Hari Hujan dan Hari Cerah

Pada jaman dahulu ada seorang wanita tua yang selalu menangis setiap hari. Anak perempuannya yang lebih tua menikah dengan seorang penjual payung sedangkan anak perempuannya yang lebih muda adalah istri penjual mie. Pada hari yang cerah wanita tua itu berpikir, “Oh, tidak! Cuaca sangat baik dan cerah. Tidak ada yang akan membeli payung. Apa yang terjadi jika tokonya tutup?” Kekhawatiran ini membuatnya menangis.

la tidak dapat berbuat apa-apa, hanya menangis. Ketika hujan turun, ia akan menangis untuk anak perempuannya yang lebih muda. la berpikir, “Oh tidak! Anak perempuanku yang lebih muda menikah dengan penjual mie. Kalian tidak bisa menjemur mie tanpa matahari. Sekarang tidak akan ada mie untuk dijual. Apa yang harus aku lakukan?” Akibatnya, wanita tua itu hidup dalam penderitaan setiap hari. Walaupun hari cerah atau hari hujan, ia bersedih hati untuk salah satu anak perempuannya. Tetangga-tetangganya tidak bisa menghiburnya lalu secara berkelakar mereka menyebutnya “wanita penangis.”

Pada suatu hari wanita tua itu bertemu dengan seorang bhiksu. Bhiksu tersebut sangat ingin tahu mengapa wanita tua itu selalu menangis. Wanita tua itu menjelaskan masalahnya kepada bhiksu tersebut. Bhiksu itu tersenyum ramah dan berkata, “Bu, Anda tidak perlu khawatir. Saya akan menunjukkan kepada Anda jalan untuk mencapai kebahagiaan, dan Anda tidak perlu berduka lagi.”

Wanita tua itu sangat tertarik. Dia segera meminta bhiksu itu memberitahu apa yang harus dia perbuat. Bhiksu menjawab, “Hal itu sangat mudah. Anda hanya perlu mengubah cara pandang Anda. Pada hari yang cerah jangan berpikir bahwa anak perempuan sulung Anda tidak dapat menjual payung tetapi ingatlah bahwa anak perempuan bungsu Anda dapat menjemur mie. Ketika hujan turun, pikirkanlah tentang toko payung milik anak perempuan sulung Anda. Dengan adanya hujan, setiap orang pasti akan membeli payung. Dia akan menjual banyak payung dan tokonya akan makmur.”

Wanita tua itu mendapat pencerahan. Dia mengikuti perintah bhiksu tersebut. Setelah beberapa lama, dia tidak menangis lagi, dia malah tersenyum setiap hari. Sejak saat itu dia dijuluki “wanita yang selalu tersenyum”.

 

Sumber: Majalah BVD No. 169, November 2016