Know, and Control Yourself

Melihat ke belakang, seakan tak habis digali. Melihat ke depan, seperti tanpa batas berkreasi.

Sebuah kalimat seorang seniman yang saya dengar jelas tapi tak bersandar kuat namanya di telinga ini.

Pada kehidupan ini, saya dilahirkan di sebuah keluarga sederhana di tengah padatnya pemukiman penduduk di tengah kota Jakarta. Ya, hiruk pikuk bahkan sangat jelas terdengar jika saat itu tangisan saya tidak memenuhi ruangan rumah sakit tempat ibu melahirkan saya di tengah malam, tepat tanggal 8 Desember 1987 waktu itu.

Saat itu, perasaan saya lebih tinggi daripada kesadaran pengetahuan yang ada. Itulah mengapa saya menangis tanpa mengkhawatirkan apapun, siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Dan saya menangis keras mungkin bukan karena lapar, mungkin juga bukan karena malu karena tidak mengenakan baju, dan segala kemungkinan yang ada.

Beberapa ahli kandungan berkata bahwa saya menangis karena mengkhawatirkan oksigen yang seakan ingin habis di dalam paru-paru yang kecil ini. Beberapa ahli spiritual mengatakan bahwa saya menangis karena penderitaan yang akan dihadapi selama menjalani kehidupan nanti. Ya, hidup itu adalah lautan yang penuh dengan penderitaan, karena kita harus melewati fase lahir, sakit, tua, dan mati.

Dan beberapa ahli kehidupan mengatakan bahwa saya menangis karena adanya ketidakmampuan dalam mengatur organ-organ tubuh untuk tertawa bahagia karena telah terlahir sehat dan tanpa cacat. Tertawa pun perlu manajemen organ tersendiri ya? Hehehe…

Know, and Control Yourself
Know, and Control Yourself

Dan apapun itu pandangannya, yang pasti, saat itu saya memiliki kesadaran yang rendah akan hidup ini. Wajar saja, namanya juga masih, bayi… Singkat waktu, saya pun bertumbuh sejajar dengan tumbuhnya perasaan dan pengetahuan yang ada. Hal ini pastinya juga kita pelajari bersama, seperti saat duduk di bangku taman kanak-kanak, berlanjut ke sekolah dasar (SD), lalu sekolah menengah pertama (SMP), kemudian sekolah menengah umum (SMU), bahkan hingga kulliah sarjana satu dan sarjana dua.

Setiap waktu itu memberikan kita sebuah pengetahuan tersendiri, sehingga kita bisa membedakan mana yang baik atau yang buruk yang bisa berdampak pada kehidupan kita masing-masing.

Pernahkah kita mendengarkan sebuah ocehan “Kenapa sih kamu seperti anak-anak? Marah tanpa alasan yang jelas!”

Ya betul, hal itu terjadi karena unsur perasaan yang sangat mendominasi dalam pembuatan keputusan, yang dalam hal ini keputusannya adalah berupa kata-kata yang diucapkan oleh orang tersebut. Dalam dunia bekerja, dikenal dengan kata subyektif dan obyektif. Subyektif adalah pandangan yang didominasi oleh emosi yang ada di dalam diri, perasaan adalah dominannya. Sedangkan obyektif adalah pandangan yang didominasi oleh pengetahuan yang membentuk terjadinya permasalahan yang ada. Jika ada dua orang yang Anda baru kenal dan ingin Anda jadikan akrab, kira-kira, orang yang tipikal subyektif atau yang tipikal obyektif kah yang ingin anda pilih?

Musuh terbesar adalah diri sendiri – Kwan Yin Phu Sak

Diri sendiri dalam hal ini adalah segala yang ada di dalam tubuh ini, yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang berwujud maupun yang tidak berwujud.

Saat emosi mulai membakar, terkadang kesadaran pun menurun, pengetahuan pun tertutup rapat. Seringkali datang penyesalan sesaat setelah emosi tersebut terlampiaskan. Apakah Anda pemah merasakannya?

Pesan saya, sesaat emosi sedang mendominasi diri, injak rem sekencang-kencangnya dan buatlah tubuh ini menjadi diam membisu. Lalu bawalah diri Anda ke tempat yang nyaman yang Anda suka atau pergilah ke restoran tempat makanan favorit Anda berada.

Setelah tubuh menjadi netral kembali, coba analisa masalah yang baru Anda alami dengan kesadaran pengetahuan yang sesuai. Jika masih kesulitan, temuilah orang bijaksana untuk memberikan pandangan yang lebih luas.

Semoga torehan kata-kata yang saya bagikan bisa menambahkan hal positif di dalam hidup Anda sekalian. Namo Buddhaya.

 

Sumber: Majalah Swara Dhammasena Edisi Pertama