“Hoki Ala Buddhis”

Oleh : Bhikkhu Aggacitto Thera ,

– Pembina di Sigalovada Foundation
– Kepala Vihara di Pubbārāma Buddhist Centre
=======================================

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Pada hakikatnya kehidupan selalu memberikan warna tersendiri bagi seseorang mulai dari impian, cita-cita dan harapan. Tidak dipungkiri bahwa dengan adanya kondisi tersebut seseorang dapat termotivasi dalam melakukan sesuatu usaha untuk mengejar dan menggapainya.

Setiap orang memiliki satu kesamaan baik mereka yang status sosialnya rendah atau tinggi. Karena akhir dari semua yang memotivasi seseorang melakukan sesuatu dikarenakan adanya harapan memperoleh kebahagiaan.

Menurut Buddhasasana yang diuraikan dalam Samyutta Nikaya ada beberapa impian, cita-cita dan harapan yang sama dimiliki oleh setiap orang dimuka bumi ini, yaitu: Adanya keinginan untuk mendapatkan kekayaan dan kesejahteraan hidup, harkat dan martabat/ kehormatan, panjang umur dan memiliki kesehatan mental maupun fisik.

Buddha menjelaskan lebih lanjut bahwa keinginan diatas merupakan sesuatu yang alami bagi para garavasa/ perumah tangga. Sesungguhnya pun hal itu sudah melekat pada diri seseorang yang dibawa mulai sejak lahir, ini disebabkan karena masih adanya pengaruh dari loba, dosa dan moha pada masa kehidupan sebelumnya.

Apakah dengan memiliki keinginan-keinginan tersebut adalah buruk, Buruk dan tidaknya tidaklah dapat diukur dari seberapa besarnya keinginan-keinginan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi tergantung bagaimana kebijaksanaan seseorang dalam menjalani dan melakukan suatu usaha untuk menggapainya.

Lebih lanjut Buddha menjelaskan tiga aspek penting yang dapat mempengaruhi pada suatu impian, cita-cita dan harapan dapat dicapai dengan baik, yang tidak akan memberikan pengaruh buruk atau kerugian baik untuk masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang, diantaranya yaitu:

1. Utthanaviriyadhigatehi

Hendaklah seseorang memiliki daya upaya yang baik dan semangat yang tinggi dalam melakukan sesuatu yang dikerjakan dengan penuh perhatian, ketekunan dan kedisiplinan. Tidak pantang menyerah atau putus asa pada setiap kegagalan. Selalu mau berusaha untuk mencoba dan memperbaiki kekurangan atau kesalahan yang sudah dilakukan. Aspek ini sangat memiliki pengaruh pada pengkondisian perealisasian hasil akhir. Baik terhadap hasil secara materi atau kesejahteraan hidup.

2. Sedavakkhitehi:

Hendaklah seseorang membangun sikap integritas dalam dirinya, memulai segala sesuatu usaha yang diawali dengan penuh kejujuran, totalitas terhadap segala sesuatu yang dikerjakan tanpa merasa terbebani dalam artian merasa senang pada apa yang dilakukannya, selalu melakukan dengan kerja dan keringat sendiri.

3. Dhammikehidhammaladdhehi:

Hendakalah seseorang selalu eling/ sadar bahwa segala sesuatu harus dimulai dan diawali dari moral, karena moral yang baik akan mendorong seseorang pada pemahaman dan kebijaksanaan. Mana cara dari suatu usaha yang boleh dilakukan dan mana usaha yang tidak boleh dilakukan. Karena aturan nilai-nilai kemoralan tidak hanya akan memberikan benteng pada rasa malu dan takut dalam melakukan usaha yang buruk saja, akan tetapi juga dapat mempengaruhi pada peningkatan kualitas pola pikir yang baik.

Sehingga dengan demikian dimungkinkan kreatifitas, produktifitas yang baik semakin berkembang. Selain itu juga melakukan suatu usaha yang baik sesuai jalan Dhamma dapat mengkondisikan berkah pada sumua yang sudah diperoleh.

Tahun baru Imlek 2567/ 2016 telah kita rayakan bersama-sama, kini tiba waktunya memasuki tahun yang baru. Mari bersama-sama memulai lembaran baru dengan semangat baru, agar hari esok dapat lebih baik dari hari ini. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, gapailah semua impian, cita-cita dan harapan dengan daya upaya yang baik.

Waktu selalu berjalan dan setiap waktu adalah kesempatan. Kesempatan untuk membangun kegagalan dan kesalahan yang belum sempurna kita lakukan. “Mari berusaha untuk menahan diri pada hal-hal yang dapat menimbulkan tindakan buruk (Samvarappadhana), usaha untuk meninggalkan hal-hal yang buruk yang sudah ada dalam diri (Pahanappadhana), usaha untuk membangun dan membiasakan hal-hal yang baik agar selalu dilakukan (Bhavanappadhana), usaha untuk menjaga dan memelihara segala kebaikan yang sudah dilakukan (Anurakkhanappadhana); Anguttara Nikaya, II.83”.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta,

Semoga Semua Makhluk turut berbahagia,

Sadhu…Sadhu…Sadhu…

Artikel telah pernah diterbitkan di Harian Analisa, Kamis, 11 Februari 2016