Hukum Karma

Dalam Abidharma dikenal konsep dharmaniyama. Dharmaniyama merupakan hukum universal atau hukum segala hal. Alam semesta dengan segala isinya (segala isi bumi, tata surya, maupun semua galaksi di jagad raya ini) diatur oleh sebuah hukum universal yang berlaku di semua alam kehidupan. Dharmaniyama bekerja dengan sendiri, bekerja sebagai hukum sebab-akibat. Hukum karma merupakan salah satu dari lima Niyama yang bekerja di alam semesta ini.

Konsep Hukum Karma

Secara harafiah karma berarti tindakan atau perbuatan. Konsep ini telah dikenal di India sebelum Buddha. Dalam ajaran Buddha, karma merujuk kepada tindakan yang disertai oleh kehendak. Seperti dalam Anggutara Nikaya bagian Nibbedhika-sutta dikatakan:

“O Para Biku, kehendak yang kusebut karma! Setelah memunculkan kehendak, seseorang menciptakan karma melalui tubuh, ucapan, dan pikiran.”

Jadi, suatu tindakan dikatakan karma jika disertai oleh kehendak (pal. cetana). Karma bersifat samvattanika, artinya “mengarah terjadinya”. Dengan kata lain karma bukan berarti harus mutlak terjadi. Benih karma yang ditanam tidak harus mutlak berbuah. Dalam Samyutta Nikaya I.227, dijelaskan secara gamblang bahwa:

Sesuai dengan benih yang ditabur
Maka itulah buah yang akan dipetik
Pelaku kebaikan akan menuai kebajikan
Pelaku kejahatan akan menuai ketidakbajikan
Taburkanlah benihnya dan tanamkanlah dengan baik
Engkau akan menikmati buahnya.

Ini adalah prinsip sebab (benih karma) dan efek (buah karma). Formulasi umum untuk menunjukkan hubungan antara sebab dan akibat adalah sebagai berikut:

Sebab (benih karma) + kondisi-konsisi penunjang = efek (buah atau hasil karma)

Rumusan di atas menjelaskan bahwa karma hanya dapat berbuah jika hadir secara lengkap beberapa unsur yang mendukungnya. Jadi, tidak semua benih karma menghasilkan buah karma. Bila unsur pendukung berupa kondisi tidak ada, maka benih karma tidak bisa berbuah menjadi efek. Karma yang tidak menghasilkan buah karma disebut juga ahosi karma (karma yang sudah tidak efektif lagi).

Berbagai kejadian ditentukan oleh diri kita sendiri, seperti yang dikatakan Buddha:

Para mahluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya sendiri, memiliki karmanya sebagai penyebab kelahiran kembali, karma merupakan sanak keluarganya, dan karma sebagai pelindungnya. karma yang menyebabkan mahluk yang memiliki keadaan hina atau mulia (Majjhima Nikaya III.203)

Namun karma bukan sesuatu yang mutlak (statik) atau sesuatu yang tidak dapat diubah. Karma merupakan sesuatu yang dinamik. Apa yang kita lakukan sekarang dapat mengubah masa depan kita. Misalnya kondisi kehidupan sekarang buruk, namun dengan melakukan banyak kebajikan, maka karma baik berkesempatan muncul pada kehidupan sekarang maupun akan datang.

Karma adalah penyebab utama ketidaksamaan di dunia ini. Mengapa Ada orang yang kaya, ada yang miskin, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang cantik, ada yang jelek, dan masih banyak lagi ketidaksamaan-ketidaksamaan lainnya.

Walaupun kondisi kehidupan kita sekarang merupakan akibat dari karma dari masa lampau. Namun tidak berarti bahwa pengalaman hidup yang kita alami sekarang semuanya berasal dari tindakan masa lampau. Dalam Abhidharma, karma hanyalah satu dari 24 kondisi-kondisi kausal (paccaya). Dengan demikian, maka tidak semua pengalaman yang kita alami berasal dari karma.

Dalam Anguttara Nikaya dijelaskan bahwa seandainya semua pengalaman hidup kita disebabkan oleh karma lampau, maka seseorang yang menjadi pembunuh, pencuri, penjahat atau orang tidak bermoral tidak bertanggungjawab atas perbuatannya. Untuk apa mereka berusaha menjauhi perbuatan jahat jika mereka sudah ditakdirkan menjadi penjahat oleh karmanya.

Salah satu kritikan utama dalam konsep karma adalah pertanyaan mengapa ada orang jahat yang mengalami kebahagiaan, sedangkan sebaliknya ada orang baik yang menderita. Menurut ajaran Buddha, matangnya buah karma seseorang dipengaruhi oleh banyak sekali kondisi-komdisi dan sangat kompleks. Cara kerja hukum karma sangat rumit, melibatkan banyak unsur sehingga perbuatan tidak selalu menghasilkan akibat di kehidupan sekarang, namun berkaitan dengan kehidupan masa akan datang, seperti tertera dalam dharmapadda 119-120:

Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk. Pembuat kebajikan hanya melihat hal yang buruk selama buah perbuatan bajiknya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik.

KLIK UNTUK BACA SELANJUTNYA –>