Kisah Tiga Vas

Oleh : Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya

Dharma ajaran Guru Buddha amatlah berharga dan merupakan karma baik bilamana kita mampu mendengarkannya.

Namun kondisi ini tak seindah apa yang kita bayangkan. Dalam berbagai kesempatan, masih ada beberapa dari kita yang berkesempatan mendengarkan Dharma, baik melalui biksu sangha, pandita atau pun pembicara yang relevan, ternyata menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Dalam suatu kesempatan, salah seorang Guru Dharma kami, Biksu Nyanapada Mahasthavira, pernah menjelaskan tentang hal ini. Beliau mengutip nasihat seorang guru besar praktisi Tantrayana, bahwa ada 3 kondisi yang kerap terjadi pada saat kita mendengarkan Dharma ajaran Buddha.

Pertama, kondisi bagaikan vas telungkup/terbalik. Artinya meski kita berkesempatan mendengarkan Dharma yang agung dan mulia, namun kita malah menutup diri, merasa sudah cukup pintar dan sok tahu. Ini tentunya bukan sikap yang baik. Buddha senantiasa mengajarkan kita untuk senantiasa berlatih diri, termasuk belajar. Meskipun kita sudah mengetahui, sadarlah, bahwa pengetahuan kita tersebut juga sangat kondisional. Apa yang kita pelajari saat ini belum tentu sama dengan keesokan hari, meskipun topiknya sama. Selalu ada hal yang berubah.

Seseorang yang merasa cukup dan sok tahu maka ia akan menutup dirinya untuk hal yang baru. Kita lihat Bodhisattwa Sidharta, ia senantiasa belajar terus dengan berbagai guru besar, sebelum memutuskan untuk meninggalkan istananya. Ia meraup segala macam metode dari para praktisi spiritual saat itu, sehingga mendukung proses kematangan kebijaksanaan-Nya sebagai manusia saat itu.

Kedua, kondisi bagaikan vas yang bocor, maka apapun yang masuk akan keluar. Kondisi seperti ini terjadi bilamana kita berkesempatan mendengarkan Dharma namun tidak menanggapinya dengan serius atau bahkan menganggap tidak penting. Maka semua yang didengarkan akan menjadi hilang tak berbekas.

Saat mendengarkan Dharma hendaknya kita bersikap tulus dan penuh keseriusan. Jikalau perlu, agar jangan lupa, sediakan catatan atau alat perekam sehingga apa yang disampaikan oleh Guru Dharma, dapat selalu kita ingat dan praktikkan.

Saat ini, kesempatan untuk mendengarkan Dharma, banyak sekali, baik itu di wihara, cetiya, Buddhis Center, hotel, atau balai pertemuan. Ini merupakan berkah besar buat kita. Namun sayang, yang hadir juga sebagian dan hanya sekedar datang untuk meramaikan suasana. Lalu saat ceramah Dharma berlangsung malah sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Sayang sekali jika berkah baik ini disia-siakan.

Ketiga, kondisi bagaikan vas yang berisi air yang mengandung racun. Pada kondisi ini, meskipun ada kesempatan untuk mendengarkan Dharma, namun Dharma yang begitu agung dan mulia menjadi tak berharga. Mengapa? Karena saat mendengarkan Dharma, sudah menggunakan persepsi sendiri. Ini sangat berbahaya karena ia seolah mengartikan Dharma sebatas apa yang dia ketahui, bukan yang sebenarnya. Jika ini terjadi, bukan tidak mungkin ada orang lain yang mengikuti alur pemikiran yang kurang tepat itu. Jika demikian maka akan terjadi pandangan salah. Sungguh besar resiko negatifnya, bukan?

Dari tiga kondisi yang dipaparkan di atas, adakah itu terjadi pada diri kita? Jika ada, bagaimana kita harus bersikap untuk merubahnya? Intinya, Dharma ajaran Guru Buddha adalah tak ternilai harganya. Membutuhkan karma kebajikan yang cukup untuk bisa menikmatinya dalam suasana bathin yang tenang dan penuh hormat. Jika demikian, maka kondisi dari 3 vas tersebut, tidak akan pernah terjadi dalam hidup kita.

(Artikel ini telah diterbitkan di Harian SIB, tanggal 21 September 2019)