Keajaiban, Ramalan, dan Ilmiah

Keajaiban kedua adalah yang diperoleh oleh pikiran terlatih dari orang-orang yang bermeditasi. Setelah mencapai jhana pertama bagi orang yang melakukan meditasi, kulitnya, wajahnya akan kelihatan bersinar-sinar tanpa memakai kosmetik apapun, kulitnya halus, putih dan bersih. Jika dia melanjutkan meditasinya mencapai jhana kedua, keajaiban lain akan diperolehnya lagi, seperti mengetahui kejadian pada masa lalu, kehidupan yang lalu, kejadian yang akan datang, mendengar suara sejauh manapun. Pada jhana ketiga, dia dapat memunculkan dirinya dimanapun juga, membuat satu menjadi seratus, seribu bayangan, menembus gunung, laut dan lain-lain. Bila dia juga meninggalkan jhana yang diperolehnya ini dan melanjutkan ke jhana ke-empat, maka dia akan mencapai penerangan sempurna menjadi seorang Arahat yang bebas dari belenggu apapun.

Pengalaman saya sendiri dari meditasi adalah sewaktu saya masih menjadi siswa di universitas. Meditasi pulalah yang membawa saya menuju ke ajaran Buddha. Seperti yang pernah saya katakan, saya banyak membaca buku termasuk buku meditasi. Saya selalu bermeditasi sebelum belajar, ini sangat membantu konsentrasi saya. Dengan demikian pelajaran yang saya belajar atau hafal lebih mudah saya pahami. Inilah keajaiban yang saya peroleh pertama kali dalam meditasi.

Dalam kehidupan di biara, ada peraturan tidak tertulis di mana makanan yang lebih baik akan terlebih dahulu diberikan pada bhikkhu yang lebih senior. Suatu hari ada penderma yang memberikan sebuah paha ayam ke dapur biara. Paha ayam ini disediakan di mangkuk bhikkhu senior di meja makan. Para bhikkhu berkumpul di ruang makan dan berdiri di samping meja makan untuk berdoa sebelum mulai makan.

Setelah selesai berdoa, begitu baru duduk, bhikkhu senior memanggil salah seorang bhikkhu junior dan berkata ambillah paha ayam ini dan makanlah ia kalau kamu memang begitu menginginkannya.

Ada cerita lain tentang meditasi, ini adalah mengenai pengalaman saya berkotbah tentang meditasi. Seperti yang pernah saya beritahu tentang pengajaran saya di penjara Australia barat. Pada hari pertama saya mengajar tentang meditasi, hampir seratus persen dari narapidana di penjara itu yang hadir. Saya sangat gembira karena saya kira orang yang berminat pada ajaran Sang Buddha semakin bertambah dan ini adalah suatu tampak positif pada Buddhism.

Pada acara tanya jawab, mereka serentak bertanya “Benarkah bermeditasi dapat menembus tembok?”

Setelah mendengar penjelasan saya, tampak dengan jelas mereka semua terlihat kecewa. Pada pelajaran selanjutnya cuma beberapa orang yang hadir. Saya menghampiri petugas penjara dan bertanya kenapa yang datang sangat sedikit. Sambil tertawa petugas itu menjawab, mereka kira mereka dapat belajar meditasi dan melarikan diri dari penjara dengan menembus tembok. Mendengar penjelasannya, saya menjadi tersenyum.

Keajaiban ketiga yang diperoleh dari pikiran terlatih melalui pendidikan dan latihan (education and training). Sang Buddha berkata, dengan pendidikan dan latihan dengan kesungguhan, manusia dapat memperoleh keajaiban yang dapat mengubah kehidupannya. Seperti seorang yang bodoh jika dididik tidak bisa juga tetapi setelah lama berlatihan dia akan lebih maju walaupun tidak menjadi sepandai apa yang kita harap. Keajaiban jenis ketiga inilah yang Sang Buddha harapkan kita untuk mengembangkannya.

Ada kisah nyata mengenai seorang anak yang sangat bodoh di sebuah kampung di Thailand. Dia seperguruan dengan saya, tetapi saya tidak akan mengatakan siapa namanya. Sejak kecil anak itu begitu bodoh dan malas untuk belajar, dan selalu tinggal kelas. Orang tuanya menjadi putus asa, dan sudah menjadi tradisi orang Thai utk membawa anaknya ke biara untuk dididik pendeta kalau memang mereka sudah angkat tangan. Maka tinggallah anak ini di dalam biara. Para pendeta mengajarkan dia membaca paritta dan menyuruhnya untuk menghafalnya, tetapi paritta terpendek pun sepertinya sulit dia hafalkan.

Akhirnya ada seorang bhikkhu yg menganjurkan untuk mendidiknya bermeditasi, pertama-tama dia diajarkan meditasi pernafasan yang paling mudah. Ternyata anak ini sangat mudah menerima ajaran ini, dan dia seperti sangat suka sekali dengan pelajaran meditasi. Dia sangat rajin melatih dan melatih terus setiap hari dan ternyata tidak lama kemudian dia berhasil dan sejak itu pikirannya mulai terbuka dan tidak sebodoh dulu lagi. Itulah keajaiban yang dikatakan Sang Buddha, keajaiban yang diperoleh dari pendidikan dan latihan. Sekarang anak itu hampir seumur dengan saya atau bahkan lebih tua, dan dia sekarang adalah seorang guru meditasi yg sangat baik.

KLIK UNTUK BACA SELANJUTNYA –>