Ikan yang Ajaib

Pada suatu masa, sang Bodhisatta dilahirkan sebagai seekor ikan di sebuah kolam di India Utara.

Pada suatu saat, terjadi musim kemarau yang sangat panjang. Musim hujan tidak datang seperti biasanya. Tanaman-tanaman mati, dan banyak kolam, danau dan sungai mengering. Ikan dan kura-kura menggali dan mengubur diri mereka di dalam lumpur, dengan penuh ketakutan berusaha untuk membasahkan dan menyelamatkan mereka sendiri. Burung gagak merasa senang dengan hal ini. Mereka menempelkan paruh mereka ke dalam lumpur, menarik ikan kecil yang ketakutan, dan berpesta pora.

Penderitaan akibat rasa sakit dan kematian yang dialami ikan-ikan lain menyentuh hati sang Bodhisatta dengan kesedihan, dan membuatnya merasa kasihan. Dia menyadari bahwa dialah satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka. Tetapi hal ini akan memerlukan keajaiban.

Kebenarannya adalah bahwa dia tidak pernah bersalah, dengan tidak pernah mengambil nyawa siapa pun. Dia bertekad untuk menggunakan kekuatan kebenaran ini untuk membuat hujan turun dari langit, dan membebaskan saudara-saudaranya dari kesengsaraan dan kematian.

Dia menarik dirinya dari lumpur hitam tersebut. Dia adalah seekor ikan yang besar, dan sehitam lumpur, seperti kayu hitam yang berkilap. Dia membuka matanya, yang bersinar seperti batu merah delima, melihat ke atas langit, dan memanggil Dewa Hujan Pajjunna.

Dia berseru, “Oh temanku Pajjunna, dewa hujan, aku menderita demi saudara-saudaraku. Mengapa kamu menahan hujan dariku, yang bajik sempurna, dan membuatku menderita karena bersimpati kepada semua ikan-ikan ini?”

“Aku dilahirkan di antara ikan, yang biasa untuk memakan ikan lain – bahkan terhadap sesama jenis, seperti kanibal! Tetapi sejak aku dilahirkan, aku sendiri tidak pernah memakan ikan apa pun, sekalipun ikan yang sangat kecil seperti padi. Kenyataannya, aku tidak pernah mengambil nyawa siapa pun. Kebenaran dari ketidakbersalahanku memberi aku hak untuk berbicara kepada mu: Buatlah hujan turun! Bebaskanlah penderitaan saudarasaudaraku!”

Dia mengatakan hal ini seperti memberi perintah kepada seorang pelayan.

Dan dia pun melanjutkan, memerintah Dewa Hujan Pajjunna : “Buatlah hujan turun dari awan yang berguntur! Jangan biarkan burung gagak dengan kesenangan mereka! Biarkan burung gagak merasakan penderitaan dari perbuatan mereka yang tidak bermanfaat. Pada waktu yang sama bebaskan saya dari penderitaan, yang telah hidup dalam kesempurnaan.”

Hanya dalam waktu yang singkat, langit pun mencurahkan hujan yang lebat, membebaskan banyak makhluk dari ketakutan dan kematian – ikan, kura-kura dan bahkan manusia. Dan ketika ikan hebat yang telah menyebabkan keajaiban ini akhirnya mati, dia dilahirkan kembali sesuai dengan yang pantas didapatkannya.

Pesan moral: Ketidakbersalahan (kesucian) yang sejati membebaskan penderitaan banyak makhluk.

 

Sumber: Majalah Dharma Mangala No 11, Tahun I, 9 Juli 2004