Kisah Dua Bibit

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku”. Dan bibit itupun tumbuh makin menjulang.

Bibit kedua bergumam, “Aku takut, jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu apa yang akan kutemui di dalam sana. Bukankah di sana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku pasti akan terkoyak.”

“Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha mencabutku dari tanah. Tidak. Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.” Dan bibit itupun menunggu dalam kesendiriannya. Beberapa pekan kemudian seekor ayam mencari makan di tanah itu, menemukan bibit kedua tadi dan mencaploknya segera.

Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan memang mempunyai resiko. Terjemahkanlah resiko dalam arti yang positif : TANTANGAN. Bibit pertama berani menghadapi setiap TANTANGAN dalam upayanya mewujudkan cita-cita : MERASAKAN HANGATNYA SINAR MENTARI dan LEMBUTNYA EMBUN PAGI. Bibit kedua menunggu sampai keadaan ”benar-benar aman”, padahal keadaan itu tak mungkin ada, hingga pada akhirnya berakhir pada caplokan seekor ayam. Ia bahkan belum pernah tahu apa itu mentari dan embun pagi.

 

Sumber: Majalah BVD No. 137, Agustus 2011