Kerukunan dari Sudut Pandang Buddhisme

Y.M. Bhikkhu Thanavaro Maha Thera, B.A., M.Ed.

– Ketua 1 SAGIN

– Kepala Vihara Sakyamuni Buddha – ITBC Cemara Asri


TIDAK bisa dipungkiri bahwa, pada akhir-akhir ini, ketidak-rukunan yang terpicu karena bangkitnya fanatisme keagamaan sifat egoisme menghasilkan berbagai ketidakharmonisan di tengah-tengah hidup dan kehidupan bermasyarakat.

Oleh sebab itu, kita perlu menjadikan diri sebagai manusia yg taat dalam mempraktekan ajaran namun berwawasan terbuka, toleran, dan rukun.

Di samping itu, hal-hal lain seperti pembangunan tempat ibadah, ikon-ikon atau lambang keagamaan, seringkali menjadi faktor masalah dalam  hubungan antar umat beragama.

Jika semua bentuk pembedaan serta ketidaknyamanan itu dipelihara dan dibiarkan oleh masing-masing tokoh dan umat beragama, maka akan merusak hubungan antar manusia, kemudian merasuk ke berbagai aspek hidup dan kehidupan. Misalnya, masyarakat mudah terjerumus ke dalam pertikaian berdasarkan agama (di samping perbedaan suku, ras dan golongan).

Untuk mencegah semuanya itu, salah satu langkah yang penting dan harus terjadi adalah menciptakan kerukunan umat beragama.

Suatu bentuk kegiatan yang harus dilakukan oleh semua pemimpin dan umat beragama.

Nah bagaimana kerukunan itu sendiri jika dipandang dari sudut pandang Buddhisme?

Dalam Saraniyadhamma Sutta Sang Buddha menguraikan tentang Kerukunan, sebagai berikut:

Pada suatu ketika Sang Bhagava berdiam di Jetavana, arama milik hartawan Anathapindika, di dekat kota Savatthi. Saat itulah Sang Bhagava memanggil para bhikkhu, ”Wahai para Bhikkhu!” ”Baik, Yang Mulia,” sahut para bhikkhu kepada Sang Bhagava. Sang Bhagava lalu membabarkan sutta ini.

”Duhai para Bhikkhu, terdapat enam hal yang membuat untuk saling mengenang, saling mencintai, saling menghormati; menunjang untuk saling menolong, menghindari pertengkaran, tercapainya kerukunan, dan persatuan. Apakah keenam hal itu?”

”Duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu memiliki perbuatan yang disertai dengan cinta-kasih terhadap sesama brahmacari, baik di depan ataupun di belakang mereka. Inilah yang membuat untuk saling mengenang, saling mencintai, saling menghormati; menunjang untuk saling menolong, untuk menghindari pertengkaran, tercapainya kerukunan, dan persatuan.”

”Satu hal lagi, duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu memiliki ucapan yang disertai dengan cinta-kasih terhadap sesama brahmacari, baik di depan ataupun di belakang mereka. Inilah yang membuat untuk saling mengenang, saling mencintai, saling menghormati; menunjang untuk saling menolong, untuk menghindari pertengkaran, tercapainya kerukunan, dan persatuan.”

”Satu hal lagi, duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu memiliki pikiran yang disertai dengan cinta-kasih terhadap sesama brahmacari, baik di depan ataupun di belakang mereka. Inilah yang membuat untuk saling mengenang, saling mencintai, saling menghormati; menunjang untuk saling menolong, untuk menghindari pertengkaran, tercapainya kerukunan, dan persatuan.”

”Satu hal lagi, duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu berbagi catupaccaya (empat kebutuhan pokok) yang diterima, sebagai sesuatu yang pantas, yang diperoleh dengan cara yang pantas, meskipun barang dua tiga suap makanan; menggunakannya sebagai milik bersama dengan sesama brahmacari pelaksana sila.  Inilah yang membuat untuk saling mengenang, saling mencintai, saling menghormati; menunjang untuk saling menolong, untuk menghindari pertengkaran, tercapainya kerukunan, dan persatuan.”

”Satu hal lagi, duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu memiliki kesamaan dalam pelaksanaan sila (moralitas) dengan sesama brahmacari, baik di depan ataupun di belakang mereka; sebagai pelaksana sila yang tidak terputus-putus, yang tidak berlobang, yang tidak belang, yang tak ternoda di sana sini, yang mengatasi, yang dipuji para bijaksana, yang tak disertai dengan tanha dan pandangan salah, yang dilaksanakan demi (pengembangan) samadhi.  Inilah yang membuat untuk saling mengenang, saling mencintai, saling menghormati; menunjang untuk saling menolong, untuk menghindari pertengkaran, tercapainya kerukunan, dan persatuan.”

”Satu hal lagi, duhai para Bhikkhu, di Ajaran ini, seorang bhikkhu memiliki kesamaan dalam pemegangan pandangan benar (sammaditthi) dengan sesama brahmacari, baik di depan ataupun di belakang mereka; yang luhur, yang menjadi pembimbing, pembimbing pelaksana ke akhir dukkha secara benar. Inilah yang membuat untuk saling mengenang, saling mencintai, saling menghormati; menunjang untuk saling menolong, untuk menghindari pertengkaran, tercapainya kerukunan, dan persatuan.”

”Duhai para Bhikkhu, inilah enam hal yang membuat untuk saling mengenang, saling mencintai, saling menghormati; menunjang untuk saling menolong, untuk menghindari pertengkaran, tercapainya kerukunan, dan persatuan.”

Demikianlah inti dari Saraniyadhamma Sutta, semoga dengan keteguhan pikiran kita benar-benar dapat merealisasikan isi dari sutta ini dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan demikian, kerukunan dalam komunitas benar-benar dapat terhujud.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.