Keajaiban, Ramalan, dan Ilmiah

Apakah benar ada keajaiban di dunia ini. Jawaban saya adalah pasti ada. Adakah Ajahm Bhram adalah keajaiban ini? No comment. Selama meditasi enam bulan di hutan, pernahkah Ajahm Brahm bertemu dengan non-human being?

Ajahm Brahm berhenti sebentar sebelum menjawab, “Ada, saya bertemu dengan kanguru.”

Suara tertawa memenuhi ruangan.

Dalam Buddhism, tidak diajarkan kekuatan gaib atau membuat keajaiban. Tetapi, Sang Buddha pernah berkata bahwa terdapat 3 macam keajaiban (miracle) yang dapat diperoleh dari pikiran terlatih. Yang pertama adalah keajaiban yang terdapat pada pikiran terlatih dari Buddha manussa, yaitu manusia Buddha, manusia yang mencapai penerangan sempurna pada kehidupan sebagai manusia. Seperti Sang Buddha sendiri.

Dalam sutta, tertulis bahwa Sang Buddha pernah menunjukkan kesaktiannya, dengan mengubah langit menjadi tujuh warna cantik dan mempesona, kemudian berjalan di sungai tanpa bantuan apa-apa. Sang Buddha melakukan ini bukan karena mau menunjukkan kecongkakannya. Tetapi melakukannya dengan welas asih supaya menyadarkan penduduk-penduduk desa yang pikirannya tersesat diajarkan oleh seorang penganut agama sesat. Tetapi kemudian Sang Buddha melarang muridnya untuk menunjukkan kesaktian yang mereka miliki. Kesaktian ini bisa diperoleh setelah seseorang mencapai jhana-jhana tertentu dalam melakukan meditasi, misalnya mengetahui kehidupan masa lalu seseorang, mengetahui pikiran orang lain, menembus dinding, dan lain-lain.

Kenapa Sang Buddha melarang?

Karena dengan penunjukkan kesaktian seseorang bisa menimbulkan banyak masalah. Pada zaman Sang Buddha, terjadi beberapa insiden. Satu di antaranya, seorang muridnya menyalahgunakan kesaktiannya di desa untuk menunjukkan kehebatan agama Buddha dan menukarnya dengan makanan atau dana.

Memang kadang-kadang, kesaktian kita dapat mengetahui masa lalu dan dapat juga menimbulkan masalah. Satu contohnya ialah seorang wanita di sebuah desa di Thailand yang sering melakukan meditasi, dia mempunyai dua orang putra. Putra sulungnya menjadi guru dan kepala sekolah di desa itu. Wanita itu meninggal dunia dan terlahir kembali menjadi putri dari putranya kedua. Karena kesaktiannya masih terlekat, setelah dilahirkan kembali dia tetap ingat tentang kehidupannya yang lalu. Dia memberitahukan orang tuanya yg sekarang bahwa dia adalah ibunya, dan menceritakan tentang pengalaman-pengalaman mereka yang lalu. Tentu saja sebentar kemudian semua penduduk di desa tahu akan kelahiran kembali ini. Pada waktu sekolah, kepala sekolah tidak tahu bagaimana menghadapi ibunya yang dulu ini. Ibunya juga tidak bisa memberi hormat kepada anaknya sebagaimana seorang murid memberi hormat kepada guru.

Bukankah ini juga suatu masalah?

Adalagi cerita dari seorang Buddhis. Dia sudah mencapai jhana tertentu dari meditasinya, dia bisa melihat masa bayinya, dan dapat merasakan bau sedap sewaktu masa bayinya. Kemudian dia melihat orang yg selalu mengendong dan menjaganya. Dia melihat wajah itu sangat asing, bukan wajah ibunya. Hal ini membuat dia curiga mengenai asal usulnya. Akhirnya dia bertekad untuk bertanya langsung kepada ibunya. Dia bercerita pada ibunya bahwa tentang apa yg dia ketahui semasa dia masih bayi, tentang wajah seorang wanita yg tidak pernah dia lihat sampai sekarang. Ibunya tersenyum dan berkata, kamu terlalu banyak berpikir yang bukan-bukan, wanita itu adalah baby-sitter yang kami upah untuk membantu menjaga kamu selama 4 bulan. Setelah 4 bulan, dia tidak bekerja lagi karena itu kamu tidak pernah melihat ataupun mengingati tentang dia lagi.

Bayangkan saja jika Bhikkhu-Bhikkhu diijinkan untuk menunjukkan kesaktiannya, maka sudah pasti banyak orang yang meminta mereka untuk menceritakan tentang masa lalu mereka dan meminta ramalan dan lain lain.

KLIK UNTUK BACA SELANJUTNYA –>