Kasih Sayang kepada Semua Makhluk

Kebanyakan perselisihan terjadi karena salah pengertian terhadap motivasi masing-masing. Kita semua mempunyai alasan masing-masing untuk tindakan yang kita lakukan dan kata-kata yang kita ucapkan. Jika kita dilandasi cinta kasih, dan mau berhenti sejenak dan mencoba untuk melihat arah orang lain, maka kita tidak akan terlibat dalam konflik.

Dan bahkan jika kita mengambil napas panjang dan mendengar dengan hati terbuka, kitaa kan sadar bahwa kita mampu mengatasi perselisihan dengan lebih efektif. Mampu menenangkan emosi dan mampu menyelesaikan perbedaan kita dengan cara-cara yang membuat semua orang puas, sehingga akhirnya tidak ada yang disebut pihak pemenang maupun pihak yang kalah.

Pengalaman ini digambarkan dengan sangat baik lewat sebuah cerita tentang seorang pria dan seekor anjing galak. Seorang pria tinggal bersebelahan dengan seseorang yang memiliki anjing galak. Pintu masuk halaman rumah pria ini dan tetangganya cukup dekat, dan setiap kali pria itu keluar dari pintunya, anjing tetangganya akan keluar dari rumah tetangganya, sambil menggonggong, mengeram-geram, mengendus-ngendus, semua hal yang dilakukan anjing itu menakutkan bagi pria itu. Jika itu saja belum cukup, anjing tersebut juga suka mendorong-dorong pintu rumahnya, tentu saja sambil menggonggong dan menggertak, membuat pria itu semakin terganggu.

Pria itu menghabiskan waktu cukup lama untuk memikirkan bagaimana menghukum anjing tersebut untuk prilaku buruknya itu. Akhirnya ia mendapatkan sebuah ide untuk membuka sedikit pintu halaman depannya, dan menaruh sebuah benda yang cukup berat di atasnya. Waktu berlalu dan anjing tersebut tidak pernah datang. Setelah beberapa saat, pria itu menyiapkan buku doanya dan mulai melantunkan doa, sambil melihat teks ia juga mencuri waktu untuk sesekali melihat ke luar jendela halaman rumahnya. Anjing tersebut tetap saja belum muncul. Akhirnya, dalam doanya, pria tersebut tiba di sebuah doa aspirasi yang disebut “Four Immeasureables“, yang dimulai dengan bait berikut ini:

“Semoga semua mahluk bahagia dan memiliki sebab-sebab kebahagiaan. Semoga semua mahluk bebas dari penderitaan dan sebab-sebab penderitaan.”

Di tengah-tengah doanya, tiba-tiba muncul di dalam benaknya bahwa anjing tersebut juga mahluk hidup, dan dengan menyiapkan sebuah jebakan ia akan membuat anjing tersebut luka dan menderita. Jika saya terus berdoa, maka saya akan berbohong. Mungkin saya harus berhenti berdoa. Tetapi ia tidak merasa nyaman, karena membaca doa Four Immeasureables adalah bagian dari praktik sehari-harinya. Ia mulai berdoa lagi dan berusaha keras untuk mengembangkan kasih sayang kepada anjing tersebut, tetapi kemudian ia berhenti, dan berpikir, “Tidak, Anjing itu sangat jahat. Ia telah sering membuat saya susah. Saya tidak mau ia bebas dari penderitaan atau mendapatkan kebahagiaan.”

Ia memikirkan masalah ini sebentar, hingga ia akhirnya mendapatkan sebuah jalan keluar. Ia bisa mengubah sebuah kata kecil di dalam doa tersebut. Dan ia mulai berdoa:

“Semoga SEBAGIAN mahluk hidup bahagia dan memiliki sebab-sebab kebahagiaan. Semoga SEBAGIAN mahluk hidup bebas dari penderitaan dan sebab-sebab penderitaan.”

Ia cukup senang dengan jalan keluar ini. Setelah ia menyelesaikan doanya, pergi santap siang, dan melupakan anjing itu, ia memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke luar rumah sebelum hari gelap. Karena buru-buru, ia lupa dengan jebakan yang ia buat, dan segera ia mendorong pintunya semua benda-benda berat yang sudah ia kumpulkan dan ditaruh di atas pintu jatuh mengenai kepalanya.

Itu adalah, paling tidak, pencerahan kasar. Ya, sebagai hasil dari penderitaan yang ia alami, pria itu menyadari sesuatu yang sangat penting. Dengan tidak menyertakan makhluk apa saja untuk mendapatkan kebahagiaan dan terbebas dari penderitaan, ia juga telah tidak menyertakan dirinya sendiri. Sadar bahwa ia adalah korban dari dirinya sendiri yang kurang memiliki kasih sayang, ia memutuskan untuk mengubah taktiknya.

Keesokan harinya, ketika ia keluar untuk jalan-jalan pagi, pria itu membawa sepotong kecil kue. Segera setelah ia melangkahkan kaki keluar dari pintunya, anjing tetangganya itu menghampirinya dengan cepat, menggonggong dan menggeram seperti biasa, tetapi alih-alih mengumpat, pria itu malah memberikannya kue yang ia bawa. Terkejut di tengah-tengah gonggongannya, anjing tersebut menangkap kue yang dilempar pria itu dan mulai menguyahnya, namun, masih sambil mengendus dan mengeram.

Permainan kecil ini berlangsung hingga beberapa hari kemudian, saat pria itu akan keluar dari halamannya, anjing tersebut akan keluar dan di tengah-tengah gonggongannya ia akan menangkap sedikit kue yang dilemparkan pria itu. Setelah beberapa hari pria itu menyadari bahwa meskipun anjing tersebut masih tetap menggeram sambil memakan kue, ia mulai menggoyang-goyangkan ekornya. Di akhir minggu, anjing tersebut sudah tidak lagi menggeram, melainkan akan langsung lari keluar untuk menyapa pria itu. Akhirnya, hubungan antara keduanya berkembang hingga anjing tersebut akan masuk sambil berjalan dengan pelan-pelan ke dalam halaman rumah pria itu untuk duduk tenang bersama pria itu ketika ia mambacakan doa hariannya. Sekarang ia cukup nyaman dan puas bisa berdoa untuk kebahagiaan dan kebebasan semua mahluk hidup.

Ketika kita menyadari bahwa semua makhluk; manusia, binatang dan bahkan seekor semut pun, sebenarnya sama seperti kita, motivasi dasar mereka adalah ingin mendapatkan kedamaian dan menghindari penderitaan, lalu ketika seseorang bertindak atau mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan kita, kita tidak bisa memiliki pengertian: “Oh, baik orang ini atau mahluk apa pun juga, melakukan ini karena sama seperti saya, mereka ingin bahagia dan tidak mau menderita. Ini adalah tujuan dasar mereka. Mereka tidak melakukannnya untuk melukai saya, mereka hanya melakukan apa yang mereka perlu lakukan.”

Kasih sayang adalah kebijaksanaan spontan dari hati. Ia selalu bersama kita. Ia selalu dan akan selalu seperti itu. Ketika kasih sayang sudah abadi dalam diri kita, kita telah belajar melihat betapa kuat dan amannya diri kita.

 

Sumber: Majalah BVD No. 123, Maret 2009