Ikan yang Beruntung

Pada zaman dahulu kala, Raja Brahmadatta memiliki seorang penasihat bijaksana yang bisa mengerti bahasa hewan. Dia paham apa yang mereka katakan, dan dia juga bisa berbicara bahasa hewan.

Suatu hari si penasihat sedang berjalan-jalan di pinggir sungai bersama para pengikutnya. Di sana mereka menemukan beberapa nelayan yang menebar jala di sungai. Memandang ke dalam air, mereka melihat seekor ikan besar jantan yang mengikuti istrinya ikan betina yang cantik.

Sisik ikan betina berkilau dengan berbagai warna pelangi saat memantulkan sinar matahari. Siripnya yang seperti bulu-bulu berkepak bak sayap peri yang rapuh, sambil membawanya meluncur di dalam air. Jelas-jelas ikan jantan begitu terpesona akan ikan betina sampai-sampai tidak memperhatikan sekelilingnya.

Sampai mereka tiba dekat jala nelayan, si istri langsung melihatnya dan menghindarinya. Akan tetapi si jantan terbutakan oleh nafsunya terhadap si betina, sehingga dia tidak sempat berbalik. Akhirnya dia masuk ke jala dan terperangkap.

Para nelayan pun menarik jala dan melemparkan si ikan besar ke pinggiran sungai. Lalu, mereka memulai api unggun untuk memanggang ikan tersebut.

Sambil terbaring di tanah, si ikan menggelepar-gelepar dan merintih kesakitan. Karena si penasihat yang bijaksana bisa mengerti bahasa ikan tersebut, dia menerjemahkannya kepada semua orang. Dia berkata, “Ikan malang ini berulang-ulang mengatakan:

“Istriku! Istriku! Saya harus bersama dengannya!

Saya menyayanginya lebih daripada hidupku!

Istriku! Istriku! Saya harus bersama dengannya!

Saya menyayanginya lebih daripada hidupku!”

Si penasihat berpikir, “Ikan ini benar-benar sudah gila. Dia begini menderita karena terbelenggu oleh nafsunya sendiri. Jelas-jelas dia sama sekali tidak jera. Jika dia mati kesakitan, dan tetap memiliki nafsu yang menyebabkan kematiannya dalam batin, pasti dia akan terus menderita karena terlahir di alam neraka. Oleh karena itu, saya harus menyelamatkannya!”

Jadi pria yang baik hati ini pun berjalan menghampiri para nelayan dan berkata, “Temanku, subjek setia raja kita, kalian tidak memberikan saya dan pengikut saya ikan untuk kari kami. Bolehkan kami meminta satu?”

Mereka balas berkata, “Oh pak menteri yang setia, terimalah dari kami ikan apapun yang Anda inginkan!” “Yang besar ini kelihatannya lezat,” kata si penasihat. “Kalau begitu ambillah, tuan,” kata mereka.

Kemudian dia duduk di pinggir sungai dan mengambil si ikan, yang masih merintih-rintih, di tangannya. Dia berkata kepadanya dalam bahasa yang hanya dimengerti ikan, “Ikan yang tolol! Jika saja saya tidak melihatmu hari ini, kamu pasti akan terbunuh. Nafsu butamu lah yang menuntun kamu menuju penderitaan yang tak henti-hentinya. Mulai sekarang, janganlah biarkan diri terperangkap oleh nafsumu sendiri!”

Ikan yang Beruntung
Ikan yang Beruntung

Si ikan pun sadar betapa beruntungnya dia memiliki teman yang baik. Dia lalu berterima kasih atas nasihat yang bijaksana tersebut. Si penasihat kemudian melepaskan ikan yang beruntung itu kembali ke sungai, dan melanjutkan jalannya.

Moral cerita: Janganlah jadi orang bodoh yang terperangkap oleh nafsunya sendiri.

 

Sumber: terjemahan The Fortunate Fish dari www.buddhanet.net