Home Artikel Kelahiran Kembali Menjadi Hewan

Kelahiran Kembali Menjadi Hewan

Apakah terlahir menjadi hewan adalah akibat dari karma buruk pada kehidupan-kehidupan lampau. Kalau begitu, bagaimana cara mereka bisa melepaskan diri dari lingkaran kehidupan menjadi hewan?

Karma berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti perbuatan. Dalam Buddhisme, karma adalah hukum alam sebab akibat yang berkaitan dengan kesadaran makhluk hidup. Hukum karma memiliki banyak aspek, sehingga dibutuhkan banyak penelitian dan perenungan untuk benar-benar memahaminya.

Sebab dan Akibat

Hukum sebab akibat bukanlah semacam kekuatan asing eksotis yang hanya diikuti oleh umat Buddha. Kita semua hidup dengan Karma setiap hari secara tanpa sadar. Contohnya, seseorang berlatih memasak agar dapat membawa hasil tertentu – yaitu masakan yang lebih lezat. Selain itu, kita semua tahu bahwa memasak air akan menyebabkan airnya mendidih.

Hukum karma dan efeknya adalah hukum sebab akibat ketika diaplikasikan dalam dimensi etis dari perbuatan-perbuatan kita. Di sini kita bisa melihat bahwa perbuatan, perkataan, dan pikiran kita dapat memengaruhi masa depan kita. Kita melakukan suatu tindakan – karma – sebagai sebab dalam kehidupan ini yang nantinya akan menjadi akibat di masa depan.

Sang Buddha bukanlah pencipta hukum karma; Beliau hanyalah penemunya. Sang Buddha menjelaskan bahwa karma adalah hukum dasar yang membentuk pengalaman kita. Ajaran ini menunjukkan bahwa tindakan yang kita lakukan memiliki dimensi etis dan kita sendiri lah yang menentukan kebahagiaan serta penderitaan dalam diri.

Begini cara kerjanya: pada dasarnya, kapanpun kita bertindak dalam perbuatan, ucapan, atau batin, kita akan meninggalkan jejak yang bertindak sebagai benih yang nantinya akan tumbuh dan matang menjadi pengalaman di masa depan. Perbuatan baik yang dilakukan dengan maksud baik – seperti cita kasih, simpati, kemurahan hati, dan sebagainya – akan menghasilkan akibat yang baik. Sedangkan perbuatan jahat dengan maksud jahat pula – seperti kebodohan batin, kemarahan, atau keserakahan – akan menghasilkan akibat buruk. Demikian juga dengan perbuatan netral, yang tidak jahat maupun tidak baik, akan berakibat netral juga.

“Benih-benih” karma yang matang selama kehidupan ini akan menghasilkan kejadian-kejadian dalam hidup serta perasaan senang, menderita, atau netral yang kita rasakan selama kejadian tersebut. Jika karma matang tepat saat kita akan meninggal dunia, maka karma akan menentukan ke mana kita akan terlahir selanjutnya. Apabila karma baik matang, maka kita akan terlahir di alam manusia kembali atau ke alam-alam yang lebih tinggi, seperti surga misalnya. Sedangkan jika karma buruk yang matang, maka kita bisa terlahir di alam rendah, seperti alam binatang atau neraka. Dari sini, bisa dilihat bahwa tidaklah sulit bagi manusia untuk terlahir jadi binatang.

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa kelahiran kembali menjadi hewan adalah hasil dari perbuatan buruk di masa lampau, akan tetapi perbuatan-perbuatan lainnya juga berpengaruh pada kondisi binatang tersebut. Misalnya, hewan-hewan peliharaan yang disayangi dan diberi makan setiap hari. Bahkan ada juga hewan peliharaan orang kaya yang sehari-harinya didandani, pergi ke spa, makan enak, dan hanya perlu duduk manis tanpa bekerja susah payah mencari uang seperti manusia biasa.

Di sini bisa kita lihat walaupun karma buruknya matang pada saat seseorang akan meninggal, sehingga terlahir di alam binatang, karma baik di masa lampau – berkat cinta kasih atau kemurahan hati, misalnya – bisa membantu seekor binatang untuk hidup dengan nyaman.

Kelahiran Kembali Menjadi Hewan
Kelahiran Kembali Menjadi Hewan

Membantu Hewan Peliharaanmu

Tidaklah mudah bagi seekor binatang untuk berbuat baik sehingga nantinya bisa terlahir di alam yang lebih tinggi. Akan tetapi, tidak mudah bukan berarti mustahil. Manusia yang penyayang dapat membantu teman hewannya untuk mengumpulkan karma baik.

Caranya, kita bisa memberikan jejak karma baik ke dalam batin hewan dengan memberinya paparan terhadap benda-benda suci. Contohnya, membawa kucing atau anjing peliharaan untuk melihat patung Buddha. Hewan-hewan juga boleh ikut mendengar Dhamma saat kebaktian di vihara.

Banyak praktisi Buddhis berbagi latihan harian mereka dengan hewan peliharaan dengan cara membiarkan mereka tidur atau duduk di dekat manusia saat bermeditasi. Kita juga dapat membaca mantra atau paritta kepada hewan peliharaan. Meskipun mereka tidak mengerti artinya, jejak suara kita nantinya akan tertinggal dalam batin hewan dan membantu mereka mengumpulkan benih kebaikan. Saat hewan sudah mendekati ajal, membaca mantra akan membantu karma baik yang diperbuat di kehidupan lalu mereka untuk matang, sehingga bisa mendorong kelahiran kembali di alam yang lebih baik.

Lagipula, dengan membantu teman hewan kita berbuat karma baik, kita sendiri juga otomatis mendapatkan manfaatnya juga.