Kenapa Kita Menyanyikan Sutra dan Mantra

Dulu sekali sewaktu Sang Buddha masih hidup, semua ajarannya dilestarikan dan disebarkan melalui mulut ke mulut. Tidak ada catatan tertulis tentang ajaran Buddha hingga ratusan tahun sebelum Sang Buddha sendiri Parinibbana. Sama halnya seperti kita yang tidak mungkin ingat teks dan ceramah yang hanya kita dengar sekali, begitu juga para orang zaman dulu. Akan tetapi, sudah terbukti bahwa kita bisa mengingat lirik lagu dan musik lebih mudah. Jadi, itulah yang dilakukan untuk menghafal dan mengingat Sutra sampai akhirnya dituliskan.

Meskipun begitu, bahkan dalam bentuk tertulis pun sutra masih dilafalkan dengan nada seperti lagu, hingga masa sekarang juga masih begitu. Saat kebaktian di vihara, semua orang pasti akan “menyanyikan” sutra dan paritta. Sebenarnya, membaca paritta dengan nada menyanyi adalah suatu bentuk meditasi. Ketika suatu teks dinyanyikan, hal ini akan membuatnya lebih menarik dan membekas dalam benak daripada hanya membacanya saja. Kecuali Anda memiliki ingatan fotografik, hampir semua yang pernah kita baca pasti kita lupakan – jadi jika kita membaca sesuatu dengan nada, kita akan lebih mungkin mengingatnya.

Jadi, jika Anda ingin membaca sutra; sutra apapun itu, daripada hanya membaca saja, nyanyikan sutra tersebut. Nyanyikan terus-menerus dan diulang-ulang. Lebih sering Anda mengulanginya, Anda akan lebih memahami dan menyadari tujuannya. Dengan menyanyikan sutra, kita bisa lebih berfokus dan konsentrasi pada apa yang dibaca sehingga isi sutra lebih mudah diingat. Tentu saja menyanyikan sutra memakan waktu lebih lama, tapi tentunya akan lebih berarti dalam artian Anda akan lebih mengingat, memahami, dan menyadari isi sutra tersebut.

Menyanyikan sutra dan mantra juga bisa dilakukan dalam terjemahan sutra berbahasa Indonesia, dibandingkan hanya pada sutra berbahasa Mandarin, Sanskerta, Tibet, dll. Memang sutra yang dibaca dalam bahasa Sanskerta dan sebagainya terdengar lebih merdu, hal ini karena setiap karakter adalah suku kata. Sebaliknya dalam bahasa Indonesia, sama seperti bahasa Inggris, terdapat banyak suku kata dalam satu kata, sehingga kedengarannya “putus-putus”. Akan tetapi, tidak masalah sutra berbahasa apa yang Anda nyanyikan, yang penting adalah pemahaman dan kesadaran Anda mengenai makna-makna di balik setiap kata dalam sutra dan mantra, sehingga bisa Anda aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.