Kisah Ratu Upari

Pada saat ketika Bodhisattva terlahir sebagai seorang pertapa dengan kekuatan batin (abhinna), terdapat seorang Ratu bernama Upari. Ia merupakan pasangan Raja Assaka, yang ketika itu memerintah negeri Kasi dengan ibukotanya Patali. Raja-raja masa lampau sering memilih gadis-gadis paling cantik untuk menjadi ratu mereka. Oleh sebab itulah para ratu lebih terkenal akan kecantikan dan kejelitaannya. Akan tetapi, Ratu Upari ini memiliki kecantikan yang bahkan jauh melampaui seluruh gadis jelita yang berkumpul dari seluruh penjuru negeri. Demikianlah, tak heran bahwa Raja terpesona dan akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Upari.

Sayangnya, Ratu Upari tiba-tiba meninggal dunia pada saat dia masih populer di kalangan rakyat dan juga pada masa puncak keelokannya. Dalam kebudayaan Burma, terdapat ungkapan “pergi ke tempat tinggal makhluk surgawi” yang artinya meninggal dunia bagi orang berkedudukan tinggi. Begitu juga, ungkapan “terbang kembali” artinya meninggal dunia bagi seorang biksu Buddhis. Akan tetapi, di mana kita akan lahir selanjutnya tidaklah tergantung pada status dan kedudukan kita seperti yang disebutkan dalam ungkapan ini, melainkan dipengaruhi oleh karma kita masing-masing. Ternyata, Ratu Upari ini terlahir kembali menjadi seekor kumbang betina, meskipun ungkapan menyatakan bahwa ia akan terlahir di alam dewa.

Ketika Ratu kesayangannya meninggal dunia, Raja Assaka pun dikuasai rasa sedih yang luar biasa. Sampai-sampai ia memerintahkan agar jasad Ratu dibalsem dengan minyak-minyak, dmasukkan ke dalam peti kaca dan diletakkan di samping tempat tidurnya. Saking sedihnya, Raja hanya bisa berbaring tanpa makan dan tidur, setiap hari menangisi dan meratapi kematian ratu kesayangannya. Meskipun para menteri sudah berusaha membujuk dengan mengatakan bahwa semua hal pada dasarnya tidak akan bertahan selamanya dan sang Ratu cepat lambat juga akan meninggal dunia, tetap saja Raja tidak mendengarkan.

Jasad di dalam peti kaca karena sudah dibalsem dengan minyak, tetap akan bertahan lama seperti layaknya diawetkan dengan bahan-bahan kimia pada masa kini. Karena itulah, Ratu Upari akan selalu terlihat seolah-olah sedang tidur dalam peti kacanya di hadapan mata sang Raja. Pemandangan inilah yang menyebabkan sang Raja terus menerus merasa sangat sedih selama 7 hari lamanya.

Pada saat itulah, Bodhisattva yang terlahir menjadi pertapa di kehidupan tersebut kebetulan sedang mencermati keadaan dunia menggunakan kekuatan batinnya dari hutan-hutan di Himalaya. Beliau melihat keadaan Raja Assaka, dan menyadari bahwa hanya dirinya yang mampu menghilangkan kesedihan Raja. Oleh karena itu, Beliau segera terbang ke taman istana kerajaan dengan menggunakan kekuatan batinnya.

Bodhisattva kemudian disambut seorang brahmana muda, dan menanyakan tentang keadaan Raja Assaka. Pria muda tersebut menceritakan bagaimana sang Raja makin hari makin tenggelam dalam rasa sedihnya, dan memohon Bodhisattva untuk menyelamatkan sang Raja. Bodhisattva kemudian membalas mengatakan bahwa meskipun Beliau tidak mengenal sang Ratu semasa hidupnya, ia dapat memberitahukan bagaimana keadaan sang Ratu sekarang.

Selanjutnya, pria muda tersebut segera menemui sang Raja dan mengatakan, “Yang Mulia, seorang pertapa dengan mata dan telinga berkekuatan gaib telah tiba di depan istana kerajaan. Beliau mengatakan bahwa ia mengetahui dan bisa menunjukkan bagaimana keadaan Yang Mulia Ratu sekarang. Tentunya tidak ada salahnya pergi menjumpainya, Yang Mulia.”

Setelah mendengar bahwa sang pertapa bisa menunjukkan kepadanya di mana sang Ratu sekarang dilahirkan kembali, sang Raja pun bergegas menemuinya. Setelah memberikan penghormatan, Raja berkata, “Pertapa yang terhormat, benarkah Anda mengatakan bahwa Anda bisa mengetahui bagaimana kehidupan Ratu Upari sekarang?” Saat sang pertapa mengkonfirmasi, sang Raja langsung ingin mengetahui di mana ratunya dilahirkan kembali.

KLIK UNTUK BACA SELANJUTNYA –>