyak orang, sebaliknya kerja keras menjadi momok pula bagi banyak orang.

Pada akhirnya, sebagai siswa Buddha, jangan hanya mau hasil, tapi berupayalah agar mendapatkan hasil. Sebab dari upaya, sesungguhnya kita akan mendapatkan banyak hal yang justru mematangkan jiwa kita. Dan itulah yang justru fase paling penting dalam hidup ini.

(Artikel ini telah diterbitkan di Harian SIB, tanggal 28 September 2019)