Kelahiran Kembali

Y.M. Bhikkhu Thanavaro Maha Thera, B.A., M.Ed.

  • Ketua 1 SAGIN
  • Kepala Vihara Sakyamuni Buddha – ITBC Cemara Asri

===========================================

Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa.

Menurut ajaran Buddhisme, semua makhluk kecuali para Arahat tunduk pada kelahiran kembali (pu­nabbhava). Kelahiran kembali, dalam konsep Buddhis, bukanlah perpinda­han diri atau jiwa melainkan kesi­nam­bungan suatu proses, suatu aliran penjelmaan di mana kehidupan demi kehidupan berturut-turut terhubung satu sama lain oleh transmisi penga­ruh sebab-akibat, bukan oleh iden­titas substansial.

Proses kelahiran kembali, Sang Buddha mengajarkan suatu hukum pasti yang pada intinya dibentuk oleh dinamisme fundamental yang men­en­tukan kondisi-kondisi ke mana makhluk-makhluk terlahir kembali dan situasi-situasi yang mereka temui dalam perjalanan kehidupan mereka. Dinamisme ini adalah kamma, per­buatan berkehendak melalui jasmani, ucapan, dan pikiran.

Mereka yang terlibat dalam per­buatan-perbuatan buruk yaitu perbu­atan yang didorong oleh ketiga akar yang tidak bermanfaat berupa kese­rakahan, kebencian, dan delusi – meng­hasilkan kamma tidak berman­faat yang mengarahkan mereka pada kelahiran kembali di dalam kondisi-kondisi kehidupan rendah dan, jika matang di alam manusia, maka akan membawa penderitaan dan kemala­ngan bagi mereka.

Mereka yang ter­libat dalam perbuatan-perbuatan baik yaitu perbuatan yang didorong oleh ketiga akar bermanfaat berupa keti­dak-serakahan, ketidak-bencian, dan tanpa delusi akan menghasilkan kam­ma bermanfaat yang mengarahkan mereka pada kelahiran kembali di da­lam kondisi- kondisi kehidupan yang lebih tinggi dan, jika matang di alam manusia, maka akan membawa keba­hagiaan dan keberuntungan bagi mere­ka.

Karena perbuatan-perbuatan yang dilakukan seseorang dalam perjalanan satu kehidupan dapat sa­ngat bervariasi, maka jenis kelahiran kembali di masa depan sangat tidak dapat diramalkan. Tetapi terlepas dari keberagaman ini, suatu hukum pasti mengatur hubungan langsung antara jenis-jenis perbuatan dan jenis-jenis akibat yang dihasilkan.

Dari sudut pandang Buddhis, kos­mologi bukanlah produk dari dugaan atau khayalan melainkan suatu hal yang secara langsung diketahui oleh Sang Buddha melalui “kekuatan pe­ngetahuan Tathagata” (MN 12.36); Sebuah tinjauan ringkas akan dibe­rikan di sini tentang alam-alam kela­hiran kembali yang dikenal dalam kosmologi Buddhis dan kamma yang mendahuluinya.

Kosmos Buddhis terbagi dalam tiga alam besar – alam indria, alam ber­materi halus, dan alam tanpa ma­teri. Masing-masingnya terdiri dari sejumlah alam-alam kecil, yang ber­jumlah total tiga puluh satu alam kehidupan.

Alam indria, disebut demikian ka­rena keinginan indria menonjol di sini, terdiri dari sebelas alam yang ter­bagi dalam dua kelompok, alam yang buruk dan alam yang baik. Alam yang buruk atau “alam seng­sara” (apa¯ya) berjumlah empat: ne­raka, yang kondisi siksaan hebatnya dijelaskan dalam MN 129 dan MN 130; alam binatang; alam hantu (peta), yang didera oleh lapar dan ha­us terus-menerus; dan alam raksasa (asura).

Alam yang baik dalam ke­lompok alam indria adalah alam ma­nusia dan alam-alam surga. Alam sur­ga di sini ada enam: para dewa di bawah Empat Raja Dewa; para dewa Tiga Puluh Tiga (ta¯vatim?sa), yang dipimpin oleh Sakka, para dewa Ya¯ma; para dewa di alam surga Tu­sita, alam Sang Bodhisatta sebelum kelahiran terakhirNya (MN 123); para dewa yang bersenang dalam pen­ciptaan; dan para dewa yang me­ng­uasai ciptaan para dewa lainnya. Penyebab kamma agar terlahir kem­bali di alam yang baik dari alam in­dria adalah mempraktikkan sepuluh perbuatan bermanfaat.

Dalam alam bermateri halus tidak ada jenis materi yang lebih kasar dan kebahagiaan, kekuatan, kecemerla­ngan, dan vitalitas dari para peng­huninya jauh lebih besar daripada mereka yang di alam indria. Alam ber­materi halus terdiri dari enam be­las alam, yang merupakan padanan objektif dari empat jhana. Penca­paian jhana pertama mengarah pada kelahiran kembali di antara kumpu­lan Brahma, para Menteri Brahma dan Maha Brahma, sesuai dengan apa­kah jhana itu dikembangkan pada tingkat rendah, menengah, atau tinggi. Brahma Baka dan Brahma Sa­hampati tampaknya adalah peng­huni alam yang disebutkan terakhir.

Pencapaian jhana ke dua dalam tiga tingkatan yang sama berturut-turut mengarah pada kelahiran kembali di antara para dewa dengan cahaya ter­batas, cahaya tidak terbatas, dan ca­haya gemilang; jhana ke tiga men­ga­rah pada kelahiran kembali di an­tara para dewa dengan keagungan terbatas, keagungan tidak terbatas, dan keagungan gemilang. Jhana ke empat biasanya mengarah pada kela­hiran kembali di antara para dewa ber­buah besar, tetapi jika dikembang­kan dengan keinginan untuk men­capai jenis kehidupan tanpa persepsi, maka akan mengarah pada kelahiran kembali di antara makhluk-makhluk tanpa persepsi, yang kesadarannya berhenti untuk sementara.

Alam ber­materi halus juga berisikan lima alam khusus yang eksklusif untuk kela­hiran kembali para yang-tidak- kem­bali. Yaitu, Alam-alam Murni Avi­ha, Atappa, Sudassa, Sudassi, dan Akanitataha. Dalam masing-masing alam dari alam bermateri halus ini, umur kehidupan dikatakan sangat lama dan meningkat banyak dalam tiap-tiap alam yang lebih tinggi.

Alam ke tiga makhluk-makhluk adalah alam tanpa materi, di mana materi telah menjadi tidak ada dan hanya proses batin yang ada. Alam ini terdiri dari empat alam, yang me­rupakan padanan objektif dari empat pencapaian meditatif tanpa materi, yang disebut: landasan ruang tanpa batas, kesadaran tanpa batas, keko­so­ngan, dan bukan persepsi juga bu­kan bukan-persepsi. Umur kehi­dupan di alam ini berturut-turut ada­lah 20,000; 40,000; 60,000; dan 84,000 maha kappa.

Dalam kosmologi Buddhis kehi­dupan dalam setiap alam, sebagai produk dari kamma dengan kekuatan terbatas, adalah tidak kekal. Makh­luk-makhluk mengalami kelahiran kembali sesuai dengan perbuatan mereka, mengalami akibat baik atau buruk, dan kemudian, ketika kamma penghasil telah menghabiskan keku­at­annya, mereka meninggal dunia dan terlahir kembali di tampat lain se­perti yang ditentukan oleh kamma lain lagi yang telah menemukan kesempatan untuk menjadi matang.

Karenanya, siksaan neraka serta kebahagiaan surga, tidak peduli berapa lama hal itu berlangsung, pasti akan berlalu. Karena alasan ini Sang Buddha tidak menempatkan tujuan akhir dari ajaran-Nya di manapun di dalam alam yang terkondisi. Beliau membimbing mereka yang indria spiritualnya masih muda untuk berci­ta-cita mencapai kelahiran kembali di alam surga dan mengajarkan mereka aturan berperilaku yang mengarah pada pemenuhan cita-cita mereka.

Tetapi bagi mereka yang indria-in­drianya telah matang dan yang dapat menangkap sifat tidak memuaskan dari segala sesuatu yang terkondisi, Beliau mendorong usaha teguh untuk mengakhiri pengembaraan dalam sam?sa¯ra dan untuk mencapai Nibba¯na, yang melampaui segala alam kehidupan.

Dengan penjelasan ini diharapkan kita dapat memahami kelahiran kembali secara benar, karena pema­haman yang benar mengenai kelahi­ran kembali dalam Buddhisme sangat penting artinya bagi kemajuan spri­tual kita.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Artikel ini telah terbit di Harian Analisa Kamis, 25 Agustus 2016