Kebaikan, Sulitkah Dilakukan?

Mengapa berbuat baik?

Suatu hari ada seorang ibu mengajak kawannya untuk melakukan kegiatan sosial. Ibu tersebut sudah lama menjadi relawan di salah satu organisasi sosial. Hampir separuh hidupnya sudah digunakan untuk kegiatan organisasi sosial tersebut.

Walaupun demikian, ibu tersebut tidak mengabaikan kehidupan keluarganya. Kehidupan keluarganya tetap berjalan dengan baik karena ia pandai membagi waktu antara keluarga dan kegiatan dalam organisasinya.

Karena seimbang itulah semua terata dengan baik dan keluarganya sangat mendukung kegiatan yang dilakukannya. Kawan yang mau diajak oleh ibu tersebut belum pernah mengikuti kegiatan sosial. Ketika diajak, kawannya bertanya, “Untuk apa berbuat baik?” Kalau kita ikut dalam kegiatan sosial, bukankah hanya membuang waktu saja? Pertanyaan itu wajar karena kawannya belum memahami manfaat berbuat baik dan manfaat berkecimpung di kegiatan sosial.

Ibu yang mengajak kawannya untuk berbuat baik kemudian menjelaskan bahwa sesungguhnya kebajikan itu sangat bermanfaat untuk kehidupan kita. Kebajikan bukan saja membuat orang lain bahagia tetapi kita pun akan merasakan kebahagiaan, bergabung menjadi relawan di salah satu organisasi sosial.

Setelah mendengar jawaban dari ibu yang mengajak berbuat baik dan menjadi anggota organisasi sosial, kawannya mau berbuat baik dan ikut.

Seringkali kita mendengar tentang ajakan untuk melakukan kebajikan seperti yang dilakukan oleh ibu dalam kisah di atas. Ajaka berbuat baik adalah ajakan yang sangat positif karena kebaikan bermanfaat untuk kehidupan ini. Kebajikan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, oleh karena itu manusia harus melakukannya secara maksimal dan dengan motivasi yang benar.

Kenapa? Karena motivasi juga mempengaruhi sikap dan perilaku manusia dalam melakukan kebajikan. Hasil dari kebajikan erat kaitannya denganmotivasi seseorang melakukan kebajikan.

Ada orang berbuat baik karena mengharapkan pahala yang banyak. Ada juga orang berbuat baik untuk mendapatkan pujian dan kehormatan. Dan masih banyak lagi motivasi yang mempengaruhi orang melakukan kebajikan.

Oleh karena kebajikan demikian besar manfaattnya seharusnya kita tidak mengabaikan ketika ada peluang berbuat baik. Hanya saja motivasi yang benar harus menjadi dasar ketika seseorang berbuat baik.

Kadangkala manusia menjadi ragu tentang perbuatan baik yang telah dilakukan. Keraguan itu mucul ketika buah dari perbuatan baik itu belum muncul. Mereka akan berpikir, perbuatan baik itu tidak mendatangkan kebahagiaan.

Hal tersebut akan membuat manusia menjadi kecewa bahkan berhenti melakukan kebajikan. Jika tidak segera diluruskan maka orang tersebut akan jatu pada pandangan yang salah. Karena sesungguhnya kehidupan sekarang juga dipengaruhi oleh kehidupan sebelumnya. Apa yang terjadi sekarang bukan semata-mata karena kehidupan sekarang saja.

Kebaikan, Sulitkah Dilakukan?
Kebaikan, Sulitkah Dilakukan?

Perjuangan dan Tantangan

Kebajikan yang kita lakukan sangat berguna dalam kehidupan ini tetapi terkadang sulit mempertahankannya. Hal ini diungkapkan oleh seorang pemuda yang menjadi aktivis vihara.

Pemuda tersebut sangat aktif dan sudah lama menjadi relawan vihara. Ia menceritakan suka dukanya ketika menjadi relawan. Ia sangat senang dapat menjadi relawan Dhamma karena dengan menjadi relawan ia dapat berbuat baik untuk orang lain dan juga Buddha Sasana.

Pemuda tersebut dihadapkan dengan rasa malas, bosan, jenuh, kecewa dan terkadang juga dihadapkan dengan pikiran buruk. Pernah suatu hari ia berpikir, untuk apa saya menjadi relawan vihara?

Pikiran itu muncul karena ia pernah dihadapkan dengan kesulitan yang berat. Ia merasa kebajikan yang dilakukan selama menjadi relawan tidak bermanfaat dan tiada artinya untuk kehidupannya.

Beruntung pemuda tadi tidak terperosok lebih jauh karena mampu membangkitkan semangatnya. Ia menjadi semakin yakin bahwa proses, apapun ada hikmahnya. Keyakinan, ketulusan, semangat, kesabaran, dan pengertian yang benar membuat pemuda itu dapat bertahan dalam kebajikan.

lanjut —>