Ksitigarbha: Bodhisattva Alam Neraka

Ksitigarbha merupakan seorang Bodhisattva yang terkenal dalam Buddhisme Mahayana. Di Tiongkok, ia bernama Dayuan Dizang Pusa (atau Ti Tsang P’usa), sementara di Tibet, ia adalah Sa-E Nyingpo dan di Jepang ia terkenal dengan nama Jizo. Ksitigarbha merupakan salah satu bodhisattva yang paling populer, khususnya di Asia Timur, di mana orang-orang sering berdoa kepadanya untuk menuntun dan menjaga anak-anak yang sudah meninggal.

Ksitigarbha terutama terkenal sebagai bodhisattva alam neraka, meskipun ia juga berkunjung ke alam-alam lainnya, serta merupakan penuntun mereka yang akan dilahirkan kembali.

Asal-usul Ksitigarbha

Walaupun kelihatannya Ksitigarbha berawal dari Buddhisme Mahayana awal di India, sama sekali tidak ada representasi awal darinya pada waktu itu. Baru pada abad ke-5 lah, popularitas Ksitigarbha mulai berkembang di Tiongkok.

Kisah-kisah dalam agama Buddha mengatakan bahwa pada masa seorang Buddha sebelum Buddha Sakyamuni, terdapat seorang gadis muda yatim dari kasta Brahmana. Ibu gadis itu semasa hidup sering memfitnah ajaran Buddha, sehingga si gadis takut ibunya telah terlahir di alam neraka. Gadis tersebut pun tanpa lelah terus berbuat baik agar jasanya dapat dilimpahkan kepada ibunya.

Menurut Sutra tentang Tekad Agung dan Pencapaian Pahala Bodhisatta Ksitigarbha, pada akhirnya, raja akhirat muncul di hadapan gadis itu dan membawanya ke alam neraka untuk melihat ibunya. Sedangkan dalam kisah-kisah lain, Sang Buddha yang menjumpainya. Bagaimanapun peristiwa ini terjadi, gadis itu dibawa ke alam neraka, di mana seorang penjaga neraka memberitahunya bahwa perbuatan bakti yang dilakukan memang benar telah membebaskan ibunya, sehingga akhirnya dilahirkan kembali ke alam yang lebih menyenangkan.

Akan tetapi, gadis tersebut juga melihat terdapat tak terhitung banyaknya makhluk lain yang menderita di alam neraka, dan bersumpah untuk membebaskan mereka semua. “Jika saya tidak ke neraka untuk menolong semua makhluk yang menderita di sini, siapa lagi yang akan melakukannya?” kata gadis itu. “Saya tidak akan menjadi Buddha sebelum semua neraka kosong. Hanya saat semua makhluk sudah terselamatkan, baru saya memasuki Nirvana.”

Karena sumpah ini lah, Ksitigarbha dikaitkan dengan alam neraka, tapi tujuannya adalah untuk mengosongkan semua alam kehidupan.

Ksitigarbha dalam ikonografi

Khususnya di Asia Timur, Ksitigarbha sering digambarkan sebagai seorang bhikkhu sederhana. Ia berkepala botak dan mengenakan jubah bhikkhu, dengan kaki yang terlihat, menandakan bahwa ia akan pergi ke mana pun ia dibutuhkan. Ia memegang sebuah permata pengabul permintaan di tangan kiri, serta di tangan kanan memegang sebuah tongkat dengan enam cincin terpasang di bagian atas. Keenam cincin ini mewakili kekuasaannya di Enam Alam, atau menurut beberapa sumber, penguasaannya terhadap Enam Kesempurnaan. Ia juga terkadang dikelilingi oleh api dari alam neraka.

Bodhisattva Ksitigarbha sebagai bhikkhu biasa, dikelilingi oleh api neraka

Di Tiongkok, Ksitigarbha kadang-kadang dilukiskan mengenakan jubah berhias dan duduk di atas singgasana bunga teratai. Ia mengenakan mahkota “lima daun” atau mahkota yang memiliki 5 bagian, dengan masing-masing bagian adalah gambar Lima Dhyani Buddha. Ia masih memegang permata pengabul permintaan dan tongkat bercincin enam, dengan setidaknya satu kaki terlihat.

Di Tiongkok, Bodhisattva Ksitigarbha terkadang ditemani oleh seekor anjing. Hal ini merujuk kepada sebuah kisah yang mengatakan bahwa ia menemukan ibunya terlahir di alam binatang sebagai seekor anjing, yang kemudian diadopsi oleh Bodhisattva.

Bodhisattva Ksitigarbha memakai mahkota dengan gambar Lima Dhyani Buddha, dan ditemani oleh seekor anjing

Bakti kepada Ksitigarbha

Melaksanakan bakti kepada Ksitigarbha bisa dilakukan dalam berbagai bentuk. Di Jepang, banyak didirikan patung batu Jizo, seringkali dalam kelompok-kelompok, di sepanjang pinggir jalan dan kuburan. Patung-patung ini didirikan atas nama fetus yang keguguran atau aborsi, atau bayi yang lahir mati, serta juga untuk anak-anak yang telah meninggal. Patung-patung Jizo sering mengenakan celemek bayi atau pakaian anak-anak. DI Jepang, Bodhisattva Ksitigarbha juga dikenal sebagai pelindung orang yang sedang bepergian, ibu-ibu hamil, serta para pemadam kebakaran.

Patung Jizo di sepanjang jalan

Di seluruh Asia, terdapat banyak mantra yang dilafalkan untuk berdoa kepada Ksitigarbha, kerapkali untuk menghindar dari bahaya. Beberapa di antaranya cukup panjang, tapi inilah mantra pendek dari aliran Buddhisme Tibet yang dapat mengenyahkan rintangan-rintangan:

Om ah Kshiti Garbha thaleng hum.

Mantra-mantra Bodhisattva Ksitigarbha juga sering dilafalkan oleh orang-orang yang menderita penyakit parah dan masalah keuangan.