Kuhaka Jataka: Jerami yang Lebih Berharga Daripada Emas

Kisah ini diceritakan oleh Sang Buddha mengenai kehidupan masa lalu seorang bhikkhu penipu, yang merupakan sumber dari segala masalah bagi bhikkhu-bhikkhu lainnya, di Jetavana.

Pada zaman dahulu kala, ketika Brahmadatta sedang memerintah di Baranasi, seorang petapa licik dengan rambut panjang dan kusut tinggal dekat dengan sebuah desa kecil. Sang tuan tanah membangun sebuah tempat pertapaan kecil di hutan untuknya, serta sehari-hari menyediakan makanan enak bagi petapa itu di rumahnya sendiri.

Si tuan tanah takut sekali akan pencuri dan memutuskan bahwa cara terbaik untuk melindungi hartanya adalah dengan menyembunyikannya di tempat yang paling tak mungkin. Karena yakin bahwa petapa berambut kusut itu adalah seorang teladan yang baik dan suci, ia pun membawa seratus keping emas ke tempat pertapaan di hutan, menguburkannya di sana, dan meminta si petapa untuk menjaga hartanya.

Emas milik sang tuan tanah

“Tuan, tak ada lagi yang perlu Anda katakan kepada saya – seorang pria yang telah meninggalkan segala nafsu duniawi. Kami para petapa tidak akan pernah mengambil apa yang merupakan milik orang lain.”

“Baguslah,” kata si tuan tanah, yang selanjutnya pergi dari sana dengan penuh keyakinan akan semua perkataan petapa tersebut.

Segera setelah si tuan tanah menghilang dari pandangan mata, si petapa langsung tertawa terkekeh-kekeh dan berpikir, “Wow, harta ini cukup banyak untuk menghidupi seseorang seumur hidupnya!”

Sesudah menunggu beberapa hari untuk lewat, si pertapa pun menggali semua emas tersebut kembali dan menguburkannya di pinggir jalan. Keesokan paginya, setelah memakan nasi dan kari yang banyak di rumah sang tuan tanah, si petapa berkata, “Tuanku yang baik, saya telah tinggal di sini, disokong oleh Anda, selama waktu yang lama. Terus-terang, hidup begitu lama di satu tempat sama dengan memenuhi nafsu duniawi, yang pantang bagi seorang petapa seperti saya. Saya tidak boleh tinggal lebih lama di sini lagi; sudah waktunya bagi saya untuk pergi.”

Si tuan tanah meminta petapa tersebut untuk tetap tinggal, tapi tidak ada lagi yang bisa mematahkan tekad si petapa.

“Baiklah,” kata tuan tanah, “jika kamu harus pergi, saya doakan kamu semoga beruntung.” Dengan berat hati, ia mengantar si petapa hingga ke pinggiran desa dan kembali ke rumah selanjutnya.

Setelah berjalan sebentar, si petapa tiba-tiba berpikir bahwa ada bagusnya juga kalau ia menipu si tuan tanah sekai lagi. Ia menyelipkan sebuah jerami di rambut kusutnya, lalu berlari kembali ke desa.

“Kenapa kamu kembali lagi?” tanya si tuan tanah yang terkejut.

“Saya baru menyadari ada jerami dari atap Anda yang tersangkut di rambut saya. Kami para petapa tidak boleh mengambil apapun yang tidak diberikan kepada kami, jadi saya kembalikan jerami ini kepada Anda.”

Si petapa penipu mengembalikan jerami

“Buang saja, Tuan, dan silahkan lanjutkan perjalananmu,” kata si tuan tanah. Kemudian, pikirnya kepada diri sendiri, “Bayangkan! Petapa ini begitu jujurnya sampai-sampai tidak mau mengambil jerami yang bukan miliknya. Benar-benar manusia yang langka!” Oleh karena itu, karena terkesan dengan kejujuran si petapa, tuan tanah menyampaikan selamat tinggal kepadanya sekali lagi.

Pada saat itu, Bodhisatta terlahir sebagai seorang pedagang yang berkelana ke batas negara untuk berbisnis, dan kebetulan singgah di desa kecil tersebut. Di sana, ia menyaksikan kembalinya si petapa untuk menyerahkan balik sepotong jerami. Saat itu, ada rasa curiga dalam benaknya bahwa si petapa pasti sudah mencuri sesuatu dari si tuan tanah. Ia lalu menanyakan pria kaya tersebut apakah ia ada menitipkan apapun kepada si petapa.

“Ada,” jawab si tuan tanah dengan agak ragu-ragu, “seratus keping emas.”

“Baiklah, bagaimana jika kamu ke sana sekarang dan lihat apakah emasmu masih aman?” saran si pedagang.

Kemudian, tuan tanah pun pergi ke tempat pertapaan yang sudah ditinggalkan, menggali di tempat di mana ia meninggalkan uangnya, dan menemukan bahwa semua sudah hilang. Sambil berlari-lari kembali, ia berseru kepada si pedagang, “Emasnya tidak ada di sana!”

“Pencurinya pasti petapa jahat berambut panjang itu,” kata pedagang. “Mari tangkap dia.”

Kedua pria itu lalu berlari mengejar pencuri tersebut dan dengan cepat menangkapnya. Kemudian, mereka menendang dan memukulnya hingga ia mengatakan di mana emas si tuan tanah disembunyikan. Setelah mereka mendapatkan uang milik si tuan tanah kembali, si pedagang memandang koin-koin tersebut dan bertanya kepada si petapa dengan penghinaan, “Kenapa ratusan keping emas ini tidak membebani hati nuranimu dengan berat layaknya jerami yang tadi? Berhati-hatilah kamu yang munafik, jangan pernah melakukan ini lagi.”

Setelah hidupnya berakhir, si pedagang terlahir kembali sesuai dengan hasil karmanya.

Ketika Beliau mengakhiri kisah ini, Sang Buddha berkata, “Demikianlah yang bisa dilihat, para bhikkhu, bahwa bhikkhu ini juga pada kehidupan sekarang sama liciknya dengan kehidupannya yang lampau.” Setelah itu, Sang Buddha menghubungkan kedua kehidupan ini dengan mengatakan, “Bhikkhu ini adalah si petapa penipu pada masa lampau, dan Saya adalah pedagang yang baik dan bijaksana.”