Kesalahan

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa terlepas dari apa yang namanya kesalahan. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Baik kesalahan kecil, sedang, maupun kesalahan yang besar. Apa sebenarnya kesalahan itu? Mengapa kita selalu melakukan kesalahan? Bagaimana menghadapi kesalahan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat lah mendasar. Namun sangat jarang sekali orang mau mempertanyakannya.

Mari kita lihat terlebih dahulu apa sebenarnya kesalahan itu. Secara naluriliah kita cenderung memandang kesalahan sebagai sesuatu yang negatif, sesuatu yang perlu dihindari, sesuatu yang merugikan, sesuatu yang buruk dan masih banyak lagi pandangan-pandangan negatif  lainnya mengenai kesalahan.

Kesalahan artinya tindakan yang salah (tidak benar). Sebenarnya kesalahan tidak lah seburuk yang kita pikirkan. Tanpa kesalahan, kita tidak bisa menemukan hal yang benar karena begitu banyaknya pilihan.  Bayangkan jika kita diberi 5 pilihan. Dan hanya ada 1 pilihan yang benar dari kelima pilihan ini. Dengan demikian, tentu saja kita memiliki peluang 20% untuk memilih benar .  Seandainya kita tidak diberi kesempatan untuk berbuat salah, maka kemungkinan besar selamanya kita tidak bisa benar. Sebaliknya, jika kita diberi kesempatan tak terhingga untuk berbuat salah , maka suatu saat kita pasti menemukan jawaban yang benar. Dari contoh di atas, jika kita menjawab salah pada kesempatan pertama, maka peluang kita untuk benar menjadi 25%. Jika masih salah lagi, peluang kita untuk benar menjadi 33.33%. Begitu seterusnya, semakin banyak kesalahan yang kita perbuat, maka peluang kita untuk benar semakin tinggi. Ini adalah hukum alam. Namun kita sering mengabaikannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak dilarang untuk berbuat salah. Tidak ada batasan bagi kita untuk berbuat salah. Artinya kita diberi kesempatan tak terhingga untuk melakukan kesalahan. Perlu dicatat bahwa perbuatan salah belum tentu merupakan perbuatan yang tidak baik. Sebaliknya perbuatan baik pasti lah merupakan perbuatan yang tidak salah. Jadi, jangan ragu-ragu untuk berbuat salah selagi perbuatan kita baik.

Namun, yang sering terjadi adalah orang memandang kesalahan sebagai perbuatan yang merugikan. Sehingga dia tidak belajar dari kesalahan. Akibatnya dia bakal melakukan kesalahan yang sama nantinya. Dirinya tidak akan berkembang dan statis.

Sebaliknya ada sebagian orang yang memandang kesalahan sebagai sebuah pelajaran. Dia akan mecatat semua kesalahan hari ini dan mempelajarinya. Dengan begitu, dia menjadi jelas akan hal-hal yang salah dan kelak tidak akan terulang kembali kesalahan yang sama. Sehingga peluangnnya untuk benar menjadi semakin bertambah. Begitu lah cara orang bijaksana belajar dari kesalahan. Orang ini akan berkembang menjadi orang yang bijaksana.

Tentu saja, kesalahan ini harus kita hindari karena sangat membuang waktu kita. Walaupun kesalahan memperbesar peluang kita untuk benar, akan jauh lebih baik dan lebih bijaksana jika kita bisa melakukan perbuatan yang benar tanpa melakukan kesalahan atau dengan melakukan kesalahan sekecil-kecilnya. Bagaimana kah caranya?

Prinsipnya sangat sederhana yaitu dengan mempelajari kesalahan-kesalahan orang lain sebelum kita melakukan kesalahan yang sama dengannya. Hal ini sama halnya dengan saat kita memanfaatkan tabel periodik kimia, tentu saja kita tidak perlu menemukan sendiri zat-zat kimia itu, menimbang sendiri, atau bahkan mengukurnya sendiri. Yang perlu kita dilakukan hanya lah mempelajari bagai mana cara menggunakan tebel ini. Ukuran, struktur dan massanya sudah ada semuanya. Dan kita tinggal menggunakannya. Hasil yang diperoleh akan sama atau bahkan lebih baik  dibanding dengan jika kita menemukan dan mengukur sendiri zat ini. Prinsip inilah yang dipakai untuk mengurangi kesalahan kita. Kelemahan dari prinsip ini adalah kita sering lupa karena itu adalah pengalaman orang lain. Jadi, kembali kepada diri kita sendiri mau menggunakan prinsip yang mana.

 

Sumber: Majalah BVD No. 115/BVD/Juni/2008