Sudahkah Saya Berinvestasi untuk Kehidupan yang Akan Datang?

Semua orang setiap hari sibuk berupaya memperoleh kekayaan materi yang banyak dan berlimpah, sehingga tak heran pula bila ada begitu banyak cara yang ditempuh untuk mendapatkan kekayaan itu. Ada yang menggunakan cara yang baik dan benar, ada juga yang menggunakan cara yang keji dan kejam; ada yang menaati aturan tapi ada juga yang melanggar aturan dan mencari jalan pintas. Singkatnya, setelah mendapatkan yang diinginkan, lalu apa yang mereka lakukan dengan itu semua? Ada yang menghamburkannya dengan berjudi, berfoya-foya atau pemuasan nafsu indera. Tetapi, ada juga yang menyimpannya sebagai investasi.

Kita semua tentu tahu bahwa kata investasi mempunyai arti menanam modal dalam bentuk uang, barang (mesin atau peralatan) dan lain sebagainya, untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar di kemudian hari. Masing-masing orang melakukan investasi dengan cara mereka sendiri, seperti menabung di bank, membuka usaha, membeli saham, membeli perhiasan atau benda seni. Namun semua yang kita lakukan ini hanya demi mendapatkan kepuasan duniawi, yang sayangnya hanya bersifat sementara. Lalu kita harus bagaimana? Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dulu kita harus bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah saya berinvestasi untuk kehidupan yang akan datang?”

Mungkin sebagian dari kita akan bertanya, mengapa dikatakan untuk kehidupan yang akan datang? Apa maksudnya? Ya, karena Buddha mengajarkan bahwa kehidupan kita bukan hanya sekali ini saja. Kita semua berada dalam roda tumimbal lahir yang membuat semua makhluk terus dan terus terlahir kembali, itulah maksudnya. Kita harus menyadarinya dan berinvestasi dari sekarang, itulah tujuannya. Jadi, pahamlah sudah yang dimaksudkan dengan kehidupan akan datang adalah: bisa masa depan dalam kehidupan ini, bisa pula kehidupan setelah kehidupan ini, atau banyak kehidupan setelah kehidupan ini. Lalu bagaimana cara kita melakukan investasi untuk kehidupan akan datang itu?

Berinvestasi dalam konteks ini berarti kita harus berdana, karena dengan berdana berarti kita telah melakukan investasi untuk kehidupan yang akan datang. Ada banyak cara untuk berdana. Cara pertama yang dapat kita lakukan adalah berdana materi seperti uang, makanan, pakaian atau barang bagi mereka yang membutuhkan. Cara ini baik untuk dilakukan sehingga di kehidupan yang akan datang kita tidak kekurangan materi, bahkan mendapatkan lebih dari yang kita miliki saat ini. Cara kedua yang dapat dilakukan adalah dengan mengajarkan kebenaran kepada sesama supaya mereka memiliki pandangan yang benar dan menjadi bijaksana, bukan hanya sekedar beriman atau percaya. Dengan kata lain, dengan cara ini kita telah berdana Dharma, dan dengan cara berdana ini akan membuat kita terlahir menjadi orang yang pandai, cerdas, dan arif bijaksana di kehidupan akan datang. Cara lain yang dapat kita lakukan untuk berinvestasi adalah berdana tenaga atau waktu, yakni mengabdikan diri dalam kegiatan sosial yang bersifat pelayanan publik atau membantu kegiatan vihara. Membantu meringankan pekerjaan teman dan orang tua juga adalah salah satu wujud investasi yang ketiga, dengan demikian kelak kita akan mendapatkan jasmani yang sehat dengan banyak sahabat di sekeliling. Itulah tiga cara sederhana yang dapat kita lakukan, dan tentu masih banyak cara lain yang dapat kita jalankan.

Sungguh sangat ironis dan menyedihkan bahwa investasi yang sering kita lakukan selama ini justru berbentuk investasi yang dapat menuai bencana atau kemalangan yang kelak akan kita tuai di kehidupan saat ini atau akan datang. Karena keserakahan, kebodohan, rasa benci serta iri kepada sesama, maka kita jadi kikir, merampas milik orang lain dengan menghalalkan segala cara, bahkan berani melakukan korupsi dan manipulasi hanya untuk memperkaya diri sendiri.

Guru Buddha kita yang agung dan bijaksana telah mengajarkan bahwa perbuatan yang baik akan berbuah kebaikan, sedang perbuatan yang buruk akan menuai bencana atau kemalangan. Inilah hukum karma sebab akibat yang berlaku untuk semua makhluk hidup di alam semesta ini. Karena itu, sudahkah kita selalu sadar akan apa yang kita perbuat selama ini dan saat ini?

Semoga uraian sederhana di atas dapat menjadi bahan renungan dan selalu menyadarkan kita agar senantiasa berpikir secara Buddhis.

Semoga semua makhluk berbahagia.

 

Sumber: Majalah Sinar Dharma Vol. 5 No. 1, Maret – Mei 2007